Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

DLH Perlu TPST di Tiap Kecamatan

Supaya Dapat Kurangi Volume Sampah di TPA

06 September 2019, 10: 15: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

Sampah

MENGAIS REZEKI: Seorang pemulung sedang mencari sampah plastik yang masih dapat didaur ulang di TPA Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk kemarin (2/9). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Menggunungnya sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Kedungdowo sejatinya dapat dikurangi. Yakni dengan dibangunnya tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) dan tempat pembuangan sementara reduce, reuse, and recycle (TPS3R).

“Kami sendiri berharap supaya ada pengurangan sampah yang masuk TPA itu dapat dioptimalkan dengan TPST dan TPS3R di tiap kecamatan. Sehingga volume sampah yang masuk ke TPA itu menjadi berkurang,” tutur Kasi Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nganjuk Sumadi.

Lebih lanjut, dengan berkaca akan kebutuhan tersebut, ia mengakui, jumlah sarana TPST dan TPS3R masih kurang. Bahkan di Kecamatan Nganjuk sendiri dirasa masih dapat dimaksimalkan. Sehingga tidak perlu sampai harus dibawa ke TPA.

Lalu, bagaimana kondisi di kecamatan lain? Menurut Sumadi, semuanya masih berstatus hanya TPS saja. Belum ada sistem pengolahan sampah di sana. Benar-benar hanya untuk “transit” sampah saja yang nantinya akan dibawa dan diolah di TPA.

“Di TPS kecamatan itu kan belum ada sistem pengolahan. Kalau tidak diolah, seberapa pun luasan TPA tetap akan penuh lagi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sumadi menerangkan bahwa dalam pembangunan TPS di kelurahan atau desa bukanlah kewenangan DLH. “Pembangunan TPS tersebut merupakan kewenangan dari pihak pemerintahan kelurahan maupun desa yang bersangkutan,” paparnya.

Hanya saja, untuk pengangkutan sampah dari TPS menuju TPA, pihaknya menegaskan, tetap melayani. Oleh karena itu, DLH pun mempersilakan kepada pihak desa maupun kelurahan untuk dapat membuat TPS. “Nanti kami akan melayaninya (pengangkutan, Red),” tandas Sumadi.

Sementara itu, untuk permasalahan sampah di Nganjuk sekarang ini pihaknya mengaku masih mengoperasikan TPA Kedungdowo. Hanya saja, Sumadi mengamini, kondisi TPA Kedungdowo telah mendekati penuh.

Sampah yang masuk ke sana berkisar antara 37 ton – 47 ton per harinya. Angka itu merupakan sampah dari seluruh Nganjuk. “Overload sih tidak. Tapi memang harus diperlukan improvisasi untuk pengelolaan sampah tersebut,” imbuh Sumadi.

Pihaknya mengusahakan adanya inovasi agar volume sampah yang masuk tersebut masih dapat tertampung di sana. Salah satu cara yang ditempuh oleh pihaknya adalah untuk mengaktifkan zona yang dulunya sempat vakum. Alias sempat tidak digunakan lagi. “Zona yang dulunya non-aktif, sekarang kita aktifkan lagi,” kata Sumadi.

Tahun depan, rencananya Kabupaten Nganjuk akan mendapatkan program pembangunan TPA oleh pemerintah pusat. Yakni TPA Joho. Hanya saja, pembangunan TPA Joho urung dilaksanakan pada tahun ini. Sebab, dana untuk pembangunan tersebut dialokasikan untuk hajatan pemilihan presiden (pilpres), kemarin.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia