Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Serdadu Kelud Cycling Club, Genjot Upaya Telurkan Atlet Nasional

09 September 2019, 19: 29: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

sepeda komunitas

USAI BERLATIH: Anggota SKCC Kediri usai melahap jalur tanjakan menuju Hutan Pinus Selopanggung. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Komunitas ini tak ingin sekadar hura-hura menekuni olahraga bersepeda. Mereka fokut mencetak atlet balap sepeda. Karena itulah anggota komunitas ini berasal dari pelajar hingga pekerja.

HABIBAH MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Pagi itu, pukul 08.00 WIB, suasana hutan pinus Selopanggung terasa asri. Suara burung terdengar sayup-sayup. Menyelip di antara embusan angin dan suara kendaraan yang melintas jarang-jarang.

Dari kejauhan, beberapa pesepeda terlihat mengayuh kuat pedalnya. Semakin dekat dengan area hutan pinus, sosok para pengendara itu kian terlihat jelas. Tubuh mereka dibanjiri peluh. Terlihat berusaha mendaki dengan menggunakan tenaga yang tersisa. Yang mereka kejar adalah finish di Pos Metro Selorejo.

Nato Nagara, 29, adalah salah satu di antara rombongan pesepeda yang berkumpul dalam kelompok bernama Serdadu Kelud Cycling Club (SKCC) Kediri itu. Nafas Nato tersengal. Namun raut wajahnya menyiratkan kepuasan. Demikian pula dengan para pesepeda yang finish di belakang Nato. Seperti Imam Muklis, yang sudah berusia 60 tahun. Rombongan itu bertolak dari Jalan Raya Kolak, Desa Wonorejo, Kecamatan Ngadiluwih.

“Kami bukan sekadar penghobi sepeda, tapi kami juga ingin mencetak atlet,” ucap Muklis, lelaki yang juga berperan sebagai pelatih di klub bersepeda ini.

Muklis bercerita, terjunnya dia pada olahraga bersepeda melalui jalan yang panjang. Meskipun tak langsung jatuh cinta pada olahraga sepeda, sejak awal dia memang seorang atlet.

“Setelah lulus SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, Red) saya menjadi atlet atletik,” terang laki-laki asal Dusun Ngletih Timur, Desa Ngletih, Kecamatan Papar ini.

Menjadi atlet lari adalah awal perjalanan Muklis. “Atlet lari jarak pendek, mulai dari 5 ribu hingga 10 ribu  meter,” terangnya.

Sayang, ketika menjadi atlet lari dia tak menghasilkan prestasi memuaskan. Paling banter dia masuk posisi lima besar. Hingga akhirnya ia beralih ke cabang  balap sepeda. “Melihat teman sedang bermain sepeda, saya mulai mengikuti bersepeda,” kenangnya.

Pada 1980 Muklis mewakili Kota Kediri di Piala Wali Kota Surabaya. Saat itu dengan jarak tempuh Surabaya- Pandaan. Dia mendapatkan peringkat ketujuh.

Masuknya dia di posisi sepuluh besar itu semakin memacu motivasinya di olahraga bersepeda. Dia pun terpacu bisa meningkat ke lima besar di tahun berikutnya.

Pada 1981, dia mengikuti Kapolda Cup. Pesertanya tak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri seperti Filipina. Hasilnya, dia pun terpilih mewakili Jatim di ajang PON. Sayang, dewi fortuna tidak memihak kepadanya. Gagal membawa kemenangan untuk Jatim.

Pada 1983 Muklis mengikuti Tour de Java. Saat itu usianya 23 tahun. Diapun merasakan rute terpanjang balap sepeda di Indonesia.

Namun, ambisi terbesarnya adalah bisa meraih medali di PON. “Kalau saya belum bisa menang PON, saya tidak akan pernah istirahat,” ucapnya mengenang ambisinya saat itu. Muklis pun berlaga di PON 1985. Akhirnya, saat itu dia mampu meraih medali untuk Jatim.

Setelah menjadi atlet selama sepuluh tahun, Muklis berhenti dan menjadi oficial atlet jatim selama satu tahun. Hingga akhirnya pada usia 30 tahun Muklis pensiun dan bekerja di Surabaya.

Setelah pensiun dari pekerjaanya di Surabaya, Muklis pulang ke Kediri. Meski telah gantung sepeda, ia tetap senang bersepeda. Pada saat itu ia mendapatkan tawaran untuk membuat klub balap sepeda. “Karena saya tidak mau hanya menjadi kelompok yang hanya suka. Kami harus membuat bibit atlet,” terangnya.

Ingin serius dalam pembinaan bibit muda di kancah balap sepeda, Muklis menjadi pelatih  SKCC. Saat lomba Tugu Muda Race di Semarang Juni lalu, SKCC mengirimkan tiga atletnya. “Dua turun di kelas Men Youth dan satu turun di kelas Men Elite,” tutur Nato, menyambung ucapan Muklis.

Yang dikirim saat itu adalah Fajar Sodik, 16, pelajar SMAN 1 Wates dan Firman Maulana, 16, pelajar SMKN 1 Kediri. “Karena saat  itu saya demam panggung,  jadi tabrakan dengan peserta lain,” aku Fajar. Sementara itu, Firman berhasil menempatkan diri di urutan kelima.

Nato yang paling sering gonta ganti sepeda ini paling aktif untuk mengingatkan teman-temannya saat gowes. Agar rapi dan kecepatan terjaga sehingga meminimalisasi terjadinya kecelakaan. “Juga supaya peleton tetap utuh tidak ada yang ketinggalan,” tutur Nato.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia