Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Bedah Buku Pu Gajah Mada, Menyibak Pembelokan Sejarah Era Kolonial (3)

Buktikan Wali Songo Bukan Mitos

08 September 2019, 18: 29: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

pembelokan sejarah gajah mada

INTENS: Peserta bedah buku menanyakan tentang pembelokan sejarah yang terjadi di masa kolonial. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Salah satu yang menjadi perhatian Belanda adalah sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Yakni sejarah tentang Wali Songo. Untuk mengaburkannya, Belanda sengaja membuat naskah baru agar sejarah penyebaran Islam di pesisir utara Jawa tersebut buram.

Dalam suatu berita, sejarah Wali Songo sengaja diburamkan. Termasuk penjelekan dan penafsiran kisahnya sebagai sejarah yang dinilai hanya mitologi belaka. Oleh karenanya, Agus Sunyoto tak tinggal diam menyikapi hal tersebut. Banyak penelitian yang dilakukan sejarawan ini untuk mencari bukti akan keberadaan Wali Songo yang menjadi tokoh penyebar Islam melalui berbagai cara menarik.

Dari pemaparan Agus Sunyoto dalam bedah buku, menyebut bahwa sebenarnya penyebaran Islam ke Nusantara sudah dilakukan sejak lama. Hanya saja, penyebaran tersebut tak semulus saat era Wali Songo.

Penyebaran Islam menurutnya sudah ada sejak  674 Masehi. Berita itu yang pernah disampaikan orang-orang Tionghoa di era Dinasti Tang. Yang menyebut  tentang kehadiran orang-orang Tazhi (Arab) di Kerajaan Kalingga yang dipimpin oleh Ratu Shima. Hanya saja, penyebaran tersebut dinilai kurang berhasil.

Hal itu dinilai karena cara penyampaian mereka yang kurang memperhitungkan kondisi sosial budaya di Nusantara. Menurut Agus Sunyoto, hal tersebut juga dibuktikan oleh sejarah Marcopolo sebelum era Kerajaan Majapahit.

Bedah Buku Pu Gajah Mada

Bedah Buku Pu Gajah Mada (radarkediri.id)

“Marcopolo ketika pulang dari China (Tiongkok), pada 1292 mencatat sempat singgah di Pelabuhan Perlak di Aceh, tepatnya pantai timur Selat Malaka,” paparnya.

Dari catatan tersebut, ia bertemu dengan orang-orang Tionghoa. Dan semuanya beragama Islam. Padahal saat itu penduduk asli Aceh, masih menyembah batu, pohon, dan beribadah di gua. “Ternyata China (Tionghoa) muslim terlebih dahulu ada di Nusantara,” jelasnya.

Sementara penduduk pribumi belum Islam, baru 100 tahun kemudian tepatnya pada 1405. Saat Era Majapahit yang dipimpin Hyang Wisesa atau Wikrama Wardana. “Ceng Ho singgah di Tuban dan bertemu orang-orang China (Tionghoa), seluruhnya muslim. Termasuk saat mendarat di Gresik dan Surabaya,” lanjutnya.

Total ada 1.000 keluarga yang seluruhnya juga muslim. Dalam kunjungan ke 4, 6, dan 7 Cengho mengajak juru tulis muda bernama Mahwan. Tepatnya tahun 1433. Mahwan mencatat seluruh pantai utara Jawa ada 3 golongan penduduk. “Orang-orang China (Tionghoa) yang seluruhnya muslim, kemudian orang barat yakni dari Arab dan India seluruhnya muslim,” jelasnya.

Dan ketiga penduduk pribumi yang masih belum memeluk agama Islam. Masih menyembah batu dan pohon-pohon dan itu sebelum Wali Songo. “Faktanya seperti itu, Islam belum diterima penduduk pribumi,” jelasnya.

Dan untuk mengajak masyarakat pribumi tersebut, di zaman Wali Songo akhirnya memecah kebuntuan sulitnya penerimaan Agama Islam oleh pribumi. “Wali Songo sangat paham dengan kultur sosial yang berlaku di kalangan masyarakat Jawa menjadikan dakwah Islam yang mereka sampaikan diterima secara baik,” jelasnya.

Mereka masuk melalui wayang, kidung-kidung lokal yang dimodifikasi dengan subtansi Islam, dan banyak hal yang membuktikan bahwa dakwah yang dilakukan Wali Songo lakukan sangat fleksibel. Sehingga tanpa harus kehilangan subtansinya, orang merasa tertarik dengan Islam.

Agus Sunyoto sebelumnya menyebut, Belanda sangat tidak suka terhadap hal-hal yang berbau Islam. Itu usai perang Diponegoro. Karena itu, dimunculkanlah bahwa seolah-olah Islam adalah kekuatan yang tak jelas asal-usulnya dengan menciptakan berbagai cerita-cerita mitologi. “Yang membuat cerita bahwa Wali Songo adalah kisah mitologi itu jelas ulah Belanda,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia