Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
PERSIK KEDIRI

Kerusuhan Suporter di Kediri: Tirtayasa Tuntut Ganti Rugi

Panpel Persik Belum Bisa Beri Putusan

05 September 2019, 18: 45: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

kerusuhan suporter kediri

MEMANAS: Suporter tamu pendukung PSIM dan suporter Persik yang berada di tribun Stadion Brawijaya. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Siapa pihak yang akan menanggung ganti rugi kerusakan sejumlah fasilitas saat bentrok suporter PSIM dan Persik, sampai kemarin belum jelas. Dari PT Liga Indonesia Baru (LIB), yang kemarin datang ke Kediri, juga belum memutuskan. Namun, manajemen Taman Tirtayasa yang fasilitasnya banyak yang rusak tetap akan menuntut ganti rugi. Sasarannya tentu saja ke pihak panpel Persik.

Saat kerusuhan antara Brajamusti dan Persikmania, Senin lalu (2/9), manajemen Taman Tirtayasa memang yang dirugikan. Sejumlah fasilitas tempat rekreasi yang berada di sisi utara Stadion Brawijaya itu menjadi sasaran amuk massa. Bahkan, taman wisata itu terpaksa tutup selama sehari.

motor kerusuhan suporter

AMBIL MOTOR: Polisi memberi jalan bagi seorang pelajar yang menuntun motornya dari lapangan parkir Taman Tirtayasa. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Manajer Operasional Taman Tirtayasa Ayub Satria mengatakan, estimasi kerugian akibat bentrok suporter berkisar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Sebab, selain perusakan sarana dan prasarana (sarpras), beberapa fasilitas juga ikut raib. “Kami perkirakan sampai dua puluh juta (rupiah),” kata Ayub kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Ayub menerangkan, ada enam buah closed circuit television (CCTV) dan dua komputer yang digondol. Selain itu, suporter juga merusak pintu masuk (gateway) ke parkiran. “Itu (pintu) harganya sekitar 800 ribu (rupiah),” ungkapnya.

Kerusakan lain adalah empat buah lampion berbentuk binatang, tempat duduk, tiang penyangga, dan 22 bak sampah. Selain itu, beberapa ekor kelinci milik Tirtayasa juga hilang karena dicuri saat kejadian. “Untuk jumlahnya (kelinci), kami belum merincinya,” aku Ayub.

Terkait kerugian itu, Ayub mengatakan, manajemen tidak ingin menanggung sendiri perbaikannya. Karena itu, pihaknya meminta panpel Persik untuk memberikan ganti rugi kerusakan. “Kami tadi (kemarin, Red) sudah berkoordinasi dengan panpel soal ganti rugi,” katanya.

Akibat amuk penonton, Ayub mengaku, Taman Tirtayasa sempat tutup sehari pada Selasa lalu (3/9). Sebab, pihaknya harus memperbaiki sejumlah fasilitas yang dirusak. Terutama pintu masuk ke parkiran. Kemarin, taman rekreasi di Jl Ahmad Yani itu sudah dibuka kembali.

Soal ganti rugi, Direktur Media PT LIB Hanif Marjuni belum berani memberi keputusan. Menurutnya, kejadian bentrok antar suporter merupakan kategori force major. “Nanti tindak lanjutnya dari pihak terkait,” kata Hanif setelah meninjau  Stadion Brawijaya dan Taman Tirtayasa kemarin.

Siapa pihak terkait tersebut? Dia mengatakan, panpel Persik akan berkoordinasi dengan Brajamusti –suporter PSIM- untuk membahas ganti rugi. Pasalnya, laga Persik kontra PSIM masih menjadi kapasitas panpel. “Dalam kasus ini, LIB tidak bisa melakukan ganti rugi. Setelah ini (kemarin, Red), kami langsung ke Jogja untuk membahas pasca-kerusuhan,” ungkapnya.

Ketua Panpel Persik Widodo mengaku, sudah berkoordinasi dengan Taman Tirtayasa. Namun pihaknya belum memutuskan ganti rugi. “Kami belum bisa putuskan sekarang. Harus koordinasi dengan pihak lain, termasuk suporter PSIM,” kata Widodo.

Untuk diketahui, selain kerusakan fasilitas Taman Tirtayasa, ratusan sepeda motor milik suporter juga dirusak. Bahkan, ada tiga mobil mengalami kerusakan berat. Sementara itu, sejumlah suporter PSIM Jogja dipulangkan oleh penyidik Polres Kediri Kota, kemarin. Beberapa dari suporter diantarkan hingga di Mengkreng, Desa Mekikis, Purwoasri.

Saat ditemui di Mapolres Kediri Kota,  Kasatreskrim AKP Hanif Fatih Wicaksono menjelaskan bahwa benar, ada sebagian suporter PSIM yang diamankan pascakerusuhan Senin (3/9) malam yang dipulangkan kemarin. “Ada beberapa yang kami pulangkan karena tidak ditemukan bukti,” terangnya.

Para suporter yang dipulangkan itu diantarkan hingga ke salah satu pemberhentian bus. Mereka berencana menggunakan bus untuk kembali ke Jogjakarta. Kemarin, ada dua-tiga mobil yang mengantarkan para suporter ini ke tempat pemberhentian bus di perbatasan Kediri-Nganjuk itu.

Saat ini masih ada beberapa suporter yang masih diamankan. Mereka terus menjalani pemeriksaan terkait tindak kriminal saat terjadi bentrok antara Persik Kediri dan PSIM. Kemungkinan besar mereka akan dijerat penjarahan dan kepemilikan senjata tajam.

Soal penetapan tersangka? Hanif masih belum bersedia menjelaskan. “Nanti kami up-date lagi,” pungkasnya.

Untuk diketahui, petugas Polres Kediri Kota melakukan pengamanan terhadap 53 suporter PSIM yang diduga sebagai provokator. Dari ke-53 suporter tersebut diamankan karena polisi menemukan berbagai macam senjata. Baik senjata tajam atau benda tumpul.

Dari ke-53 suporter itu, petugas juga mengamankan belasan suporter yang diduga sebagai pelaku penjarahan. Barang-barang yang dijarah antara lain spion sepeda motor, karburator, shock breaker, alat pemadam kebakaran, hingga seekor kelinci hidup. Barang-barang dan kelinci itu ditemukan di mobil yang mengangkut para suporter PSIM.

Sementara itu, Kasubbag Humas Polres Kediri Kota AKP Kamsudi mengimbau agar Persikmania tak melakukan sweeping terhadap mobil berplat AB. Sebab, sweeping pada mobil berplat nomor asal Jogjakarta itu akan memanaskan suasana. “Dijelaskan oleh Kapolres Kediri Kota, bahwa imbauan berlaku kepada seluruh warga Kediri, agar tidak main hakim sendiri melihat plat sepeda motor atau mobil Jogjakarta,” imbuhnya.

Kamsudi menegaskan, polisi akan menindak tegas bila ada yang melakukan hal seperti itu. Sebab, tindakan main hakim sendiri dilarang oleh UU. Namun, hingga kemarin belum ada laporan terkait sweeping tersebut. “Tidak usahlah melakukan hal yang melanggar hokum. Kami berharap situasi juga tetap aman dan kondusif,” pintanya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia