Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Events

Bedah Buku Pu Gajah Mada, Menyibak Pembelokan Sejarah Era Kolonial (5)

Nenek Moyang Jawa adalah sang Pelaut

10 September 2019, 17: 13: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

Bedah Buku Gajah Mada

LURUSKAN SEJARAH: Seorang peserta bedah buku mengajukan pertanyaan terkait pembelokan sejarah masuknya Islam. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Pembelokan sejarah yang dilakukan Belanda selama ini menjadi keprihatinan banyak pihak. Termasuk bagi kalangan guru sejarah. Mereka pun merasa kesulitan untuk meluruskan sejarah yang terbelok itu.

Diskusi pelurusan sejarah yang dilakukan Agus Sunyoto pada acara Bedah Buku Mahapatih Pu Gajah Mada di kantor Jawa Pos Radar Kediri beberapa lalu menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Peserta sangat antusias memperhatikan kata demi kata yang terucap dari maestro sejarah PBNU tersebut.

Tak terkecuali bagi Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Kota Kediri Mujiono. Ia penasaran pada salah satu materi yang disampaikan. Yakni pembelokan sejarah yang dilakukan oleh Belanda. Terutama materi diskusi yang banyak menyinggung sejarah perkembangan Islam di Nusantara.

Mujiono sempat menyinggung terkait proses masuknya Islam di Nusantara. Sejak dulu, yang diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khattab dan cicitnya Umar bin Abdul Aziz tidak bisa menyeberangi laut. “Tapi tesis yang pernah saya baca, yakni dari kalangan Pak Hamka, bahwa Islam itu langsung dari Arab yang salah satu buktinya bahwa orang Arab menyebut Sumatra dengan Sabuga,” paparnya.

Saat itu, lanjut Mujiono, Sumatra masih dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya. Dan kata Sabuga itu dahulu disebut-sebut sebagai istilah orang Arab untuk menyebut Kerajaan Sriwijaya.

Hanya saja, ia meluruskan bahwa Islam itu dari ulama Jawa yang belajar di Arab. Karena orang Jawa sejak dahulu terkenal sebagai sang Pelaut. Ia lebih yakin dengan teori tersebut.

“Maaf, sementara tesis dan ujian-ujian itu masih mengandalkan buku lama yang berbau Belanda maka nanti anak-anak sekolah akan menjawabnya keliru,” paparnya.

Tentu Mujiono mengaku bahwa pelurusan sejarah ini sangat penting. Bahkan ia mendukung Agus Sunyoto yang sejauh ini berusaha untuk meluruskan cerita yang telah lama menjadi acuan masyarakat Indonesia tersebut.

Termasuk ia mendorong Agus Sunyoto dalam penyiapan bukti-bukti dengan fakta yang jelas. “Dan selama ini fakta yang ada memang dari Belanda. Dan itu sudah ditanamkan kuat-kuat sejak mbah guru sampai sekarang,” ujarnya. Dan selama ini, ia termasuk yang menjelaskan masih sama seperti acuan dari Belanda tersebut.

Agus Sunyoto membenarkan hal tersebut. Hanya saja yang ia tegaskan, pelurusan sejarah itu harus sesuai data dan fakta. “Kita bicara sejarah ini jangan hanya dengan semangat keislaman. Tapi harus dengan faktanya,” tegasnya.

Ia mencontohkan, fakta itu adalah ketika penaklukkan di Jerusalem. Saat itu Umar bin Khattab datang ke sana. Termasuk pada malam hari, pemuka-pemuka Islam berkumpul di gereja. “Lalu dalam pertemuan malam itu Amr bin Ash yang jadi Gubernur Mesir itu mengusulkan. Ya amirul mukminin, sudah waktunya kita mempunyai angkatan laut,” ujar Agus Sunyoto menirukan perkataan Amr bin Ash menceritakan pertemuan tersebut.

Menurutnya, perlunya angkatan laut tersebut karena mereka sudah berada di batas akhir daratan. Nah, dari perkataan tersebut Khalifah Umar bin Khattab menjawab. “Laut itu apa?” cetusnya.

Dari hal itu la membuktikan bahwa ia seumur-umur belum pernah melihat lautan. Dan dari sana dijelaskan bahwa laut adalah batas daratan, air, dan apabila melewati harus menggunakan kapal.

“Bayangkan, setingkat Umar bin Khattab belum pernah melihat laut,” tandas Agus Sunyoto.

Dan itu merupakan catatan sejarah bahwa orang Arab bukan seorang pelaut. Termasuk Turki Utsmani. Yang dahulu memang memiliki angkatan laut, hanya saja kapal berukuran kecil.

“Tidak berani mereka melewati Samudera Hindia. Hanya laut kecil seperti Laut Tengah, Laut Kaspia,” paparnya.

Sehingga sejauh ini belum pernah ada cerita bahwa Turki Utsmani mengarungi Samudera Hindia. Yang jelas, cerita tersebut hanya dibuat-buat untuk membelokan sejarah.

“Itu kenapa Islam lambat di Indonesia. Karena menunggu dahulu keliling melalui China (Tiongkok),” ungkapnya.

Sehingga, seperti yang disebut sebelumnya bahwa Tiongkok lebih dahulu banyak menganut Islam. Termasuk saat datang ke Nusantara seperti apa yang diceritakan pada seri sebelumnya.

Untuk diketahui, setidaknya selama ini sejak 2015 Agus Sunyoto mulai mengumpulkan naskah-naskah kuno. Sementara di tahun itu juga ada 6.528 naskah. Dan hingga saat ini telah mencapai 8.300 naskah kuno yang dikumpulkan.

“Mulai naskah dari zaman akhir Kerajaan Majapahit, Kasultanan Demak, Pajang hingga Mataram,” paparnya.

Hanya saja, Agus Sunyoto mengaku yang bisa membaca naskah kuno tersebut hanya 3 orang sehingga hanya sedikit-sedikit naskah yang mampu dibaca.

“Dari naskah-naskah itu kita tahu banyak, ternyata selama ini banyak cerita sejarah diselewengkan,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia