Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Bedah Buku Pu Gajah Mada, Menyibak Pembelokan Sejarah Era Kolonial (9)

Tak Singgung Ahli Hukum

14 September 2019, 14: 03: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

agus sunyoto pu gajah mada

DIALOG: Agus Sunyoto memberikan paparan dalam acara bedah buku Pu Gajah Mada di kantor Jawa Pos Radar Kediri (4/9). (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

Agus Sunyoto sempat  kesulitan mengumpulkan data otentik terkait Sumpah Amukti Palapa yang dilontarkan Gajah Mada. Sebab tak didukung fakta memadai.

Banyaknya versi cerita yang membahas Gajah Mada membuat Agus Sunyoto ingin mendalami perjalanan dan kisah hidupnya. Tentu pendalaman materi tersebut diawali dengan pengumpulan data primer, sekunder, dan tersier.

Selama ini, Gajah Mada selalu mengingatkan orang pada Sumpah Amukti Palapa, pemberontakan Ra Kuti, persekongkolan jahat Mahapati dan penaklukan Nusantara. Termasuk cerita perang berdarah di Alun-alun Bubat membuat Gajah Mada menjadi sosok yang selalu unggul dalam pertempuran mengalahkan lawan-lawannya.

Semua itu, menurut Agus Sunyoto, telah melekat pada persepsi banyak orang. Sebagian besar ceritanya berasal dari Pararaton, Kidung Sunda serta histografi jenis babad. Dan hingga kini belum pernah berubah.

"Karena semua itu telah dibakukan sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah dasar hingga pendidikan tinggi," katanya.

Namun, dalam perjalanannya untuk mengumpulkan data-data tersebut, Agus Sunyoto justru kesulitan. Terutama data yang berhubungan dengan penaklukan-penaklukan sebagaimana yang dimaklumkan dalam Sumpah Amukti Palapa.

Sumpah Amukti Palapa nyaris tidak didukung data yang memadai. "Sementara Negarakertagama justru menyebut wilayah yang jauh lebih luas dari Sumpah Amukti Palapa," ungkapnya.

Termasuk sedikit membahas peran Gajah Mada dalam penaklukan-penaklukan.

Lebih lanjut, Agus Sunyoto menambahkan, selama ini data primer berupa Prasasti Gajah Mada yang menguraikan tokoh tersebut dalam penetapan Pembangunan Candi Singhasari untuk memperingati Sri Kertanegara juga tidak pernah dibahas.

"Karya besar Gajah Mada dalam menyempurnakan KUHP Majapahit Kutaramanawa Dharmasastra yang menunjukkan Gajah Mada ahli hukum pun tidak pernah disinggung," paparnya.

Termausk saat menjadi penengah pada perkara hukum di Singhasari juga demikian. Tentu hal tersebut membuat Agus Sunyoto mencoba merekonstruksi kisah hidup Gajah Mada. Dalam bentuk narasi deskriptif sebagaimanada narasi dalam era Majapahit yang dituangkan dalam bentuk Kakawin dan Kidung-Kidung.

Tentu didukung dengan data primer, sekunder, dan tersier sejarah maupun cerita-cerita legenda dari berbagai daerah yang berhubungan dengan Gajah Mada. Tetap menyertakan daftar kepustakaan dan Glosari yang berisi penjelasan tentang data pendukung sebagai bukti bahwa secara substantif bukan seutuhnya karya fiksi.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia