Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Istikah dan Nur Karim, Lansia yang Menjadi Perajin Tas dari Limbah

Keliling Pasar Kumpulkan Saset Minuman

10 September 2019, 10: 36: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

Lansia

LANSIA BERDAYA: Nur karim (kiri) dan Istikah (kanan) merangkai limbah saset minuman menjadi tas, ditemani Isniningsih (tengah), di rumah mereka di Desa/Kecamatan Berbek (24/8). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Usia tua tak menjadi hambatan bagi kakak-adik Istikah dan Nur Karim untuk tetap berkarya. Dengan ketelatenannya, mereka mengumpulkan limbah saset minuman untuk membuat tas.

ANDHIKA ATTAR. Berbek, JP Radar Nganjuk

Kedua tangan Nur Karim, 58, dan Istikah, 69, cekatan menganyam potongan limbah plastik di ruang tamu rumahnya di Desa/Kecamatan Berbek, Sabtu (24/8) siang.  Mata mereka memperhatikan dengan lekat potongan-potongan saset minuman yang dianyam. Menjaga agar motif yang dikehendaki tidak salah rangkaian.

Satu per satu potongan plastik bekas bungkus minuman itu disusun. Perlahan  bentuk sebuah tas pun semakin terlihat. Di tangan dua orang lanjut usia (lansia) ini, limbah plastik yang semula tak bernilai disulap menjadi buah tangan yang indah. “Seperti ini caranya,” ujar Istikah sembari menunjukkan caranya menganyam, membuka pembicaraan. 

Sampah plastik yang mereka anyam siang itu didapat dari beberapa warung di Pasar Berbek. Setidaknya ada tujuh warung yang menjadi “rekanan” mereka untuk mengumpulkan limbah saset bekas minuman.

Dalam sehari, perempuan tua itu bisa sampai empat kali ke pasar untuk mengambil sampah saset minuman. Jarak rumah dengan pasar Berbek yang hanya sekitar 200 meter, membuat Istikah ringan melangkahkan kakinya.

Untuk bisa mengumpulkan limbah plastik, Istikah dengan telaten mendatangi satu per satu warung yang ada di sana. Saking seringnya perempuan berkerudung itu mendatangi mereka, sang pemilik warung seolah sudah mafhum. 

Begitu Istikah datang ke warung, dia langsung diberi satu plastik besar saset bekas minuman. Rupanya, sang pemilik sudah menyisihkan sampah yang dicari oleh perempuan yang akrab disapa Mbah Is itu. Mereka dengan suka rela menyerahkannya. “Kadang saya lewat itu langsung dipanggil. Diberi satu kresek limbah plastik,” lanjutnya sambil tersenyum.

Sebagai balasan atas kebaikan para pemilik warung, Istikah memberikan tas hasil kerajinannya kepada pemiliki warung. “Hitung-hitung sebagai balas jasa baiknya mereka,” tuturnya bijak.

Sejauh ini, pasokan bahan baku limbah plastik yang diolah Istikah dan Nur Karim memang baru berasal dari warung di pasar Berbek. Karenanya, jika warung-warung itu sepi pembeli, tak jarang dia harus gigit jari.

Berkali-kali berkeliling pasar, limbah plastik yang dicarinya sedang kosong. Jika sudah demikian, tidak ada pilihan lain. Istikah dan Nur pun terpaksa menganggur. “Kalau sudah tidak ada bahan baku dan nganggur itu rasanya aneh tidak mengerjakan apa-apa,” sambungnya. 

Sejak kapan Istikah menggeluti pembuatan kerajinan tas dari limbah plastik? Ditanya demikian, Mbah Is mengaku akrab dengan sampah plastik itu selama setahun terakhir. Adalah tas plastik dari hajatan tetangga yang memantik rasa penasarannya. 

Melihat bentuk dan polanya yang sederhana, Istikah merasa penasaran. Dia ingin membuat tas serupa. Benar saja, setelah dicoba ternyata dia bisa membuat tas dengan cara dianyam itu. 

Hanya saja, di masa awal percobaannya, tas buatan Istikah dan Nur nyaris tanpa motif. “Dulu morat-marit warnanya. Akhirnya coba-coba lagi dan bisa membuat motifnya,” sambung Nur terkekeh.

Keduanya memang tidak belajar secara khusus kepada orang lain. Semata dari otodidak saja. Setelah bongkar pasang tas karya mereka, dua bulan berselang Nur dan Istikah bisa membuat tas limbah plastik dengan motif yang bagus.

Setelah menekuni selama setahun, Nur dan Istikah bisa membuat hingga tiga tas dalam sehari. Meski karya mereka tergolong rumit, lansia itu tak memasang banderol mahal. 

 Satu tas limbah plastik berukuran kecil dijual Rp 10 ribu. Adapun yang lebih besar Rp 20 ribu. “Yang paling laku tas kecil. Rp 10 ribu,” urai Nur sembari menyebut tas buatan mereka hanya dipasarkan di lokal Nganjuk. 

Keduanya sangat beruntung karena dalam pemasaran mereka dibantu Sri Isniningsih, pengurus bank sampah di lingkungan pasar. Perempuan itu pula yang mencarikan pembeli kerajinan tangan buatan lansia tersebut. “Kalau ada pameran-pameran, selalu saya ajak dan bawa hasil kerajinannya,” ungkap pensiunan Dinas Kehutanan Jawa Timur itu.

Perempuan yang akrab disapa Ning itu mengaku kagum dengan keuletan Istikah dan Nur. Keduanya tetap berdaya di usia tua. Terlebih, kreasi mereka bisa mengurangi limbah plastik di masyarakat.

Seperti halnya Nur dan Istikah, Ning juga menggeluti seni rajut dengan bahan tas kresek. Limbah tas kresek tersebut disulapnya menjadi dompet, tempat handphone, dan semacamnya.

Bagi Ning, usaha mereka mengolah limbah plastik menjadi barang dengan bernilai ekonomi itu bisa jadi tidak berdampak besar dalam masalah pengurangan sampah. Namun, setidaknya mereka sudah berusaha mengurangi sampah plastik yang terancam merusak bumi.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia