Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Bedah Buku Pu Gajah Mada, Menyibak Pembelokan Sejarah Era Kolonial (2)

Buktikan Naskah Baru Versi Belanda Fiktif

07 September 2019, 14: 37: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

agus sunyoto pu gajah mada

UNGKAP SEJARAH: Agus Sunyoto dalam diskusi yang membedah bukunya di kantor JPRK, Rabu (4/9). (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Salah satu latar belakang Agus Sunyoto mengumpulkan naskah-naskah kuno karena kecurigaan terhadap naskah baru yang dibuat Belanda. Di antaranya menjelekkan nama Wali Songo sebagai penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

Perlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa menjadi salah satu hal yang menyulitkan Belanda untuk menduduki Nusantara. Apalagi peran pesantren dalam melakukan perlawanan, membuat Belanda mengatur strategi lain melalui perang ideology. Yakni dengan membelokkan fakta-fakta sejarah Nusantara.

Paparan itu disampaikan Agus Sunyoto dalam acara bedah buku novel sejarah ‘Mahapatih Mangkubhumi Majapahit Pu Gajah Mada’ karyanya di Brantas Room, kantor Jawa Pos Radar Kediri (4/9). Menurutnya, dalam naskah-naskah baru yang dibuat Belanda banyak yang menceritakan hal fiktif.

Tidak sesuai dengan naskah kuno yang dibuat sebelum era penjajahan kolonial. Salah satunya pada abad 19, secara khusus Belanda mengeluarkan naskah bernama Kidung Sunda.

“Ceritanya yaitu Gajah Mada membunuh Raja Sunda, keluarga dan pasukannya,” kata Agus.

Namun ternyata setelah diteliti lebih dalam, cerita tersebut tidak benar. Naskah itu hanyalah buatan orang pada zaman penjajahan. Dan merupakan rekayasa Belanda yang bertujuan untuk memecah belah.

Termasuk naskah-naskah yang banyak menjelekkan Wali Songo. Salah satunya ada di dalam Babad Kediri, di mana Sunan Bonang, Sunan Giri dijelek-jelekkan. Dakwah Islam itu jelek karena merusak tatanan masyarakat dan seterusnya. “Naskah itu juga buatan Belanda,” jelasnya.

Dari serat tersebut lahir naskah-naskah lain yang masih buatan Belanda. Dan semuanya cenderung mendiskreditkan Wali Songo. Seperti Serat Syekh Siti Jenar, Serat Darmogandul, dan juga Kronik Kelenteng Sam Po Kong.

Dalam salah satu naskah tersebut, diceritakan Wali Songo adalah utusan Kaisar China yang ditugaskan untuk meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Padahal itu jelas tidak ada di naskah kuno sebelumnya.

Intinya, semua buatan Belanda tidak ada dalam kenyataan. “Saya pernah mencari naskah ini (Berupa Kronik Kelenteng Sam Po Kong) hingga ke Leiden, karena menurut kabar ada di sana, ternyata tidak ada,” paparnya.

Bahkan untuk menelusuri naskah berupa kronik tersebut, Agus menanyakan ke sejumlah sejarawan. Termasuk dari beberapa kabar, ada sejarawan Belanda bernama De Graaf.

Menurut Agus, ketika ditanya naskah kronik yang dicarinya, De Graaf hanya tertawa karena memang naskah itu adalah fiktif atau sama sekali tidak ada. “Naskah itu bohong dan memang tidak ada. Tujuannya untuk menghancurkan Islam dan menjelek-jelekan Wali Songo,” imbuhnya.

Tentu semua ini menjadi salah satu patokan, bahwa ternyata banyak naskah buatan Belanda yang fiktif. Dan semua itu harus diwaspadai. “Kita harus lebih hati-hati dengan naskah yang dibuat kolonial, diteliti dulu, kita harus membandingkannya dengan data-data lain,” saran Agus. Sehingga diharapkan, masyarakat tidak terkecoh dengan naskah-naskah baru yang dibuat tersebut.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia