Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Choirur Roziqin, Tekuni Kerajinan Tenun Songket dari Dalam Penjara

Belajar dari Napi, Terjual hingga Jakarta

12 September 2019, 19: 13: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

lapas kreatif narapidana

TEKUN: Roziqin dengan alat tenunnya di ruang balai kerja Lapas IIA Kediri. Hasil karyanya dipasarkan hingga luar kota. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Status narapidana tak lantas membuat pemuda ini terpuruk. Sebaliknya, pemuda 24 tahun ini berusaha bangkit. Dari dalam penjara dia mampu berkarya. Membuat kain tenun yang pasarnya hingga Surabaya dan Jakarta.

DWIYAN SETYA NUGRAHA, JP Radar Kediri Kota.

Puluhan roll benang tenun berjajar di ruangan yang digunakan sebagai balai kerja milik Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 2 A Kediri. Di ruangan yang sama, puluhan orang terlihat serius menggerakan batang-batang kayu yang terkait dengan benang-benang itu. Merajutnya menjadi kain songket yang indah.

Puluhan laki-laki itu bukan perajin kain tenun biasa. Tapi mereka adalah perajin ‘luar biasa’. Karena mereka adalah para narapidana yang tengah menekuni usaha tenun songket.

Salah satu dari mereka adalah Choirur Roziqin. Pemuda yang masuk penjara karena kasus pelecehan seksual ini sibuk dengan alat tenunnya. Matanya seolah tak ingin beralih pada sehelai benang yang ia tarik dari alat tenun. Di belakang alat tenun tersebut, gulungan benang tertata dengan rapi.

“Butuh perhatian khusus dan kejelian dalam setiap tarikannya,”ungkapnya.

Menurutnya, kelebihan tenun yang ia tekuni adalah memiliki makna filosofi. Yang diadopsi dari kearifan lokal budaya Kediri. “Kami sengaja padukan motif tenun dengan kebudayaan Kediri untuk menjaga ciri khas,” terangnya.

Di antaranya adalah perpaduan warna. Dia melakukan pencampuran warna pada enam sampai tujuh titik potong kain. Roziqin juga berani berinovasi. Tampil beda dengan perajin tenun lainnya soal desain motif. “Setiap motif, kami suguhkan warna helaian benang yang berbeda,” paparnya.

Salah satu motif yang dia gunakan adalah tirta tirja dan salur. Motif itu tersusun dari garis-gars. Bisa berupa garis lurus atau lengkung. “Desainnya bisa seperti ombak lautan,” ujarnya sambil menunjukkan hasil tenunannya di ruangan berukuran 5 x 10 itu.

Sedangkan salur, masih kata Roziqin, adalah motif dari perpaduan bentuk, seperti persegi dan lingkaran. Motif tersebut, didapatnya sejak ia menekuni tenun songket di lapas Kediri. “Sejak saya awal belajar tenun, motif ini yang sering digunakan di lapas sini,” ungkapnya.

Kegigihannya menekuni usaha tenun berbuah hasil bagus. Produksinya sudah banyak yang meminati. Dijual dengna harga Rp 180 ribu per potong. Sepotong kain tenunnya berukuran 2,5 x 1 meter.

Kini, dia bahkan punya ‘kader’ yang berasal dari para napi juga. Dari mereka yang menekuni tenun ini, pihak lapas pun bisa menjual 500-an meter kain tenun. Membuat lapas menambah daya produksi. Bila dulu hanya satu unit alat tneun, kini menjadi 8 unit. Sedangkan napi yang menekuninya mencapai 12 orang.

 “Awalnya iseng untuk mengisi kekosongan di lapas, namun setelah kami tekuni ternyata hasilnya menjanjikan,” ungkap pria asal Desa Bringin, Kecamatan Badas ini.

Pemasarannya pun kian melebar. Dulu hanya di Kediri. Kini sudah ke luar kota. Surabaya hingga Jakarta.”Setiap bulan sudah ada dari pihak lapas yang melakukan pemasaran,” paparnya.

Keuletan Roziqin itu tak hanya berbuah rupiah. Hasil tenun roziqin pun beberapa kali mengikuti gelaran pameran tingkat pekan budaya Kabupaten Kediri. “Alhamdulillah, hasil kerajinan kami bisa diterima masyarakat luas. Kami juga ingin menghapus anggapan napi yang negatif,” ujarnya.

Kedepan, ia berharap, setelah selesai menjalankan masa tahanan, ia bisa meneruskan usahanya yang sudah ia tekuni sejak dua tahun terakhir di dalam lapas. “Saya divonis tujuh tahun penjara. Namun setelah mendapatkan potongan remisi, insya Allah kurang satu tahun lagi saya akan bebas dan meneruskan usaha ini di rumah,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia