Kamis, 17 Oct 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Bedah Buku Pu Gajah Mada, Menyibak Pembelokan Sejarah Era Kolonial (1)

Sejak 2015 Kumpulkan Ribuan Naskah Kuno

06 September 2019, 14: 37: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

pu gajah mada

PAPARAN: Agus Sunyoto saat menguraikan kisah buku Pu Gajah Mada yang ditulisnya. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Bedah novel sejarah ‘Mahapatih Mangkubhumi Majapahit Pu Gajah Mada’ karya Agus Sunyoto di Jawa Pos Radar Kediri (4/9) banyak menguak data yang sebelumnya tak terekspose. Apa saja?

Ilmu sejarah merupakan ilmu yang mempelajari tentang peristiwa di masa lampau. Dalam mengkaji ilmu ini, tak jarang ilmuwan saling adu argumentasi untuk mendapat fakta-fakta yang paling benar dalam menjelaskan peristiwa masa lampau. Tentu saja, semua itu harus dengan bukti-bukti yang memiliki alasan jelas.

Akan tetapi bagaimana jika cerita masa lampau itu tak sesuai dengan kejadian sesungguhnya? Semua itu telah diulas dalam acara bedah buku oleh sang maestro sejarah PBNU Agus Sunyoto di kantor Jawa Pos Radar Kediri, Rabu (4/9) lalu.

Dari pemaparannya dalam diskusi serta launching sekaligus bedah buku tersebut, Agus Sunyoto menyampaikan, cukup banyak fakta-fakta sejarah yang ternyata tidak sesuai dengan kejadian sesungguhnya. Terutama sejarah tentang kejayaan Nusantara di masa lampau.

“Banyak pembelokan sejarah di masa kolonial. Ini yang harus diluruskan,” katanya di tengah audiens yang sebagian besar berlatar belakang penggiat sejarah itu.

Menurutnya, pembelokkan sejarah itu banyak yang menceritakan tentang kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang memang sengaja dikaburkan. Bahkan banyak teknologi masa lalu yang luar biasa sengaja ditutupi oleh penjajah Belanda.

Tentu saja, Agus berani mengatakan adanya pengaburan itu tak lepas dari fakta-fakta tertulis yang telah dikumpulkannya. Setidaknya selama ini sejak 2015 Agus mulai mengumpulkan naskah-naskah kuno. Sementara di tahun itu juga ada 6.528 naskah. Dan hingga saat ini telah mencapai 8.300 naskah kuno yang dikumpulkan.

“Mulai naskah dari zaman akhir Kerajaan Majapahit, Kasultanan Demak, Pajang hingga Mataram,” paparnya.

Namun, Agus mengaku, yang bisa membaca naskah kuno tersebut hanya tiga orang. Sehingga hanya sedikit-sedikit naskah yang mampu dibaca. “Dari naskah-naskah itu kita tahu banyak, ternyata selama ini banyak cerita sejarah diselewengkan,” tegasnya.

Dari naskah-naskah tersebut, banyak diketahui dari masa Kerajaan Demak sampai Pajang. Yang termasuk se-zaman Walisongo dan seterusnya ditulis dengan menggunakan aksara Jawa.

“Selama ini kitab zaman Kerajaan Demak ditulis dengan aksara Jawa. Bahkan ada beberapa huruf zaman Majapahit yang ada perubahan sedikit  karena dinilai terlalu sulit,” ucapnya.

Agus menegaskan, naskah-naskah itu sebagai bukti untuk meluruskan cerita sejarah masa lalu yang sempat dikaburkan oleh Belanda. “Kita sudah menyatakan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan rekonstruksi sejarah harus ada datanya. Dan sejarah adalah sebuah disiplin ilmu yang tidak bisa berdiri sendiri,” terangnya.

Harus ditopang ilmu lain seperti arkeologi, ekonografi, termasuk ilmu kimia untuk menguji usia suatu benda purbakala. Sehingga dengan hal tersebut, Agus mengajak, para pelaku dan penggiat sejarah untuk bersama meluruskan fakta sejarah yang selama ini telah dibelokkan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia