Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Para ‘Pemburu’ Wereng di Kabupaten Kediri

Hanya Kendalikan karena Masih Berguna

02 September 2019, 19: 32: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

pemburu wereng kediri

SANG PEMBURU HAMA: Riyono (tengah) di antara para petugas pengamat organisme pengganggu tanaman. (RIYONO YEKTI WIBOWO for radarkediri.id)

Share this          

Tugas para pemburu ini menekan populasi wereng. Berusaha mengendalikan dengan memaksimalkan peran predator alaminya. Namun, mengapa wereng juga masih diperlukan keberadaannya?

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Pagi itu Riyono Yekti Wibowo terlihat masih basah oleh keringat. Maklum, lelaki 54 tahun tersebut baru saja selesai mengikuti acara jalan santai, di desanya, Desa Paron, Kecamatan Ngasem. Acara di Minggu pagi (1/9) kemarin sekaligus mengisi waktu luangnya di sela-sela kegiatan utamanya, sebagai pemburu hama wereng.

“Di bidang ini saya (bekerja) mulai tahun 1987. Jadi sekitar 32 tahun,” terang Riyono, koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman – Pengendali Hama Terpadu (PUPT-PHT).

Selama itu, banyak cerita menarik yang dia dapat. Baik suka maupun duka. Termasuk tak terbilang kali dia terkena sengatan hama. Tak hanya wereng saja, tapi juga hama-hama lain seperti ulat bulu. Pernah dia harus menahan gatal di badannya akibat terkena bulu ulat.

“Untungnya saya ini besar dari keluarga petani. Dan juga sejak awal memang petani. Jadi, gatal di badan karena ulat sudah biasa,” terangnya.

Justru, yang paling berat adalah tantangan karena luasnya wilayah yang harus dia dan para petugasnya cover.

Udiyono misalnya. Sebagai petugas lapangan, lelaki 57 tahun itu mendapat jatah dua kecamatan, Pare dan Badas. Artinya, dalam satu hari dia harus berkeliling di lima desa. Tentu saja, dengan waktu kerja di lapangan mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, mengunjungi lima desa akan kesulitan. Apalagi bila ada serangan wereng yang masif di desa-desa itu. Akhirnya, dia pun harus mencari cara agar kerjanya efektif.

Dia pun menempatkan ‘mata-mata’ di tiap desa. Orang yang bisa mendapatkan informasi dan membaca situasi wereng di desa tersebut. “Saya menempatkan petani setempat untuk membantu tugas saya,” terangnya.  

Dalam berburu wereng itu, Udiyono berusaha menggunakan cara yang ramah lingkungan. Hal itu pula yang dia tekankan kepada petani. Agar meminimalkan penggunaan obat antihama. Tapi lebih dulu menggunakan cara alami.

“(Saya mengupayakan) pelestarian musuh alami (wereng) dengan menanam tanaman di sekitar lahan,” tuturnya.

Beberapa tanaman memang bisa jadi pengendali hama wereng. Seperti bunga matahari, kenikir, pacar banyu, hingga tanaman kacang. Selain itu, bunga jenis refugia dapat menjadi rumah bagi serangga yang menjadi musuh hama. Bunga itu bisa jadi rumah bagi lebah, laba-laba, hingga serangga ‘tomcat’ alias kumbang rove.

Menrut Riyono, bunga refugia mengandung madu. Hal itulah yang mengundang lebah untuk datang dan menjadikan bunga refugia sebagai rumah. Saat lebah datang, mereka akan memakan atau mengambil ulat kecil atau wereng dan hama lain yang menganggu padi.

Namun, meskipun wereng menjadi pengganggu tanaman, bukan berarti mereka bisa dimusnahkan total. Sebab, wereng ternyata juga berguna. Terutama bagi keseimbangan ekosistem. Keberadaannya tetap diperlukan.

“Apabila dalam satu batang terdapat lima wereng dan ada lima pemangsa masih tidak apa-apa,” ungkapnya.

Namun apabila dalam satu batang padi terdapat lebih dari lima wareng, harus dibunuh dengan menggunakan bahan kimia. Salah satunya, dengan cara dilakukan penyemprotan.

Momok petani bila tanaman padi mereka diserang hama wereng coklat. Biasanya, bila ada serangan seperti ini, mereka terpaksa melakukan penyemprotan.

“Ketika kami mendapatkan ada yang terkena hama, kami segera langsung menyuratkan pengusulan,” ungkap Udinoyo, 57, petugas pengamat organisme pengganggu tanaman, sang pemburu wereng lainnya.

Wereng coklat merupakan salah satu hama utama tanaman padi. Hama ini telah populer di kalangan petani sejak tahun 1970-an. Wereng coklat merupakan hama global. Kerusakan akibat serangan hama ini cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim tanam. Secara langsung wereng coklat akan menghisap cairan sel tanaman padi sehingga tanaman menjadi kering dan akhirnya mati.

“Pada tahun 2008 hingga 2010, sering terkena wereng hingga puso,” terang Riyono.

Lokasinya di daerah Kepung, wilayah tersebut dekat dengan Kandangan dan Badas. Dimana lokasi tersebut, musim tanam padinya terjadi secara bergiliran. Meksi telah puso, tidak terjadi sepenuhnya. “Hanya sebagian kecil yang terkena, namun lainnya masih bisa panen,” imbuhnya.

Menjadi daerah yang musim penennya bergilir, membuat wereng sering berimigrasi. Apabila wilayah Kandangan telah usai, maka wereng tersebut akan berimigrasi ke lokasi selanjutnya.

Langkah antisipasi antara lain untuk mengeringkan pertanaman padi sebelum aplikasi insektisida baik yang disemprot atau butiran. Aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada, yaitu antara pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00, dilanjutkan sore hari. Insektisida harus sampai pada batang padi. Insektisida yang kami gunakan Insektisida SanMing, bantuan dari Dinas Pertanian Kabupten Kediri, dengan pembagian 0,5 liter per hektare.  

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia