Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Bedah Buku Pu Gajah Mada, Menyibak Pembelokan Sejarah Era Kolonial (7)

Lacak sang Patih Majapahit di Kali Warantas

12 September 2019, 18: 53: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

Bedah Buku Gajah Mada

INTERAKTIF: Agus Sunyoto bedah buku novel Pu Gajah Mada mengajukan pertanyaan saat diskusi di kantor Radar Kediri (4/9). (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Banyak sumber sejarah menyebut asal Gajah Mada. Salah satunya hasil penelitian Agus Sunyoto. Dia membuktikannya ke lokasi yang diyakini tempat Patih Majapahit itu lahir.

Sejauh ini Agus Sunyoto telah mengunjungi sejumah tempat yang dianggap ada sangkut pautnya dengan Gajah Mada. Setidaknya ada empat lokasi yang menguatkan cerita masa kecil sosok Mahapatih Majapahit termasyhur tersebut. Lokasinya di utara Kali Warantas (Brantas, Red) yang kini masuk di antara wilayah Kabupaten Jombang dan Lamongan.

Di Kabupaten Jombang, ada sebuah situs di Desa Bedander, Kecamatan Kabuh. Dari penjelasan Agus, Bedander merupakan tempat Gajah Mada menyembunyikan Raja Jayanegara.

Itu dilakukan saat terjadi pemberontakan Ra Kuti. Hal tersebut membuktikan bahwa Gajah Mada dahulu dibesarkan memang di dekat daerah tersebut. Dekat dengan Kecamatan Modo dan Ngimbang yang banyak disebut pada Serat Pararaton.

Letak Desa Bedander di Kabuh ini dari keterangannya lebih cocok jika dibanding Kecamatan Dander di Bojonogoro. Apalagi didukung beberapa peninggalan struktur batu-bata kuno di desa ini. Termasuk dari kisah masyarakat yang menceritakan bahwa Gajah Mada diperintah oleh ibunya, Nyai Andongsari menuju Majapahit untuk melewati perbukitan di selatan desanya. Dalam perjalanannya kemudian singgah di Desa Bedander ini.

Nyai Andongsari sendiri dimakamkan di utara Desa Bedander. Dibuktikan dengan situs yang menguatkannya, yakni situs Makam Nyai Andongsari. “Lokasinya ada di Dusun Cancing Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan,” ungkap Agus.

Tepat di utara Kecamatan Kabuh, Jombang. Menurutnya, Gajah Mada lahir di Dusun Cancing, dari seorang ibu bernama Nyai Andongsari. “Andongsari adalah putri dari Raja Kertanegara. Artinya Gajah Mada cucu seorang raja,” jelas Agus.

Selain itu, dalam Prasasti Biluluk disebutkan bahwa kawasan Bluluk merupakan salah satu desa sima pada era Majapahit. Keberadaan situs berupa candi di Dusun Boworejo, Desa Cangkring, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan menjadi salah satu buktinya.

Dalam prasasti itu disebutkan bahwa warganya dibebaskan pajak, serta ditempati sebagai tempat bangunan suci berupa candi. Temuan struktur batuan andesit dan yoni di desa ini bisa menjadi penguat akan adanya bangunan suci di Kawasan Bluluk pada era Majapahit.

Selanjutnya, Situs Sitinggil, masuk Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan. Dari cerita yang berkembang di masyarakat, menyebut bahwa Sitinggil adalah tempat Gajah Mada kecil, yang dulu juga disebut Joko Modo.

Agus memaparkan, Sitinggil merupakan bangunan punden berundak. Di tempat ini Gajah Mada melakukan ritual persembahan sesuai keyakinannya. Saat itu patih ini diyakini masih menganut ajaran Kapitayan, yang merupakan keyakinan masyarakat Jawa sebelum Hindu-Buddha.

Tentu saja dari teori dan hasil ekspedisi Agus Sunyoto di Lamongan itu menguatkan bahwa sejak kecil, Gajah Mada sudah beraktivitas di daerah tersebut. Dibuktikan dengan banyak temuan, cerita dan bukti bersejarah yang hingga kini masih tersisa.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia