Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Nuwun Sewu…

05 September 2019, 17: 47: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

Nuwun Sewu…

Share this          

“Empan papan kuwi, Mbul, penting,” kata Kang Noyo menasihati Dulgembul. Sebab, kadang-kadang, kawannya itu out of control. Lepas kontrol. Sikap atau ucapannya lepas dari konteks di mana dia berada. Apalagi kalau sudah gabung dengan Matgacor. Waduh, ndrawasi. Bikin ngeri-ngeri sedap kawannya seperjalanan.

Tiba-tiba saja bisa meluncur kalimat yang ndak pas dari mulut mereka. Maunya guyon, eh malah bisa memancing emosi orang lain yang diajak guyon. “Kamu itu kadang ndak lihat situasi. Ndak lihat tempat,” tutur Kang Noyo lagi.

Semua dianggap sama. Sesuai dengan konstruksi yang ada dalam pikirannya sendiri. Makan di restoran hotel bintang lima dianggap sama dengan di warung sego tumpang tengah kebonan. Yang, kalau habis makan, pincuk-nya bisa dilempar keluar. Lewat lubang jendela. Atau nglepeh balungan pindangnya ke bawah meja. Biar disaut kucing.

“Mbuuuulll, iki hoteeeel…!,” bisik Kang Noyo geram waktu Dulgembul lingak-linguk nggoleki kucing untuk sisa tulang kepala kakap yang habis disantapnya.

Ngobrol atau guyonan dengan orang lain juga dianggap ngobrol dan guyonan dengan teman-temannya sendiri. Asal nggacor. Kalau sebatas lawan guyonnya ndak paham saja, itu sudah untung. Meski guyonannya jadi dianggap garing. Yang bikin dag-dig-dug itu kalau malah bikin salah paham. Lalu tersinggung. Risikonya bisa berkepanjangan. Urusan bisnis batal. Hubungan perkawanan putus. Musuh bisa nambah. Blaen..

Makanya, empan papan penting. Ngerti tempat. Ngerti waktu. Paham konteks. Seperti memahami bahwa klakson kendaraan itu fungsinya sebagai alarm. Untuk pengguna jalan lain di sekitarnya. Supaya menepi, misalnya. Atau, agar tidak nyelonong menyeberang jalan.

Sebagai alarm, tentu menyalakan atau membunyikannya hanya sesekali. Ketika dalam keadaan darurat. Seperti waktu ada pengguna jalan lain yang terlalu ke tengah itu tadi. Maka perlu diklakson. Agar menepi. Tidak sampai tertabrak. Setelah menepi, ya sudah. Alarm tak perlu dibunyikan lagi.

Masalahnya, kadang ada yang lupa akan fungsi utamanya. Klakson digunakan untuk menyapa pengguna jalan lain. “Thin. Thin-thiin..” Syukur kalau yang disapa paham. Problemnya, bunyi ‘thin’ itu sudah menjadi pemahaman universal sebagai klakson. Alarm untuk pengguna jalan lain.

Jadi, begitu “thin”, pengendara lain di depannya bisa dibikin bingung. Sudah berjalan di tepi kok tetap diklakson. Nah, kalau bunyi “thin”-nya berkali-kali, yang di depan bukan cuma bingung. Tapi, bisa menjadi emosional. Marah. Padahal, “thin” itu bukan ditujukan kepada dia.

Lha yang bikin semremet kalau “thin” sudah disalahgunakan. Untuk corong promosi. Untuk memanggil-manggil calon pembeli. Namanya juga corong promosi, memanggil-manggil, maka membunyikannya pun berkali-kali. Alhasil, sepanjang jalan “than-thin than-thin” terus.

“Coba kamu pas di depan bakul yang than-thin itu, piye rasane?,” tanya Kang Noyo kepada Dulgembul. Bunyi “thin” klakson dipaksa untuk diterima sebagai bunyi jingle promosi. Ya ndak masuk blas. “Lek gak sabar ya wis tak antemi bakule,” jawab Dulgembul membayangkan berisiknya “than-thin” yang dipaksakan itu.

Itu jelas ndak empan papan. Ndak proporsional. Dan, dalam kehidupan, kita sering banget seperti itu. Membolak-balik. Mencampur-aduk. Termasuk dalam soal keyakinan. Makanya dulu almarhum Cak Nur (Nurcholish Madjid) sampai melontarkan ide sekularisasi. Yang, sebenarnya, adalah proporsionalisasi. ‘Empan-papan’-isasi.  Mendudukkan sesuatu sesuai proporsinya. Yang duniawi letakkanlah pada posisi duniawi. Yang ukhrawi letakkan pula pada posisi ukhrawi. Yang profan dan sakral jangan dicampur-campur. Agar peradaban manusia semakin maju. Bukan bergerak mundur. Apalagi tawur.

Sebab, tawuran memang bukan cermin dari peradaban yang unggul. Itu makanya suporter bola pun harus empan papan. Tribun selatan, tribun utara. Tribun barat, tribun timur. Tamu, tuan rumah. Semua harus memahami posisi masing-masing. Tuan rumah menyayangi. Tamu tahu diri. Kalau tamu tidak tahu diri, bagaimana tuan rumah menyayangi? Sebaliknya, kalau tuan rumah tidak menyayangi, apalagi memusuhi, bagaimana tamu bisa tahan diri?

Empan papan itulah yang tak tercermin dalam rusuh suporter, Senin lalu. Padahal, seandainya masing-masing sadar posisi, kalaupun muncul letupan amarah, akan segera teredam. Setidaknya, kalaupun sampai hendak melempar batu, akan bilang terlebih dulu, “Nuwun sewu, kula badhe nyawat watu…”

“Injih, sumangga…” jawab satunya sambil mempersilakan area yang tak berpenghuni.

Kadhiri-Ngayogyakarta. Dua pusat peradaban tua. Mestinya bisa begitu. Tak perlu ada korban luka. Harta. Apalagi jiwa. (tauhid wijaya)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia