Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Bedah Buku Pu Gajah Mada, Menyibak Pembelokan Sejarah Era Kolonial (8)

Paparan Lebih Logis Buka Perspektif Baru

14 September 2019, 13: 32: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

diskusi buku pu gajah mada

KUAK SEJARAH: Peserta bedah buku berdiskusi di kantor Jawa Pos Radar Kediri (4/9). (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Diskusi bedah buku ‘Mahapatih Mangkubhumi Majapahit Pu Gajah Mada’ memicu banyak perspektif. Terutama demi mengenal lebih dalam sosok utamanya.

Pembelokan sejarah yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda menjadi bahasan menarik bagi banyak kalangan. Setidaknya dengan hasil penelitian baru yang dilakukan Agus Sunyoto bisa membuka banyak perspektif dalam mempelajari sejarah. Termasuk membuka wawasan akan keberadaan sosok Gajah Mada.

Menurut salah satu audiens dalam acara bedah buku di kantor Jawa Pos Radar Kediri (4/9), cerita Gajah Mada selama ini masih diragukan. Termasuk menjadi kisah yang ditengarai sebuah legenda. Dengan banyak asumsi yang berbeda-beda.

Namun, dengan pemaparan setelah bedah buku 4 September 2019 lalu, muncul pemahaman baru. “Ada perspektif baru dan berbeda dari yang sebelumnya,” kata Zainuddin, salah satu peserta bedah buku kepada koran ini.

Dari pengetahuannya selama ini, ia menyampaikan bahwa Gajah Mada merupakan sosok yang sangat tegas dan memiliki cita-cita besar dalam mempersatukan Nusantara. “Dari pemaparan Pak Agus Sunyoto, ada perspektif baru. Dan pemaparan itu lebih logis bagi suatu cerita,” ungkapnya.

Perspektif yang dia maksudkan adalah bahwa dari cerita sebelumnya, banyak yang percaya bahwa Gajah Mada merupakan sosok yang tidak terkalahkan. Namun dari pemaparan Agus Sunyoto ternyata Gajah Mada sempat kalah dalam peperangan. Itu yang menjadikannya yakin bahwa cerita yang disampaikan Agus Sunyoto lebih logis.

Dengan acara bedah buku tersebut, Zainuddin mengaku, bahwa hal ini cukup menarik bagi kalangan pencinta sejarah. Mengetahui hal baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. “Tergantung orang menyikapinya, saya pribadi tertarik,” ujar santri asal Pare tersebut.

Zainuddin menambahkan, pembelokkan sejarah yang dilakukan Belanda untuk memburamkan masa lalu Nusantara ini sangat disayangkan. Sehingga diharapkan dengan hasil penelitian dari naskah-naskah kuno yang masih tersimpan bisa menjadi acuan untuk memperjelas sejarah Nusantara yang sempat diragukan tersebut.

Agus Sunyoto mengingatkan bahwa sosok Gajah Mada sudah melekat pada bangsa Indonesia. Dan menjadi identitas bangsa ini dalam semangat persatuan. Meski selama ini wajah tokoh tersebut masih menjadi polemik banyak orang. Namun setidaknya ia menjadi identitas untuk menyemangati bangsa ini bersatu dan percaya diri di mata dunia.

”Sangat penting pengembangan pelajaran sejarah dalam kaitannya untuk membangun pengembangan karakter,” katanya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia