Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Turhadi, Doktor Muda IPB yang Anak Seorang Tukang Becak

Si Kutu Buku yang Selalu Raih Beasiswa

10 September 2019, 17: 19: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

turhadi doktor

SENANG BACA: Turhadi di antara ibu dan kerabatnya, usai diwisuda program S-2 beberapa waktu lalu. (Turhadi for radarkediri.id)

Share this          

Dengan pendidikan, Turhadi ingin mengubah nasib keluarga. Salah satu mimpinya itu pun berhasil. Desember nanti, anak tukang becak asal KelurahanTamanan, Mojoroto itu akan diwisuda menjadi doktor termuda bidang biologi tumbuhan di Institut Pertanian Bogor.

ANWAR BAHAR BASALAMAH, Kota, JP Radar Kediri

Umurnya baru 26 tahun. Tapi torehan prestasinya sudah luar biasa. Pada 14 Agustus lalu,  Hadi –nama panggilan Turhadi- lulus sidang promosi doktor bidang ilmu biologi tumbuhan di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Disertasinya berjudul “Respon Fisiologis Metabolit dan Molekuler Tanaman Padi terhadap Cekaman Keracunan Besi”. Mendapat penilaian sangat layak oleh dua profesor pengujinya. Yang akan menjadikan pemuda asal Kelurahan Tamanan ini menjadi doktor.

“Saya menjadi (doktor) yang termuda di bidang ilmu biologi,” kata Hadi yang saat ini masih berada di Bogor untuk mempersiapkan wisudanya.

Hadi memang bukan doktor termuda di IPB yang akan diwisuda akhir tahun nanti. Di bidang ilmu lain ada calon doktor yang berusia 25 tahun. Tapi, mencatatkan sejarah sebagai doktor termuda bidang ilmu biologi di kampus tersebut sudah membuatnya bangga.

Apalagi prestasi itu diraih dengan beasiswa dalam tempo tiga tahun. Ya, Hadi adalah salah satu peraih beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) dari Kemenristekdikti. “Jadi ambil magister dan doktoral sekaligus,” ungkapnya

Gelar master diraihnya tahun lalu. Setelah kali pertama menerima beasiswa pada 2015. Setahun berikutnya dia langsung mengambil program doktor. “Semua bidang ilmu biologi,” kata pemuda kelahiran Kediri, 26 Juni 1993 ini.

Yang membanggakan, saat menempuh strata satu, Hadi juga meraihnya dengan beasiswa. Mengambil jurusan Biologi, anak bungsu dua bersaudara itu mendapat beasiswa bidik misi di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Kuliahnya pun tergolong cepat. Sekitar 3,5 tahun. Masuk 2011 dia lulus 2015. “Sebenarnya sudah selesai sebelumnya. Tapi wisudanya berbarengan dengan yang lain (4 tahun),” terangnya.

Pendidikan sarjananya juga tidak lepas dari torehan prestasi. Hadi lulusan tercepat di jurusannya. Indeks prestasi komulatif (IPK)-nya pun tertinggi. “IPK saya cumlaude 3,74,” kata Hadi bangga.

          Segala prestasinya di semua jenjang pendidikan lewat beasiswa didapat dengan perjuangan keras. Hadi mengaku, berasal dari keluarga tidak mampu. Suparno, sang ayah, hanya tukang becak yang biasa mangkal di sekitaran Jalan Pattimura. Adapun ibunya, Usriani, bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). “Ya bantu-bantu di rumah orang,” kata Hadi.

Saat umurnya 11 tahun, Suparno menghadap Sang Khalik. Hadi sudah jadi anak yatim sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Praktis, setelah itu, sang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga.

Dalam fase kehidupan yang getir itu, Hadi tidak kehilangan semangat belajar. Justru, dengan melihat ibunya bekerja keras dari pagi hingga sore, dia bertekad untuk mengubah hidup keluarganya suatu saat kelak. “Saya sudah tanamkan waktu di SMA. Itu menjadi titik balik saya untuk mengubah kehidupan keluarga,” kata alumnus SMAN 5 Kediri (sekarang SMAN 5 Taruna Brawijaya).

Sebagai PRT, penghasilan Usriani sangat kecil. Per bulan, kata Hadi, ibunya hanya mendapat upah Rp 500 ribu. Padahal, pagi-pagi sekali sekitar pukul 05.30, sang ibu sudah keluar rumah. Setelah selesai bekerja, dia baru pulang sekitar pukul 14.00.

Dengan ekonomi yang pas-pasan, Hadi sadar keluarganya tidak akan sanggup membayar biaya pendidikan tinggi. Karena itu, setelah lulus SMA, dia mulai mencari informasi beasiswa. “Hanya lewat beasiswa saya bisa melanjutkan kuliah,” ungkapnya.

Gayung pun bersambut. Hadi lolos menjadi peraih beasiswa bidikmisi. Kesukaannya pada pelajaran IPA, membuat pemuda berkacamata ini memilih program studi ilmu biologi.       

Saat kuliah di Malang, perjuangannya pun tidak mudah. Beasiswa tersebut hanya bisa dimanfaatkan untuk biaya kuliah. Tidak untuk uang kos-kosan. Namun, Hadi tergolong orang yang beruntung kala itu. “Saya dapat potongan harga dari ibu kos,” kenangnya.

Kepada ibu kosnya, dia memang mengaku hanya mampu membayar uang kos Rp 2,5 juta per tahun. Padahal, sebenarnya harganya berkisar Rp 7 juta – Rp 9 juta setahun. “Jadi saya dapat harga khusus. Tapi tidak boleh bilang ke teman-teman kos,” kata Hadi seraya tertawa mengenang masa kuliahnya.

Setamat S-1, Hadi ingin mewujudkan cita-citanya jadi guru atau dosen. Dia pun mengikuti program beasiswa PMDSU. Di gelombang kedua dia harus bersaing dengan 3.400 mahasiswa se-Indonesia.

Menurutnya, salah satu kunci keberhasilannya adalah belajar. Sejak kecil, dia dikenal sebagai anak kutu buku. Hadi sangat senang membaca. Bahkan, waktunya selalu dihabiskan bergulat dengan buku-buku pelajaran. Sampai-sampai sang ibu pernah memarahinya. “Katanya, ya sekali-kali istirahat. Apa nggak capek baca buku terus,” kata Hadi menirukan perkataan ibunya waktu itu.

Saat ini, Hadi sudah meraih mimpinya: menempuh pendidikan tertinggi jauh melampaui pendidikan keluarganya. Suparno, cuma tamatan SD. Ibunya justru tidak pernah mengenyam pendidikan dan buta huruf. Sedangkan pendidikan Siswanto, sang kakak, berakhir di SMA.

Kelak, setelah wisuda nanti, dia ingin menularkan ilmu ke orang lain. Di kampus-kampus dan tempat lain. Bukan hanya memberikan materi biologi dan tumbuhan, tetapi tentang perjuangan hidup yang tak kenal menyerah.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia