Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Bedah Buku Pu Gajah Mada, Menyibak Pembelokan Sejarah Era Kolonial (6)

Tidak Ada Perang Bubat

12 September 2019, 17: 27: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

Bedah Buku Gajah Mada

BEBER KISAH: Buku novel sejarah Gajah Mada yang dibedah di kantor JPRK. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Satu cerita yang menyebut sosok Gajah Mada adalah Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dan Sunda. Tetapi benarkah perang itu ada? Agus Sunyoto mengupasnya.

Gajah Mada menjadi sosok yang banyak diperbincangkan. Terutama terkait cerita yang menyebut dirinya terbunuh di sejumlah naskah kuno. Hal ini membuat banyak orang penasaran.

Keberadaan cerita yang menyesatkan tersebut menjadi ketertarikan sejarawan Agus Sunyoto untuk mengupasnya dalam acara diskusi dan bedah buku novel sejarah ‘Mahapatih Mangkubhumi Majapahit Pu Gajah Mada’ karyanya di kantor Jawa Pos Radar Kediri (JPRK) pada Rabu silam (4/9).

Salah satunya adalah cerita tentang Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda. Sejauh ini, dari kajian yang dilakukan Agus Sunyoto, perang Bubat tersebut tidaklah benar.

Tidak ada nama Patih Gajah Mada di Jawa Barat. Sehingga hal tersebut dia tegaskan bahwa sejarah terkait cerita itu haruslah diluruskan. “Itu adalah sejarah buatan Belanda yang menyesatkan,” ujarnya.

Agus menyampaikan, cerita seperti itu lahir dari karangan-karangan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ia menegaskan bahwa perang Bubat tidak ada. Karena itu, tentu saja tidak tertulis dalam sejarah. Hanya saja, Belanda mengimajinasikan cerita tersebut dengan referensi melalui kitab Pararaton.

Perang itu diceritakan terjadi dari niat Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit, yang ingin memperistri putri dari Kerajaan Sunda. Hayam Wuruk berniat memperistri putri yang bernama Dyah Pitaloka tersebut agar dapat bersekutu dengan Negeri Sunda.

Makanya, Hayam Wuruk mengirimkan surat untuk melamar pada Maharaja Linggabuana. Hingga akhirnya upacara pernikahan rencanannya dilangsungkan di Majapahit. Dari cerita yang diungkapkan tersebut, Maharaja Linggabuana berangkat dari Sunda ke Majapahit. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka diiringi prajurit.

Nah, sementara dalam Kidung Sundayana, Gajah Mada berambisi menguasai Kerajaan Sunda. Ini untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Dari penjelasan di Kidung tersebut Kerajaan di Nusantara sudah ditaklukkan Majapahit, tinggal kerajaan Sunda yang belum. “Tentu saja itu tidak benar,” papar Agus.

Dari cerita itu terjadilah perang dan pengusiran. Ini yang menjadi dasar lahirnya mitos, orang Sunda tak baik menjalin perkawinan dengan orang Jawa. Sebab perkawinan itu membuat mereka akan hidup sengsara. Miskin, selalu bernasib sial, dan tidak bahagia.

Bahkan sampai-sampai di Jawa Barat juga tidak ada jalan yang bernama Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk. “Perang itu tidak ada,” tegasnya.

Bahkan Agus Sunyoto mengaku, telah melacak hingga Leiden, Belanda. Dari pelacakan itu tidak ditemukan ada dokumen yang membuktikannya. “Bahkan untuk melacak perang itu kapan, di mana, dan adakah bekas-bekasnya, pasti tidak ditemukan,” jelasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia