Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Bedah Buku Pu Gajah Mada, Menyibak Pembelokan Sejarah Era Kolonial (4)

10 Ribu Tionghoa Meninggal Dibantai VOC

09 September 2019, 19: 36: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

pembelokan sejarah gajah mada

SERIUS: Salah satu peserta bedah buku saat bertanya tentang sejarah Nusantara kepada Agus Sunyoto. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Simpang siurnya kekuasaan Tionghoa di Nusantara zaman dahulu membuat Agus Sunyoto menelisik lebih jauh sejarah kedatangannya dari zaman ke zaman. Mulai dari Tionghoa muslim sebelum era Wali Sanga hingga Tionghoa terakhir yang datang karena pemberontakan Taiping.

Agus Sunyoto menjelaskan, Tionghoa yang datang pertama di Nusantara adalah beragama muslim. “Baru belakangan ada China (Tionghoa) Konghucu itu yang membawa Belanda. Tahun 1720 dibawa ke Indonesia (Hindia Belanda, Red) sebagai pekerja keras di Batavia,” kata Agus Sunyoto.

Ternyata, jumlah penduduk Tionghoa tersebut meledak. Hingga penduduk sekitar merasa terganggu dan akhirnya 29 Oktober 1740, Tionghoa dikumpulkan di pusat Perdagangan Glodok. “Di situlah untuk pertama kali, Tionghoa dibantai oleh VOC. Sekitar 10 ribu orang meninggal,” paparnya.

Sementara yang lain, melarikan diri ke berbagai daerah. Selanjutnya pada 1743, Tionghoa yang melarikan diri dari Batavia tersebut, dari pemaparan Agus Sunyoto, mereka mendukung Raden Mas Garendi untuk angkat senjata. “Dan itulah yang disebut Geger Pacinan,” ungkapnya saat bedah buku beberapa waktu lalu.

Agus Sunyoto menegaskan bahwa Tionghoa dengan agama Konghucu tersebut termasuk pendatang baru di Nusantara. Jauh dibanding Tionghoa muslim yang datang beberapa abad sebelumnya.

Maestro sejarah yang juga ketua Lesbumi NU ini menegaskan bahwa Tionghoa datang ke Nusantara secara bertahap. Bukan secara langsung menjadi satu entitas. Setelah Tionghoa konghucu, ia menyebut pada 1864 datang lagi Tionghoa HK. “China (Tionghoa, Red) yang datang karena pemberontakan Taiping,” cetusnya.

Suatu pemberontakan besar atau perang saudara di Tiongkok memang berlangsung dari tahun 1850 hingga 1864. Pemberontakan tersebut merupakan pertarungan antara Dinasti Qing yang dipimpin oleh suku Manchu dan gerakan milenarianisme Kristen dari Kerajaan Surgawi Perdamaian.

“Mereka yang datang adalah China (Tionghoa) yang agamanya Kristen,” sebut Agus Sunyoto.

Tionghoa Konghucu menganggap Tionghoa yang baru masuk itu adalah orang asing. Mereka adalah tamu atau pendatang baru. “Jadi China (Tionghoa) itu bukan suatu entitas. Ada lapisan-lapisannya,” ungkap Agus Sunyoto.

Proses tersebut haruslah diperhatikan. Dan penguasaan-penguasaan Tionghoa di Nusantara itu menurutnya tidak ada hubungannya dengan awal pertamanya Tionghoa datang. Hal itulah yang perlu diluruskan.

“Yang datang di sini dulu adalah orang Tar-Tar atau Mongol. Dan sekarang adalah orang Han atau China,” jelasnya. Agus Sunyoto mengungkapkan pelurusan sejarah itu tidak gampang. Dan itulah yang saat ini bisa dibuktikan.  

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia