Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Sony Tataq Setya, Kepala Smada Kediri dan Keluarganya yang Pendidik

Lihat Ibu Mengajar Terasa Menyenangkan

02 September 2019, 18: 57: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

soni tataq

INSPIRATIF: Sony Tataq memberikan motivasi di hadapan siswa-siswanya. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

Darah pendidik mengalir deras di keluarga Sony Tataq Setya. Berhulu dari sang ibu, saudara, kemudian diikuti sang istri. Dan, sekarang menurun ke menantu. Dalam mendidik sang buah hati, dia pun berbagi peran dengan sang istri.

Garis takdir Sony Tataq Setya berada dalam lingkaran keluarga pendidik. Bagaimana tidak, kepala SMAN 2 Kota Kediri ini memiliki ibu yang juga seorang guru. Yang mengabdikan hidupnya sebagai guru di salah satu SD di Kabupaten Kediri. Dua saudaranya, Kurniawidayati dan  Rina Peni, juga guru. Mereka mengajar di SMP yang ada di Kabupaten Lamongan dan Blitar.

Sementara sang pendamping hidup, Agus Malainiwati, mengajar matematika di SMAN 7 Kota Kediri. Uniknya, darah guru di keluarganya itu belum akan berhenti.Sebab, sang menantu, Izatul Ulya, meneruskannya. Istri dari anak pertamanya itu merupakan dosen di Politeknik Negeri Malang (Polinema). “Anak saya justru bukan guru,” kata bapak dua anak ini disusul tawa renyah.

Minggu Inspiratif Radar Kediri

Minggu Inspiratif Radar Kediri (radarkediri.id)

Angga Prima, anak sulungnya, memilih bekerja sebagai akuntan di salah satu perusahaan di Malang. Sedangkan Brilian Vidia, sang putri bungsu bekerja di PT Petrokimia Gresik. “Itu sudah menjadi pilihan mereka,” ungkap pria kelahiran Blitar, 10 Januari 1963 ini.

Sony mengakui ketertarikannya pada profesi guru tidak lepas dari peran sang ibu. Waktu itu, saat masih duduk di taman kanak-kanak (TK), dia sering ikut Suwantini ke sekolah tempat sang ibu mengajar. “Saya melihat ibu mengajar di kelas. Sepertinya menyenangkan,” kenangannya.

Karena itulah setelah masuk SD Sony bercita-cita menjadi guru. Namun, seiring berjalannya waktu impiannya sempat terombang-ambing. Sering berubah-ubah, laiknya anak-anak. Saat duduk di bangku SMP dia sempat ingin menjadi dokter. Naik ke SMA, berganti mendambakan profesi insinyur.

Baru menjelang masuk perguruan tinggi, cita-citanya menjadi seorang pendidik semakin bulat. Sony akhirnya mantap memilih jurusan matematika IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) sebagai  jembatan meraih impiannya. “Kebetulan saya juga senang dengan matematika,” kata mantan kepala SMAN 3 Kota Kediri ini.

Setelah lulus, dia mengajar pertama kali di SMAN Babat, Kabupaten Lamongan. Sony kemudian dimutasi ke SMAN 8 Kota Kediri. Usai menuntaskan S2 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 2002, karirnya sebagai pendidik semakin menanjak.

Pada 2010, dia diangkat kali pertama menjadi kepala di SMAN 5 Kota Kediri. Sebelum di Smada dan SMAN 3, Sony sempat mengemban amanah di SMAN 7 Kota Kediri. “Jadi total ada 6 sekolah. Empat sekolah di antaranya menjadi kepala (SMA),” tuturnya.

Dalam hal mendidik anak, Sony tidak pernah memaksakan sang buah hati mengikuti jejaknya. Justru, dia dan sang istri memberikan kebebasan untuk memilih sendiri apa yang diminati. “Kami hanya bertugas mengarahkan saja,” ujar Sony.

Di rumah, saat mendidik Angga dan Vidia, Sony dan istrinya berbagi peran. Sebagai perempuan, sang istri biasanya lebih lembut ketika mendampingi belajar. Bahkan, sekali-kali ikut membantu mengerjakan soal matematika yang dirasa sulit. “Kalau saya bagian disiplin. Sedikit keras,” katanya lantas tersenyum.

Dengan kolaborasi tersebut, diakui Sony, akan membentuk sang anak menjadi lebih disiplin belajar. Di keluarganya, ada jam-jam tertentu yang harus dimanfaatkan sebagai waktu belajar. “Kami jadwalkan selepas maghrib, anak-anak harus belajar,” ujarnya.

Setelah belajar, mereka bebas mengerjakan apa saja. Termasuk menonton televisi. Namun begitu masuk jam belajar lagi semua aktivitas itu harus ditinggalkan sementara waktu.

Di luar pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), Sony juga mendorong dua anaknya agar memahami agama. Karenanya, dia selalu menanamkan nilai-nilai agama di keluarganya. “Sejak SD saya minta ngaji juga,” katanya.

Dengan penguasaan iptek dan agama, Sony meyakini hal itu akan menjadi bekal bagi anak-anaknya dalam mengarungi kehidupan yang sesungguhnya. Sebab, menurutnya percuma anak pandai matematika atau pelajaran lain tetapi akhlaknya kurang baik.

Dari keluarga, dia pun mentrasformasikan nilai-nilai itu selama mengemban tugas menjadi kepala sekolah. Bahwa pendidikan karakter harus diutamakan untuk membentuk pribadi siswa yang baik.

Ajarkan Filosofi Hidup dari Matematika

Di depan siswanya, Sony Tataq Setya menyampaikan motivasi belajar. Dia meminta anak didiknya itu untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum ujian kelulusan yang dimulai tahun depan. “Semangat belajar harus semakin ditingkatkan, “ kata Sony saat memberikan motivasi di kelas XII IPA 7, Jumat lalu (30/8).

Selama menjadi kepala Smada Kediri, dia memang rutin masuk ke kelas-kelas. Bukan sebagai pengampu mata pelajaran (mapel) matematika. Tetapi memberikan semangat sekaligus ingin mendengarkan cerita dari sang murid. “Saya harus mendengar keluhan mereka langsung,” ungkap pria asal Kelurahan Burengan, Kecamatan Pesantren ini.

Dengan menemui di kelas, Sony bisa melihat langsung kondisi kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolahnya. Bahkan, dia bisa mendapat masukan dari siswa-siswanya itu. “Apa saja yang kurang di sekolah ini, murid-murid yang merasakan,” ujarnya.

Baginya hal itu sangat penting. Sebab, guru sejatinya adalah pendamping siswa untuk membantu mewujudkan cita-cita mereka. Karena itu, selain memberikan teori pelajaran, pendidik juga perlu mentransformasikan nilai-nilai kehidupan dalam setiap mapel. “Karena sebenarnya di setiap mapel ada nilai kehidupan yang bisa dipetik,” kata pria yang mengawali karir sebagai guru pada  1989 ini.

Dulu, saat menjadi guru kelas mapel matematika, Sony sering menerapakannya. Ilmu itu didapat setelah meraih gelar master bidang teknologi pembelajaran di Unesa. “Setelah S2, saya baru tahu ilmunya,” ungkapnya.

Ketika mengajar matematika, Sony menyadari ada anak didiknya yang tidak menyukai pelajaran tersebut. Sebagian juga senang. Bahkan, terbilang encer dalam ilmu berhitung. “Setiap anak pasti punya kelebihan masing-masing,” katanya.

Dalam kasus tersebut, dia tidak ingin membeda-bedakan. Justru, Sony berusaha membuat semua siswanya menyenangani pelajaran matematika. Meskipun sebenarnya sang murid tidak jago berhitung.

Di dalam kelas, Sony mengaku, tidak ingin anak didiknya hanya pandai teori matematika. Sebab, sebagai ilmu pasti, matematika juga mengandung nilai-nilai kehidupan yang tinggi. “Matematika itu dasarnya adalah disiplin dan konsisten. Tidak berubah-ubah. Satu ditambah satu tetap dua dari dulu,” katanya.

Nah, filosofi hidup dari pelajaran matematika itulah yang selalu disampaikan kepada siswanya. Karena itu, meskipun si anak tidak pintar pelajaran tersebut, setidaknya mereka bisa mengambil intisari kehidupannya. “Dalam kehidupan sehari-hari, disiplin dan konsiten itu sangat penting,” terangnya.

Selain itu, ketika ada siswanya yang tidak mengerjakan soal, Sony tidak langsung memberikan nilai jelek. Tetapi dia akan menanyakan dulu alasan mereka. “Dari alasan itu, kita punya pertimbangan untuk melakukan penilaian,” pungkasnya.      

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia