Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Edukasi Makanan Sehat ala Omah Japo di Desa Betet, Ngronggot

Jus Kangkung Jadi Menu Favorit Pengunjung

14 September 2019, 10: 19: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

Omah

TAK SEKADAR MAKAN: Sejumlah siswa SD yang berkunjung di Omah Japo mendapat pelajaran tentang pertanian dan peternakan sembari menunggu menu makanan yang dipesan datang. (Omah Japo for radarkediri.id)

Share this          

Suka nasehat jahat, telat taat. Bingung dengan arti kalimat sebelumnya? Itu memang bukan kalimat biasa. Melainkan menu sebagian jenis jus di Omah Japo. Tak sekadar nama yang unik, menu cafe dan nursery di Desa Betet, Ngronggot itu juga berbahan organik.

SRI UTAMI. Ngronggot, JP Radar Nganjuk

Bangunan yang didominasi bambu di Dusun Bandung, Desa Betet, Ngronggot itu terlihat mencolok dari kejauhan. Bukan hanya karena instalasi bambu yang memenuhi hampir setiap sudut cafe dan nursery Omah Japo itu. Melainkan juga keberadaan berbagai jenis sayuran organik yang ditata di sekeliling bangunan.

Itu yang membuatnya berbeda dengan rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Sesuai namanya, kebun bibit memang tidak hanya ditemui di luar Omah Japo. Melainkan juga di bagian dalam bangunan seluas 50x80 meter itu. Di tiap sudut banyak kita temui sawi yang ditanam di potongan drum plastik, pot dan media tanaman lainnya.

Di sudut lain, ada wahana edukasi yang dilengkapi dengan buku bacaan tentang pertanian, perkebunan dan peternakan. Tak hanya itu, ada pula lokasi yang digunakan untuk edukasi budidaya cacing lumbricus rubellus. “Itu untuk edukasi pengunjung tentang budidaya ikan dan sayur di lahan sempit,” ujar Irawan A.W, pengelola Rumah Japo sembari menunjuk kolam dari terpal yang di tepinya banyak ditanami sayur-sayuran organik.

Omah Japo memang berbeda dibanding kafe kebanyakan. Bangunan yang terbuat dari bambu dan kayu itu memiliki banyak keunikan. Termasuk menu-menu yang mereka

Semua makanan yang dijual di kafe yang merupakan unit usaha dari Ponpes Pomosda itu berbahan organik. Selain sayuran dan buah-buahan, ayam, lele, burung dara dan lauk-pauk lainnya, diolah secara sehat.

Untuk memikat pengunjung, Omah Japo juga membuat nama-nama  yang lucu untuk menu mereka. Terutama untuk menu minuman. Misalnya, Jerat untuk jus jeruk. Kemudian, Nasehat untuk nama jus nanas. Ada pula Jahat untuk nama jus jambu, Telat untuk nama jus wortel, hingga Taat untuk nama jus tomat. “Ada Suka. Ini nama jus kangkung,” tutur Irawan sembari mengangkat gelas berisi minuman berwarna hijau itu.

Nama jus terakhir itu memang baru didapati di Omah Japo. Sekaligus menjadi minuman yang banyak dipesan oleh para pengunjung dari luar Nganjuk. Pun para wisatawan dari Amerika, Selandia Baru, Jepang dan beberapa negara lainnya yang berkunjung ke Kota Angin.

Mayoritas mengaku penasaran mencoba jus dari sayur yang kebanyakan dimasak dengan ditumis atau direbus itu. Jika banyak pengunjung yang awalnya mengira bau kangkung akan melekat di jus, mereka harus kecele.

Sebab, rasa kangkung yang dijus itu mirip dengan jus alpukat. “Ya memang mirip dengan alpukat. Tapi itu kangkung,” urai pria berusia 42 tahun itu.

Tak hanya mencoba jus kangkung, mayoritas pengunjung juga menanyakan tentang asal-usul tanaman organik yang diolah di kafe yang dikelolanya itu. Termasuk berbagai jenis hewan ternak yang mayoritas dijadikan penyetan.

Dengan telaten, suami dari Nur Aini Uswatun Hasanah itu menjelaskan pola stok bahan makanan kafe yang berdiri pada 7 September 2018 lalu itu. Rupanya, Omah Japo terintegrasi dengan program kemandirian pangan nusantara bangkit yang digaungkan Pondok Pesantren Pomosda.   

Ikan, ayam, sayuran dan buah-buahan yang diolah Omah Japo berasal dari tanaman para santri dan petani binaan Pomosda. “Penanaman sayuran tidak menggunakan pestisida dan bahan kimia. Ayam dan ikan juga menggunakan bahan alami semua,” beber Irawan.

Dia mencontohkan kolam ikan terpadu yang diterapkan. Yaitu, di bagian atas kolam nila sengaja diberi kandang ayam. Sehingga, kotoran ayam langsung jadi pakan ikan. Selanjutnya, di kanan kirinya diberi tanaman hortikultura.

Adapun untuk buah-buahan, selain yang ditanam di kebun sendiri, juga ada yang diambil dari mitra para petani. “Kami menerapkan PTSA. Pola tanam dan pola ternak sehat amanah bersama para mitra,” urainya.

Tidak hanya itu, Omah Japo juga memastikan ketersediaan stok dengan menanam berkelanjutan. Misalnya, untuk tanaman kangkung baru bisa dipanen selama 25 hari. Sebelum panenan habis mereka sudah melakukan penanaman di lokasi lain dengan waktu yang berbeda. “Jadi tiap hari tetap bisa panen,” imbuhnya.

Dengan pola tanaman yang sehat dan berkelanjutan itu, Irawan bersyukur Omah Japo semakin diminati pengunjung. Tidak hanya untuk mencicipi menu yang dijual. Melainkan juga untuk belajar tentang pertanian dan peternakan sehat. “Kami memang tidak sekadar menjual makanan. Yang lebih penting lagi adalah pemberdayaan dan mengajak masyarakat menerapkan pola makan yang sehat,” tandasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia