Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Novitasari, Anak Tukang Bubur Nekat Kuliah di Kirklareli University

Saat di Turki, Ingin Kerja untuk Biaya Kuliah

05 September 2019, 18: 31: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

Novi

TEKAD BAJA: Novi saat berada di Rumah Zakat Kota Kediri, kemarin. Biaya keberangkatanya dibantu oleh lembaga tersebut. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Semangat belajar gadis ini benar-benar luar biasa. Sejak lulus dari bangku SMA dia sudah mencoba menembus ujian di berbagai perguruan tinggi negeri tanah air. Semuanya gagal. Hingga dia berhasil diterima di Kirklareli University Turki. Kenekatannya mengalahkan kendala biaya yang dia hadapi.

DWIYAN SETYA NUGRAHA

Nuryanti Novitasari sibuk mempersiapkan berkas-berkas yang harus ada untuk melengkapi persyaratan kuliahnya. Matanya seolah tak ingin ada satu lembar persyaratan pun yang luput dari pengawasannya. Satu per satu dokumen diperiksanya.

Perempuan yang akrab disapa Novi ini mendapatkan kesempatan belajar di negara terbesar di kawasan Eurasia. Ya, dia diterima di Kirklareli University.

Hanya, persiapannya menjelang berangkat ini tak diwarnai dengan melengkapi dokumen saja. Tapi dia juga harus berjuang keras mengumpulkan dana. Yang memang dia perlukan agar bisa menghidupinya selama berkuliah di Turki.

Maklum, gadis kelahiran 16 Februari 2000 ini berlatar belakangkeluarga kurang mampu. “Saya hanya punya tekad terus belajar dan ingin membahagiakan orang tua,” tegas Novi menunjukkan tekad besarnya.

Novi adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya, Nur Rosyid, adalah pedagang bubur ayam keliling. Tiap hari sang ayah menjajakan bubur ayam di wilayah Kecamatan Mojoroto. Sementara sang ibu merawat dia dan adiknya yang masih duduk di sekolah dasar.

Semangat agar bisa belajar di bangku perguruan tinggi memang menggelora di dada alumnus SMAN 5 Kota Kediri ini. Setelah lulus pada 2018 lalu dia berkali-kali mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri. Baik itu seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNPTM), SPAN-PTKIN

Sebelum diumumkan lolos, dia harus mengikuti seleksi tes di sejumlah perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Salah satunya, Novi sudah pernah mencoba mengikuti SNMPTN, seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN), seleksi prestasi akademik nasional perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (SPAN PTKIN), Pangkalan Dasar Siswa (PDS), penelusuran minad dan kemampuan (PMDK), hingga tes-tes jalur mandiri yang digelar berbagai kampus. “Sudah 19 kampus yang saya daftari. Namun semuanya gagal. Mungkin belum rezekinya,” kenangnya.

Selama mengikut seleksi itu Novi juga harus bolak-balik melakukan perjalanan jauh. “Pernah dalam satu minggu full, harus bolak-balik Jogja, Surabaya, Malang, hingga Bandung,” imbuhnya.

Sebenarnya, gadis yang beralamat di Jalan Suparjan Mangun Wijaya, Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto ini merasa tak kesulitan dalam mengerjakan berbagai tes itu. Hanya, dia mengakui, pilihan jurusan yang dia ambil memang memiliki persyaratan yang tinggi dalam passing grade. “Saat itu saya ngambil program beasiswa bidik misi, jadi persyaratannya memang lebih tinggi,” terangnya.

Novi bahkan sudah mempersiapkan test of English as a foreign language (TOEFL). Saat itu, nilai TOEFL-nya 550. “Padahal saya sudah persiapkan tes itu untuk melengkapi persyaratan tes seleksi mahasiswa baru,” ujarnya.

Ironisnya, dua tahun dia mengikuti seleksi-seleksi itu. Dan, semuanya tak ada yang mampu dia tembus.

Menyerah? Kata itu seperti tak ada di kamus hidup gadis ini. Novi kembali mencoba peruntungannya dalam seleksi mahasiswa baru. Tak tanggung-tanggung, kali ini Novi mencoba seleksi mahasiswa baru di luar negeri. Dia mengakses website  Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) hanya sekadar mencari informasi seleksi mahasiswa. “Awalnya iseng mencoba, namun alhamdulillah ternyata masuk di Kirklareli UniversityTurky,” paparnya.

Kali ini, Novi memilih jurusan bisnis di Fakultas Ekonomi dan Ilmu Administrasi Bisnis. Sesuai jadwal, Novi harus mengikuti program Tomer atau pembelajaran bahasa Turki di Kirklareli University Akhir Oktober.

Namun, ada kendala yang menghadangnya. Yaitu soal biaya. Tentu saja, mengharapkan semua biaya ditanggung orang tuanya jelas tak mungkin. Karena itu Novi melakukan berbagai upaya agar mimpi yang hampir terangkai ini benar-benar terwujud. “Saat ini saya rajin mengikuti kegiatan sosial untuk mencari tambahan biaya keberangkatan,” ujarnya.

”Selama saya di Turki, saya juga akan mengikuti organisasi PPI Turki. Selain untuk meningkatkan kapasitas, juga ingin mencari channel  pekerjaan untuk bisa bertahan di sana,” imbuhnya.

Kedepan, ia berharap Pemerintah Kota Kediri bisa membantu segala proses keberangkatannya. Baik mulai dari tiket pesawat hingga biaya hidup selama di sana. “Saya berharap, Pemkot Kediri bisa memberikan jalan keluar atau bantuan buat saya menimba ilmu di Turki,” harapnya.

Di Kirklareli University, kata Novi, dirinya akan banyak belajar tentang pengembangan bisnis. Yang menjadi fokusnya nanti adalah bagaimana bisa mengembangkan ekonomi bisnis di Indonesia. Agar bisa memberikan pelayanan jasa dan menjual produknya secara digital selepas dia pulang ke tanah air.

Selain belajar tentang teori, Novi juga akan melakukan praktik. Makanya, setelah kembali ke Indonesia, dia ingin menerapkan ilmunya ke bidang Ekonomi.  

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia