Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Temukan 400 Kasus TBC di Kediri

Dinkes Minta Pasien Tak Putus Pengobatan

08 September 2019, 17: 52: 55 WIB | editor : Adi Nugroho

TBC Kediri

TBC Kediri (radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Penyakit tuberkulosis (TBC) di Kota Kediri harus mendapat perhatian banyak pihak. Pasalnya, di semester pertama tahun ini, dinas kesehatan (dinkes) sudah menemukan lebih dari 400 kasus. Empat pasien di antaranya tergolong multidrug resistant (MDR) atau kebal terhadap penggunaan obat.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri Alfan Sugiyanto mengatakan, total ada 462 pasien TBC yang ditemukan sepanjang Januari-Juni 2019. Dari jumlah itu, sebanyak 445 orang merupakan pasien baru.

Alfan merinci, sebanyak 102 orang tergolong pasien dengan bakteri tahan asam (BTA) positif. Kemudian, 325 orang BTA negatif tetapi pemeriksaan secara klinis positif. Terakhir, ada TBC ekstra paru sebanyak 18 orang.

“Yang lain adalah pasien kambuh dan pengobatan tidak tuntas,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Untuk pasien kambuh, Alfan mengungkapkan, dinkes menemukan sebanyak 12 orang. Mereka adalah pasien TBC yang sempat sembuh tetapi kambuh kembali. Sementara sisanya sebanyak lima orang adalah pasien pernah berobat tetapi tidak menuntaskan pengobatan.

Selain itu, lanjut Alfan, ada empat orang MDR. Saat ini, mereka melakukan pengobatan lewat puskemas di Kota Kediri. Rinciannya, dua orang di Puskesmas Sukorame, dan masing-masing satu pasien di Puskesmas Balowerti dan Pesantren 2. 

“Sebelumnya, setelah dinyatakan MDR, mereka dirujuk ke Tulungagung (RSUD dr Iskak),” ujarnya.

Atas temuan ratusan kasus di Kota Kediri, Alfan menyampaikan, masyarakat harus waspada terhadap TBC. Terutama pasien yang sudah positif wajib melakukan pengobatan secara rutin. “Tidak boleh putus obat,” urainya.

Dia menambahkan, pasien TBC harus menjalani pengobatan pertama selama enam bulan penuh. Dalam kurun waktu tersebut, mereka tidak boleh meninggalkan obat sehari sekalipun. “Karena di situ kunci kesembuhannya,” paparnya.

Dalam masa pengobatan, menurut Alfan, dinkes akan terus melakukan evaluasi. Di dua bulan pertama, pihaknya akan mengecek dahak pasien. Kemudian di bulan kelima dan keenam, ada evaluasi terakhir. Begitu dahak sudah positif, maka pasien dinyatakan sembuh.

    Meski demikian, penanganan setiap orang tidak sama. Mereka yang memiliki penyakit komplikasi seperti diabetes dan HIV, pengobatannya bisa lebih dari enam bulan. “Kalau ada komplikasi, pengobatan lebih lama,” kata Alfan.

Karena itulah, pasien harus tetap melakukan pengobatan sampai tuntas. Sebab, jika sampai terputus, ada kemungkinan yang bersangkutan menjadi kebal terhadap obat.

Selain penyakit yang tidak kunjung sembuh, beberapa pemicu MDR antara lain adalah tidak konversinya pemeriksaan dahak. Misalnya di bulan kedua, setelah ada pemeriksaan, dahak tetap positif. Yang berikutnya, ada kontak dengan pasien MDR.

“Biasanya di dalam keluarga. Kalau temuan seperti itu, kami akan lakukan pengecekan MDR. Sebab (jika positif) pasien bisa langsung dirujuk ke Tulungagung,” kata Alfan.         

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia