Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
PERSIK KEDIRI

Kerusuhan Suporter di Kediri: Manajemen dan Panpel Lepas Tangan

04 September 2019, 18: 17: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

kerusuhan suporter kediri

PELAKU RUSUH: Kapolres Kediri Kota AKBP Anthon Haryadi di antara suporter PSIM yang diamankan usai kerusuhan di laga Persik v PSIM (2/9). Di mobil yang mengangkut mereka ditemukan senjata tajam dan barang-barang jarahan. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Kerusuhan yang terjadi di laga Persik v PSIM  Jogjakarta, Senin (2/9) tak akan terjadi bila kubu panpel dan manajemen Persik cermat mengantisipasi kedatangan suporter lawan. Selain tak bisa menekan kubu lawan mematuhi kuota pendukung yang datang, pihak panpel Persik juga gagal mengantisipasi masuknya batu-batu ke dalam stadion. Akibatnya, batu-batu itu pula yang dijadikan ‘senjata’ suporter untuk saling serang.

Selain itu, pihak panpel dan manajemen Persik terkesan lepas tangan soal kerugian yang terjadi akibat kerusuhan. Mereka tidak memberikan ganti rugi pada pihak-pihak yang menjadi korban.

Kerusakan akibat Kerusuhan di Kediri

Kerusakan akibat Kerusuhan di Kediri (radarkediri.id)

Manajer Persik Benny Kurniawan mengatakan pihaknya mengaku tak tahu mekanisme soal ganti rugi itu. Yang pasti, pihak manajemen Persik tak bisa memberi ganti rugi pada kerusakan yang terjadi. Sebab, hal itu di luar tanggung jawab manajemen.

Yang bisa mereka lakukan saat ini, kata Benny, manajemen akan mengirimkan laporan ke PT Liga terkait insiden kerusuhan suporter. Benny berharap dari laporan itu, komisi disiplin (komdis) tidak menjatuhkan sanksi. “Kami buat laporan kronologinya,” katanya.

Lalu, bagaimana tanggapan panpel soal ganti rugi? Ketua Panpel Persik Widodo menegaskan pihaknya tidak ikut menggantinya. Kecuali bila yang rusak itu fasilitas di dalam Stadion Brawijaya. Sedangkan bila kerusakan terjadi di luar stadion, bukan tanggung jawab panpel.

Widodo kemudian membeberkan contoh kasus kerusuhan yang terjadi sebelum mini. Menurutnya, berkaca pada pengalaman sebelumnya, biasanya kerugian ditanggung masing-masing korban. “Dulu waktu Aremania (pada 2008, Red) merusak warung, pemiliknya yang harus menanggung,” kilahnya.

Sementara itu, Widodo mengaku salah perhitungan dengan kehadiran suporter lawan. Soal jumlah suporter misalnya, awalnya kubu Persik menjatah PSIM dengan seribu lembat tiket. Namun, yang datang ternyata dua kali lipatnya. “Jumlahnya di luar perkiraan kami,” akunya.

Bahkan, sebenarnya, menurut pengakuan Widodo, panpel awalnya hanya menyediakan 500 tiket untuk pendukung PSIM. Tapi kemudian mereka meminta jatah seribu tiket. Dan itu juga dituruti oleh panpel. Hingga akhirnya yang datang ternyata lebih dari itu.

Uniknya, meskipun mendapat jatah tiket seribu lembar, para pendukung PSIM itu bisa masuk ke stadion. Lalu, bagaimana mereka bisa dengan mudah masuk ke Stadion Brawijaya? “Mereka beli tiket (Senin) pagi hari. Saya sempat tanya, tiket yang terjual (ke suporter PSIM) ternyata lebih dari 1.500 (lembar),” kilah Widodo.

Akibat ketidakmampuan pihak panpel Persik menahan arus masuk suporter lawan itu, satu blok tribun utama yang diplot untuk mereka jadi tak cukup.  Tribun yang berada di sisi utara itu tak bisa menampung para suporter PSIM yang berasal dari kelompok Brajamusti dan Meiden itu. Sebagian dari mereka kemudian tumpah ke tribun VIP yang ada di sebelah selatannya. Bahkan, tribun VIP hampir penuh oleh mereka. Mengalahkan pendukung tuan rumah.

Lalu, bagaimana panpel bisa kecolongan dengan adanya batu-batu di tangan para suporter itu? Widodo mengatakan tak tahu dari mana para suporter tersebut membawa batu. Panpel menduga batu-batu itu diambil dari belakang tribun utama.

Kubu panpel Persik cenderung menyalahkan suporter PSIM. Widodo berdalih, kericuhan di luar stadion sebenarnya bisa diatasi bila suporter PSIM manut arahan panpel.

“Kami minta jangan keluar stadion dulu. Tapi karena chaos, semua suporter keluar. Akhirnya bentrok di luar (stadion),” keluh pria yang akrab disapa Widodo Hunter ini.

Sampai kemarin, panpel belum menerima keputusan dari PT Liga Indonesia terkait insiden kerusuhan penonton. Namun jika melihat pengalaman sebelumnya, di laga berikutnya suporter lawan tidak diizinkan datang. “Biasanya ada larangan suporter (lawan) menonton,” ujarnya.

Seperti diketahui, di pertandingan berikutnya, Jumat nanti (6/9), Macan Putih akan menjamu Persis Solo di Brawijaya. Dengan peristiwa dua hari lalu, ada kemungkinan Pasoepati –julukan suporter Persis- dilarang hadir ke stadion.

Terpisah, Kapolresta Kediri AKBP Anthon Hariyadi mengatakan, total ada 231 sepeda motor yang diambrukkan di parkiran Taman Tirtayasa. Sementara mobil berjumlah tiga unit. “Hari ini kami lakukan pendataan,” kata Anthon.

Dia mengungkapkan, motor bisa diambil setelah pendataan dari polres. Sebelum diambil, pemilik harus membawa surat-surat yang dibutuhkan. “Setelah kami data, motor di parkiran boleh diambil,” ujar pria yang pernah menjabat Wakapolres Kediri ini.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia