Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Sepak Bola dan Plat Nomor

08 September 2019, 18: 17: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

Anwar Bahar Basalamah

Oleh : Anwar Bahar Basalamah (radarkediri.id)

Share this          

Apa hubungan sepak bola dengan plat nomor? Tidak ada. Sangat tidak ada. Kalau Anda memaksakan mencarinya, kita tetap saja akan kesulitan menemukannya.

Sepak bola dimainkan di lapangan oleh dua tim yang masing-masing terdiri dari 11 pemain. Mereka berebut bola dengan strategi untuk mencetak gol ke gawang  lawan yang dijaga kiper. Kemenangan diraih setelah satu tim unggul dalam urusan menceploskan bola.

Sebagai olahraga paling digandrungi sejagat, sepak bola sudah melahirkan banyak bintang lapangan. Pele dan Maradona, barangkali menjadi representasi era di mana sepak bola belum mashyur menjadi industri. Kemudian muncul Ronaldo dan Messi yang merupakan magnet sepak bola modern di zaman milenial.

Kalau begitu apa kaitannya dengan plat nomor? Benda itu kita pakai sebagai tanda nomor kendaraan. Sehingga setiap kendaraan yang dimiliki, baik itu roda dua maupun empat, menjadi jelas identitas pemiliknya.

Plat nomor terdiri dari nomor seri. Yakni susunan huruf dan angka yang dikhususkan untuk kendaraan. Di Indonesia, kita sering menyebutnya nomor polisi atau nopol. Dengan kendaraan bernopol, secara tidak langsung, kita mempunyai izin untuk mengoperasikannya.

Untuk membedakan plat nomor di masing-masing daerah,  biasanya dibedakan dengan kode wilayah.  Di Jakarta, semua kendaraan berplat B. Kemudian Surabaya dan Malang memiliki kode L dan N. Di Kediri dan sekitarnya seperti Tulungagung, Blitar, Nganjuk, dan Trenggalek, nopol diawali dengan huruf AG.

Dari penjelasan itu, kita semakin sulit mendapati hubungan sepak bola dan plat nomor. Akan tetapi, jika kita menarik sepak bola ke suporter, barangkali dalam momen tertentu, ada hubungan menarik antara keduanya yang sebenarnya tidak lazim

Kalau Anda tidak percaya soal hubungan itu, saya akan bagikan kisah teman saya yang dituturkan kepada saya. Ceritanya terjadi pada 2009. Teman saya, sebut saja namanya Ibrahim, adalah mahasiswa asal Sulawesi yang kuliah di Malang.

Ya, dia benar-benar asli keturunan Sulawesi. Logat, rambut, dan dua orang tuanya, semua berasal dari Sulawesi. Ibrahim, jauh dari kata pemuda keturunan Jawa.

Waktu itu, di Kota Malang, Aremania –pendukung Arema- tengah merayakan pesta ulang tahun Arema dengan berkonvoi keliling kota. Semua jalanan padat dengan arak-arakan suporter paling fanatik di Indonesia itu.

Ibrahim yang tidak punya darah Jawa itu, secara kebetulan melintas di tengah konvoi dengan sepeda motornya. Sialnya, sepeda motor Honda GL yang ditunggangi itu bernopol  L. Itu berarti sepeda motor tersebut berasal dari Surabaya.

Ceritanya kepada saya, dia memang meminjam motor salah satu kerabatnya yang asli Surabaya. Tahu motornya berplat L, Ibrahim ingin cari aman. Apalagi beberapa orang dari rombongan konvoi sudah meneriakinya. “Bonek..Bonek..Bonek.”

Ibrahim lalu tancap gas menuju sebuah gang. Saat itu, dia merasa dikejar sejumlah orang yang terus meneriakinya sebagai pendukung Persebaya itu. Ibrahim tak peduli. Gang-gang sempit dia lalui sampai menembus ke kos-kosannya.

Akhir cerita, Ibrahim selamat dari kejaran tersebut. Saya yang mendengar ceritanya waktu itu, sebenarnya sempat tertawa. Saya lantas bertanya kepadanya,”Kenapa kamu tidak berhenti dan menjelaskan.”

Jawabanya waktu itu, menurut saya masuk akal dan logis. “Kalau saya jelaskan, mungkin saya selamat. Tapi tidak dengan sepeda motor ini.”

Sebab, dengan penjelasan itu, saya yakin Ibrahim tidak akan mengalami kekerasan. Karena saya tahu, meskipun orang Sulawesi, dia adalah Aremania. Termasuk saya yang semasa kuliah beberapa kali menonton pertandingan Arema di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen.

Andai saja dia berhenti, mungkin motor kerabatnya itu akan menjadi sasaran empuk. Lalu, apa masalahnya dengan sepeda motor plat nomor L? Kita memang tahu, hubungan Aremania dan Bonek kurang harmonis dalam sepak bola Indonesia.

Tetapi melampiaskan kekesalan pada kendaraan dengan nopol kode wilayah rival klub, tentu saja tindakan yang irasional. Sebab, tidak semua pemilik kendaraan adalah pendukung fanatik klub asal kotanya. Bisa jadi, dia malah bukan penggemar sepak bola. Atau bahkan, dia mendukung klub asal kota lain.

Kekerasan dalam sepak bola Indonesia memang terkadang di luar nalar. Apapun yang berbau Surabaya, Malang, Kediri atau kota-kota lain yang dianggap sebagai musuh, menjadi sasaran untuk dibenci. Saya khawatir, selain plat nomor, kuliner dan ciri-ciri lain dari daerah tertentu, juga ikut menjadi korban permusuhan antarsuporter.

Kerusuhan antarpendukung, Kediri dan Jogjakarta, Senin lalu (2/9), sontak membuat saya teringat kisah Ibrahim. Sebab, setelah peristiwa itu, muncul broadcast yang tersebar di Whatsapp (WA) ada sweeping warga Kediri dengan sepeda  motor plat AG-nya di Jogjakarta.          

Terlepas hoax atau bukan, kabar itu membuat warga Kediri yang berkuliah di Jogja atau sebaliknya menjadi waswas. Mereka yang tidak tahu menahu soal kerusuhan sepak bola ikut terancam. Padahal, bisa saja, ada warga Kediri menikahi orang Jogjakarta, tetapi platnya belum berganti menjadi AB.

Kalau di luar sepak bola, orang Kediri bisa menikah dengan Jogjakarta, seharusnya suporter juga demikian. Sebab, sepak bola akan semakin dicintai ketika suporternya mencintai perdamaian. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia