Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Contoh Mbah Dok

12 September 2019, 19: 05: 15 WIB | editor : Adi Nugroho

Sego Tumpang Contoh Mbah Dok

Sego Tumpang Contoh Mbah Dok (radarkediri.id)

Share this          

“Le, ojo wani-wani karo wong tuamu!,” bentak Mbok Dadap sambil nyawat cuilan trasi dele. Sasarannya: bocah cilik yang antre sego tumpang di warungnya. Gara-garanya: bocah itu mulai berkata kasar kepada ibunya.

Mbok Dadap semremet kalau tau bocah-bocah seperti itu. Apalagi itu di depan mata kepalanya sendiri. Didengar lewat daun telinganya sendiri.

Si Mbok yang olahan sego tumpangnya enaknya sak ndonya itu ndak peduli bocah itu mau mewek, mau gulung koming, atau bahkan ketakutan ndak mau diajak ke warungnya lagi. Itu soal prinsip, baginya. Sepanjang ibu ndak menyuruh kepada kejahatan, ojo sampek wani-wani seorang anak kepada ibu yang melahirkannya. “Iso kuwalat, Kowe!,” tegasnya. 

Ya maklum. Lha wong dalam segala pitutur tentang kebaikan, kedudukan ibu selalu berada di atas bapak. Ndak dalam pitutur agama, ndak dalam pitutur para bijak. Semua sama. Dalam banyak penyebutan, ibu juga lebih dipilih dibanding bapak. Ibu jari, bukan bapak jari. Ibu kota, bukan bapak kota. Ibu pertiwi, bukan bapak pertiwi. Nenek moyang, bukan kakek moyang. Ibu kandung peradaban, bukan bapak kandung peradaban.

Ya, segala bentuk kebudayaan dan peradaban manusia saat ini, asalnya dari ibu. Mbok segala yang dikatakan sekarang jaman Internet of Things (IoT), ya awal mulanya dari ibu. Dialah pencipta kebudayaan pertama kali dalam sejarah manusia. De eerst ontdekster van cultuur, cara Londo Hollands-nya seperti sering dipidatokan Bung Karno. Dia juga penemu pertama teknologi pertanian. De eerst ontdekster van de landbouw.

Saat bapak-bapak jaman purba pergi berburu, ibu-ibu itulah yang tinggal di rumah yang masih berbentuk gua-gua. Jaman Homo Wajakensis di Tulungagung. Homo Mojokertensis di Mojokerto. Atau Homo Soloensis di Solo. Mereka adalah manusia-manusia purba Jawa berjenis Pithecanthropus Erectus. Atau juga jaman sebelum itu. Jaman Meganthropus Palaeojavanicus. Manusia purba tertua di Jawa yang berukuran raksasa yang fosilnya ditemukan di Sangiran.

Karena ditinggal di ‘rumah’ sendirian bersama bayi-bayinya itulah kreativitas para ibu muncul. Berawal dari naluri seorang ibu untuk melindungi bayi-bayinya. Mereka menyulam kulit hewan hingga lahirlah pakaian untuk sang bayi agar tak kedinginan. Mereka menata ranting-ranting dan dedaunan sehingga lahirlah ‘rumah’ untuk sang bayi agar terlindungi.

Para ibu itu juga memelihara hewan hasil buruan para suami, yang kelak mengubah peradaban berburu menjadi beternak. Menanam biji-bijian, yang kelak melahirkan peradaban baru lagi: pertanian. Dan, karena bertani butuh alat, maka lahirlah alat-alat pertanian. Teknologi. Dari tulang. Dari kayu. Dari batu. Dari logam. Yang kelak menjadi cikal bakal segala industri di zaman modern.

Maka, kata Mbok Dadap, siapapun yang lupa akan ibunya berarti menyalahi adab. Lha wong yang melahirkan peradaban pertama kali itu ibu. Otomatis ibu pula yang mengenalkan peradaban tersebut kepada anak-anaknya. Lha kok begitu tumbuh besar malah maneni wong tuane. “Opo njaluk dilebokne weteng neh,” ucapnya.

Masalahnya, jaman modern, ibu-ibu malah banyak yang tersisih. Kalau dulu pada jaman pertanian awal merekalah yang mengatur para lelaki, justru sejak teknologi ditemukan dan lelaki mulai ikut menggarap lahan, para ibu mulai dipinggirkan. Sampai sekarang. Sehingga, jika ingin berperan, ibu-ibu itu harus berjuang. Memperjuangkan nasib mereka sendirian.

Sampai-sampai harus ada kuota 30 persen perempuan dalam banyak hal. Sebagai upaya proteksi. Agar mau tak mau 30 persen itu harus diisi. Dengan perempuan. Bukan laki-laki. Maka, jika kemudian muncul perempuan di jabatan-jabatan publik, dianggap sebagai keistimewaan. Istimewa karena kebanyakan yang memegangnya para lelaki.

Padahal, dulu, yang terjadi sebaliknya. Pada masa matriarki, perempuanlah penguasanya. Lelaki tunduk pada perintahnya. Di Jawa sendiri, itu juga bukan hal yang asing lagi. Sejak jaman Ratu Sima yang menjadi penguasa Kalingga yang konon berasal dari Keling, Kepung. Atau Tribhuwana Wijaya Tunggadewi yang menjadi penguasa ketiga Majapahit.

Maka, jika di bekas tlatah Kediri dan Majapahit di jaman modern muncul penguasa atau pemimpin perempuan menjadi hal yang wajar saja sebenarnya. Yang ndak wajar justru jika ndak juga muncul nama perempuan dari parpol-parpol menjelang pergantian kepemimpinan kali ini. Lha wong sudah ada contoh dari mbah-mbah wedok-nya dulu. Dari nenek moyangnya.

Ini pula yang bikin Dulgembul semremet. “Sampeyan mau dicalonkan, Mbok?,” tanya Dulgembul yang masuk warung tiba-tiba. Mbok Dadap yang sedang ngudek sambel tumpang hanya mrengut mendengarnya. (tauhid wijaya)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia