Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Rencana Ijab Senin Batal

12 September 2019, 11: 32: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

Sidang

MASIH CINTA: Endah, istri Sutiwo, menggandeng erat tangan suaminya itu saat memasuki ruang sidang Cakra, Pengadilan Negeri Nganjuk, kemarin (10/9) siang. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Sidang lanjutan kasus pembunuhan Vicky Febrin Piawai, 28, asal Kelurahan Mangundikaran, Kota Nganjuk kemarin, menguak lebih dalam tentang hubungan Sutiwo, terdakwa, dengan korban. Ini terungkap dari keterangan Sistha Tri Wandhita, sahabat Vicky yang dihadirkan sebagai saksi.

Mendapat giliran pertama, perempuan asal Kelurahan Ganungkidul, Kota Nganjuk itu mengatakan, Vicky sering curhat kepada dirinya. Dia menceritakan hubungan asmaranya dengan Abdul Kadir, 63, pensiunan polisi, hingga hubungannya dengan Sutiwo, 34. Pria yang belakangan didakwa menjadi otak pembunuhannya. “Kalau (hubungan asmara, Red) Pak Sutiwo ini baru sekitar satu tahun,” ujar Sistha.

Grafis

(Grafis Nakula Agie Sada - radarkediri.id)

Mengetahui temannya berpacaran dengan pria beristri, Sistha mengaku sempat menasihati Vicky. Tetapi, perempuan berambut lurus itu hanya menanggapi dingin.

Bukannya menghentikan hubungannya, Vicky mengaku telanjur cinta dengan Sutiwo. “Aku wes kadung seneng (saya sudah terlanjur suka, Red),” lanjut Sistha menirukan jawaban Vicky saat itu.

Tak hanya sering curhat tentang Sutiwo dan Kadir, di depan majelis hakim Sistha menyebut Sutiwo sering menjemput Vicky di depan rumahnya. Adapun Vicky yang datang dengan naik sepeda motor, menitipkan kendaraan roda dua itu di rumah Sistha. “Pergi dengan Pak Sutiwo naik mobil warna putih,” terang Sistha sembari menyebut Sutiwo pernah menjemput Vicky dengan mobil Honda Jazz warna biru.

Dari mana Sistha tahu jika pria yang menjemput Vicky adalah Sutiwo? Ditanya demikian, Sistha mengaku mengetahui hal tersebut dari cerita Vicky. Bahkan, Vicky juga mengaku sengaja menitipkan motor di rumah sahabatnya itu karena takut ketahuan Kadir. Pria yang juga dipacari Vicky.

Untuk diketahui, selain Sistha, total ada empat saksi yang juga dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di sidang kemarin. Mereka adalah Imawati, bibi Vicky; Kholik Wicaksono dan Didik Purwanto, anggota Polres Nganjuk; dan Endah, istri Sutiwo.

Di depan majelis hakim, Imawati mengatakan, dirinya pernah melihat Vicky dijemput mobil berwarna putih yang diduga adalah Sutiwo. “Saya tidak tahu hubungannya dengan Sutiwo, selama ini setahu saya Vicky ada hubungan sama Kadir,” terang perempuan asal Kelurahan Mangundikaran, Kota Nganjuk.

Dari keterangan Imawati terungkap jika hubungan Vicky dan Kadir bahkan akan melangkah ke jenjang pernikahan. Sebelum pembunuhan kejam pada Jumat (29/3) lalu, sedianya Vicky akan menikah siri dengan Kadir pada Senin (1/4). “Akan ijab ke Kiai Iskandar,” ungkapnya. 

Sementara itu, Kholik Wicaksono dan Didik Purwanto lebih banyak membeber proses penyelidikan. Di antaranya, mereka sempat curiga dengan Kadir karena pria yang juga pensiunan polisi itu menghapus semua percakapannya dengan Vicky. Tetapi, dalam penyelidikan lanjutan diketahui jika Vicky juga memiliki hubungan dengan Sutiwo.

Dari sanalah, Didik lantas mendekati Sutiwo. “Dia mengakui semua perbuatannya. Ia melakukannya karena kalap,” beber anggota tim buru sergap berambut gondrong ini sembari menyebut Sutiwo mengakui membunuh Vicky bersama Supriyadi, petugas harian lepas (PHL) di satlantas yang sampai sekarang masih buron.

Selain keterangan empat saksi tersebut, Endah, istri Sutiwo, mendapat kesempatan terakhir kali. Perempuan berjilbab itu mengaku tidak tahu kejadian pembunuhan Maret lalu. Sebab, saat itu dia tengah berada di Surabaya. Di depan majelis hakim, Endah menyebut rumah tangganya selama 12 tahun dengan Sutiwo baik-baik saja. “Tidak pernah memukul atau main kasar. Saat marah memilih diam,” tutur ibu dua anak itu.

Keterangan Endah sekaligus mengakhiri sidang yang berlangsung sejak pukul 10.30. Sutiwo yang mendapat kesempatan menanggapi keterangan saksi hanya membatah keterangan Imawati dan Sistha. “Saya jemput ke rumah Sistha hanya dua kali, kalau ke rumah Imawati tidak penah,” bantahnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia