Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Gayuk-Gayuk Tuna

02 September 2019, 19: 01: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

Tauhid Wijaya

Tauhid Wijaya (radarkediri.id)

Share this          

Sancaka bukanlah seorang ilmuwan. Itu versi filmnya. Yang terbaru. Berbeda dengan versi komik dan filmnya terdahulu pada 1981. Yang dibintangi Teddy Purba. Aktor rupawan idola emak-emak masa itu.

Tapi, Sancaka milenial bukan berarti sosok tak berilmu. Benar bahwa dia tak bersekolah. Namun, itu bukan karena dia malas sekolah. Melainkan karena diputuskan oleh keadaan. Ayahnya yang buruh pabrik tewas dalam sebuah huru-hara di perusahaan. Lalu, ibunya pamit bekerja meninggalkannya. Di rumah kontrakan sendirian. Dari sehari yang dijanjikan, ternyata lebih. Tanpa kabar. Sancaka lantas menggelandang. Menjadi anak jalanan.

Simak jawabannya ketika berdialog dengan adik Wulan. Yang heran karena Sancaka dewasa tahu tentang banyak hal. Padahal, dia hanya seorang satpam di sebuah perusahaan surat kabar. “Baca…!,” katanya. Itu mirip dengan ayat pertama yang diturunkan Tuhan kepada Muhammad, sang Nabi.

Ya, baca. Itu ibarat membuka jendela dunia. Buku adalah jendelanya. Membaca berarti membukanya. Dan, buku, atau bacaan apa pun, tidak hanya ada di sekolah. Sekolah bahkan hanya menampung sebagian kecil saja. Teramat banyak yang bertebaran di luar temboknya.

Sayang, mereka yang bersekolah seringkali menyia-nyiakan kesempatan. Jangankan memperluas bacaan di luar tembok-temboknya, menuntaskan apa yang tersedia di dalam saja banyak yang ogah. Padahal, kini, sudah banyak fasilitas yang ‘gratis’. Tidak perlu bayar karena sudah dibiayai oleh pemerintah.

Apakah yang gratis lantas melenakan karena tak ada effort untuk memperolehnya? Entahlah. Rasanya, belum ada studi komprehensif yang mengajinya. Toh, kalaupun bayar, itu adalah orang tua. Bukan siswanya. Mereka yang tak peduli kepada keringat orang tua bisa saja abai terhadap arti perjuangan mendapatkan pendidikan.

Hidup yang tidak mudah memang membuat siapa saja bersuka ria ketika mendapat kemudahan. Dalam hal apa saja. Termasuk dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. Utamanya bagi mereka yang merasa belum bisa memenuhinya. Makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan.

Makanya, siapa saja yang bisa memenuhi kebutuhan dasar itu, punya potensi untuk diangkat sebagai ‘manusia setengah dewa’. So, hal ini bisa menjadi komoditas politik bagi siapa pun yang hendak berkontestasi. Utamanya soal pendidikan dan kesehatan. Sebab, untuk makanan dan pakaian, sebagian besar dari kita sudah mampu memenuhinya. Sehingga, tak terlalu seksi lagi untuk bahan jualan.

Sementara, untuk rumah atau tempat tinggal, meski sangat seksi, negara jelas tak punya duit cukup untuk menyediakannya. Secara gratis. Sebagaimana slogan janji untuk pendidikan dan kesehatan.

Gratis. Kosakata yang diserap dari bahasa Belanda itu memang menjadi keyword mujarab untuk menarik simpati massa. Yang paling seksi sekaligus rasional dijanjikan pemenuhannya dari lima kebutuhan dasar di atas saat ini, memang pendidikan dan kesehatan.

Cuma, siapa yang berani menjamin keuangan negara mampu meng-cover seluruh kebutuhan pendidikan dan kesehatan itu untuk semua warga? Jika benar-benar mampu, misalnya, mengapa harus ada iuran BPJS Kesehatan yang musti dibayar warga?

Di kesehatan, iuran BPJS sudah membuktikan ketidakmampuan itu. Tapi, di pendidikan, gubernur justru dengan lantang dan berkali-kali melontarkan slogan tistas. Gratis berkualitas. Untuk semua siswa SMA/SMK di wilayah Jawa Timur. Semua dibiayai pemerintah provinsi. Yang kaya, yang miskin, sama saja. Tanpa kecuali. Untuk membuktikan bahwa pemerintah mampu, sekolah dilarang keras untuk memungut biaya apa pun kepada orang tua siswa. Termasuk kepada si kaya sekalipun.

Tapi, benarkah mampu? Dengan alokasi anggaran Rp 120 ribu per siswa tiap bulan, biaya apa saja yang mampu di-cover olehnya? Lalu, apakah itu sudah dijamin meng-cover seluruh kebutuhan siswa untuk kegiatan kurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler yang selama ini berjalan?

Inilah masalahnya. Warga, orang tua siswa, tentu tidak menjangkau hitungan kebutuhan sampai sedetail itu. Yang mampu ditangkap dengan mudah adalah bahasa politik. Dan, ‘tistas’ adalah bahasa politik. Yang harus dipenuhi oleh yang melontarkannya. Soal bagaimana, itu bukan urusan warga. Karena warga hanya punya tafsir tunggal atas bahasa itu. Meski bahasa politik tidaklah tunggal. Melainkan banyak layer atau lapisannya.

‘Tistas’ bisa jadi ejakulasi dini politisi. Gayuk-gayuk tuna. Kemauannya tak sebanding kesanggupannya. Warga bisa menjadi korban janjinya. Para pengelola sekolah bisa menjadi korban pelaksanaannya. Sayang, di dunia nyata, tak ada Gundala. Yang bisa menyelesaikan banyak masalah sendirian. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia