Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Melihat Jamasan Benda Pusaka di Situs Persada Ndalem Pojok, Wates

Dibuat Terbuka, Pupuskan Mitos Mistis

12 September 2019, 17: 38: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

ndalem pojok jamasan keris

WARISAN BUDAYA: Kushartono mencuci keris pada prosesi penjamasan di halaman Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Pelestarian warisan budaya di situs Persada Ndalem Pojok diwujudkan dengan prosesi jamasan benda pusaka. Ada keris, tombak, hingga pemotong padi yang dibersihkan. Yang menarik, jamasan ini juga menjadi bahan pembelajaran.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Suasana berbeda terlihat di halaman Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates (10/9). Sejumlah orang berkerumun di sudut halaman rumah masa kecil Bung Karno tersebut. Tepat di depan musala, mereka seperti penasaran dengan prosesi yang sedang dilakukan. Ya, prosesi itu adalah jamasan pusaka atau pembersihan benda-benda pusaka, baik berupa keris maupun tombak kuno.

Prosesi tersebut menjadi berbeda dari tahun sebelumnya. Karena saat ini lebih terbuka dan bisa dilihat siapa saja. Kushartono, pengurus Ndalem Pojok, terlihat sibuk membersihkan salah satu benda pusaka. Ia mengungkapkan, proses jamasan memiliki ciri khas di setiap daerah.

Ada daerah yang menggunakan air kelapa. Namun di sana kemarin cukup air dengan mengkudu untuk merendam pusaka. Menurut Kus, air kelapa bisa digunakan untuk keris tertentu. Utamanya yang banyak kotoran. “Setelah proses perendaman, dibersihkan dengan jeruk nipis,” ujarnya.

Sebenarnya ada beberapa kasus yang menggunakan sitrun. Hanya saja, karena itu merupakan bahan kimia sehingga itu tidak disarankan. “Karena bisa merusak bagian keris,” jelasnya.

Kus menyebut, tahap jamasan ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Terutama saat merendam keris. Bahkan sebenarnya perendaman dilakukan jauh-jauh hari sebelum pembersihan. Ada beberapa tradisi di Ndalem Pojok yang mungkin berbeda dari tempat lain.

“Yakni setelah proses warangan ada yang menggunakan jangkang Pohon Kepuh,” ujarnya.

Jangan melupakan sejarah menjadi kata yang paling dipegang teguh oleh pengurus Ndalem Pojok. Menjadi pantikan semangat untuk tetap mengingat sejarah bangsa. Salah satunya dengan merawat warisan budaya berupa benda pusaka seperti ini. Sebagai cucu dari ayah angkat Bung Karno, Kushartono mengungkapkan bahwa pelestarian sejarah berupa pengenalan benda pusaka ini sangat penting.

Selama ini, Kus mengatakan, prosesi jamasan tertutup. Baru kali ini masyarakat bisa melihat langsung proses pembersihan benda pusaka tersebut. Apalagi prosesi itu ditambah pembelajaran tentang benda pusaka.

Meski demikian, Kus mengaku, masih membedakan pusaka yang mana saja yang perlu ditunjukkan. “Karena ada keris yang memang tidak semua orang boleh tahu,” ungkapnya.

Termasuk pengetahuan tentang keris mana saja yang bolek dilihat ataupun dipegang. Pembelajaran itu, menurutnya, agar masyarakat bisa mengenal lebih dekat tentang keris.“Jadi biar keris ini tidak lagi dianggap mistis atau klenik di masyarakat,” urainya.

Tetapi masyarakat diharap bisa menyadari bahwa keris merupakan warisan budaya. Termasuk bisa melihat keris dari sisi lain. Yakni sisi seni dan sisi kebudayaan keris itu sendiri.

“Seperti pesan Bung Karno, jangan melupakan sejarah. Jadi ya jangan melupakan sejarah budaya bangsa kita, salah satunya keris ini,” paparnya.

Kus menambahkan, keris merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang sangat berharga. Apalagi pembuatannya yang rumit itu menjadi salah satu ciri khas tersendiri bagi keris.

Dengan bahan baku besi dan batu meteor yang disatukan. Penyatuan dua elemen tersebut tentu saja tak mudah dilakukan. Hanya orang khusus yang bisa menerapkan teknologi tersebut.

“Kita bisa menyampaikan pada anak didik bahwa ini adalah teknologi canggih waktu itu,” cetusnya.

Sehingga sejak zaman dahulu, Kus menyatakan, leluhur bangsa Indonesia sudah memiliki peradaban yang canggih. “Supaya kita itu bangga dengan bangsa kita, bangga dengan budaya kita,” tuturnya.

Selain jamasan keris, baru kali pertama Ndalem Pojok juga membuat acara nangguh keris. Yakni bagi siapa saja yang memiliki benda pusaka, bisa konsultasi dan menannyakan dari zaman apa keris itu berasal. Termasuk kegunaannya di masa lampau.

Hari semakin siang, setidaknya sudah puluhan keris yang dijamas. Total ada sekitar 40 bilah. Baik keris maupun tombak. Ada juga alat potong padi tradisional yang kemarin ikut dijamas. Membuat semua benda pusaka itu tampak bersih, lebih terawat dan diharapkan bisa dilihat para generasi bangsa. Menjadi sebuah warisan leluhur yang tak lekang oleh peradaban zaman.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia