Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Freddy dan Novita, Pasutri Peracik Teh Seruputan Khas Kota Angin

Manfaatkan Rosela dari Petani Lokal

06 September 2019, 10: 10: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

Teh

KREATIF: Freddy Jefri dan Novita Ayu sedang mengolah teh khas Nganjuk di rumahnya, Jalan WR Supratman, Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Kreativitas suami istri ini (pasutri) patut diacungi jempol. Berbekal kegemaran minum teh, mereka membuat teh seruputan asli Nganjuk. Modal awal hanya Rp 100 ribu, kini omzetnya jutaan rupiah.

 REKIAN, JP Radar Nganjuk 

Lalu lalang kendaraan memadati Jalan WR Supratman, Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk. Ramainya jalan raya siang itu (28/8), kontras dengan workshop teh seruputan Nganjuk yang berderet di antara rumah dan kios.

Hanya ada Freddy Jefri Eduardo Turang, 39, dan istrinya, Novita Ayu Tirenaningtyas, 26, sebagai pemilik produk minuman teh Nganjuk, terlihat sibuk. Saat jarum jam menunjukkan pukul 13.30, Freddy dan istrinya tampak meracik teh yang setiap hari mereka produksi.

Di atas meja tempat keduanya bekerja ada beberapa alat dan bahan baku teh yang akan mereka bikin. Peralatannya mulai dari timbangan digital, gunting hingga bahan baku pembuatan teh seperti rosela, teh hijau, teh hitam, hingga melati.

“Ada takarannya agar bisa memunculkan aroma sedap dan rasa sepetnya pas,” kata pria keturunan Manado ini.

Didampingi istrinya, Freddy dengan telaten menggunting dan memasukkan daun rosela yang sudah dikeringkan. Selain suara gunting, bising kendaraan di luar workshop masih saja terdengar. Hingar bingar jalan Kota Angin itu tak membuat pasangan yang sudah dikaruniai dua putra ini terganggu.

Mereka terus memproduksi teh Nganjuk untuk dikirim ke luar daerah dan disebar ke beberapa outlet di Nganjuk. Produk teh khas Nganjuk ini pun hanya dikerjakan berdua. Tanpa bantuan orang lain.

Freddy dan istrinya masih menjaga rahasia takaran tehnya. Bekal suka minum teh, Novita lah yang punya ide membuat teh tersebut. Ibu dua anak ini menceritakan, awal mula membuat teh khas Nganjuk ini dari kebiasaan keluarganya. “Dulu kalau ke mana-mana pasti bawa teh,” ceritanya.

Dari sanalah Novita kemudian mengajak suaminya untuk membuat dan memproduksi teh khas Nganjuk. “Suami saya dulu kerja di proyek, waktu mau ke Kalimantan saya cegah. Lalu kami sama-sama membuat teh khas Nganjuk ini,” kenangnya.

Punya ilmu dasar kefarmasian, Novita mengerti manfaat tumbuhan seperti rosela dan beberapa jenis teh. “Rosela ini punya manfaat antioksidan yang tinggi,” ungkapnya. Bila dicampur dengan teh, Novita yakin tidak akan membawa efek bagi tubuh.

Perempuan berambut panjang ini mengaku, idenya itu di-support sama suaminya hingga akhirnya mereka sepakat memproduksi teh khas berbahan dasar dari rosela ini.

“Tanaman ini banyak ditemui di petani lokal seperti Loceret dan di Sawahan,” katanya. Mudahnya mendapat bahan baku rosela membuat keduanya langsung melakukan uji coba.

“Pertama kali kami hanya mengeluarkan modal Rp 100 ribu untuk beli bahan bakunya,” terang perempuan berdarah Klaten, Jawa Tengah ini.

Awalnya, dari uji coba yang mereka lakukan terjadi banyak kegagalan. Pertama, rasa terlalu asam. Sehingga memunculkan aroma basi pada minuman. Untuk mengurangi kadar asam, pasangan suami istri (pasutri) ini lalu mengurangi kadar bunga rosela dan menambah melati untuk menambah aroma tehnya.

Sementara untuk teh hijau dan teh hitam sampai saat ini mereka beli dari Jawa Tengah. “Setelah kami dapat cita rasa, muncul masalah lagi warna tehnya jadi cokelat muda,” lanjut Novita.

Setelah beberapa kali uji coba akhirnya mereka mendapat takaran yang pas untuk menimbulkan warna cokelat tua dan menghilangkan dominasi asam dari rasa rosela. Sampai akhirnya, hasil karya Freddy dan Novita ini bisa memproduksi teh dengan rasa asli teh alami.

“Sepetnya ada, aroma dan warnanya juga masuk,” beber pasangan ini kompak.

Setelah yakin, keduanya pun mulai merambah ke pasar. Hampir satu tahun belakangan ini, banyak penikmat yang memberikan testimoni dan meminta agar penjualan produknya dilakukan secara online.

Beberapa bulan penjualan melalui internet itu menyebabkan permintaan mulai banjir. Dari luar daerah seperti Jogja, Bali, Magelang, dan Papua. “Selebihnya lokal Jawa Timuran,” kata Novita.

Penikmat teh khas Nganjuk ini mulai mendapat pasarnya. Bahkan dalam sebulan omzet mereka sudah mencapai jutaan rupiah. Selain dari permintaan produk mentah, pasangan ini juga buka outlet minuman khusus teh dengan 31 varian. Beberapa sudah tersebar di Nganjuk.

Untuk mendapat hak paten, Freddy dan Novita sekarang sedang mengajukan ke HAKI (hak atas kekayaan intelektual) dan membuat PIRT (pangan industri rumah tangga) untuk izin usaha produksi rumahan.

Menurut pasangan ini, teh Khas Nganjuk ini selain membantu petani lokal yang menanam rosela, juga punya khasiat. Keduanya sepakat meminum teh khas Nganjuk pada pagi hari tanpa gula. Meminum itu bisa membuat kondisi badan segar dan tidak mudah capek. Selain itu bagus untuk pencernaan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia