Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Yayan Dwi Santoso, Tunadaksa yang Mandiri Kelola Usaha Sablon

Tak Ingin Merepotkan, Belajar Desain dari Nol

31 Agustus 2019, 16: 50: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

difabel

MANDIRI : Yayan Dwi Santoso menggosok kaus di meja sablon dalam rumahnya, Desa Donganti, Kecamatan Plosoklaten. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Sekitar 13 tahun silam, Yayan Dwi Santoso mengalami kecelakaan tunggal. Akibat kejadian nahas itu, kini dirinya lumpuh seumur hidup. Meski begitu, dengan keterbatasannya dia bangkit. Mandiri dengan wirausaha sablon.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri

sablon

KREATIF: Yayan saat menyablon. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Suasana salah satu gang di Desa Donganti, Kecamatan Plosoklaten saat itu sepi. Meski termasuk gang yang cukup padat penduduk, namun siang itu tak ada satu orang pun yang tampak di depan rumah. Hal itu membuat wartawan koran ini cukup kesulitan mencari kediaman salah satu warganya.

Untung saja, salah satu rumah membuat wartawan ini semakin yakin. Tampak kendaraan roda tiga di teras rumah tersebut. Telah dimodifikasi. Khas kendaraan milik orang yang agaknya kesulitan dalam berjalan.

Di sana tampak Yayan, penyandang disabilitas yang telah mandiri dengan berwirausaha sablon. Yayan Dwi Santoso nama lengkapnya. Pria 39 tahun itu empat tahun lebih terbaring di tempat tidur, hampir lima tahun.

Awalnya, dia shock, minder, dan tak bisa menerima keadaan yang menimpanya. Memang saat itu Yayan masih berusia 26 tahun. Tepat ketika usia produktif seseorang namun justru musibah menimpanya.

"Saya saat itu down. Tidak percaya dan tidak tahu dunia luar hampir lima tahun," katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Yayan saat itu kecelakaan karena menghindari anak kecil yang menyeberang di Jalan Soekarno Hatta, Tepus, Sumberejo. Tepatnya pada 2006. Saat ia hendak pergi ke Kota Kediri. Dari kecelakaan itulah dia harus dilarikan ke rumah sakit. Pasalnya, tidak bisa menggerakkan kakinya.

"Sebenarnya tidak terlalu parah. Tapi tulang punggung geser. Akhirnya syaraf morotik rusak," ujar Yayan lirih mengenang kejadian yang sempat membuatnya trauma tersebut.

Istilahnya sudah mati rasa, kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali hingga kini. Karena vonis lumpuh pada kaki yang harus ia terima." Seperti menjadi anak bayi lagi. Terbaring di tempat tidur dan tidak tahu dunia luar," ucapnya.

Lima tahun berlalu. Pelan-pelan Yayan mulai menggunakan gawai untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Awalnya, dia iseng membuat sosial media facebook. "Akhirnya bisa tahu lagi dunia luar pada 2012 melalui facebook. Dan interaksi dengan teman-teman baru di sana," sebutnya.

Facebook membuatnya semakin banyak menemukan hal baru. Teman baru, pengalaman dan pelajaran hidup. Bahkan dari media sosial itu, Yayan mengaku, kenal dengan disabilitas dengan kondisi yang sama." Mbak Sri namanya. Asal Klaten, " ungkapnya.

Bahkan, Sri lah yang mengajak Yayan untuk membuat motor roda tiga itu. Hanya saja, saat itu keluarganya tidak percaya bahwa ada kendaraan seperti itu. " Mbak Sri naik motor ke sini. Meyakinkan keluarga," paparnya.

Ditahun-tahun tersebut, Yayan mulai bangkit. Awalnya ia tidak terbiasa keluar rumah. Setelah dibuatkan modifikasi kendaraan, Yayan mulai berkeliling untuk menemui kenalannya di facebook.

"Akhirnya kenal teman-teman difabel Kediri. Dan lihat foto teman kursi roda terus diajak kenalan dan saya main ke rumahnya. Salah satunya teman dari Badas, namanya Mas Muchsin," paparnya.

Dari teman-teman dan dukungan keluarga Yayan pun semakin semangat. Bahkan dukungan dari diri sendiri yang bertekad untuk bisa mandiri juga tertanam padanya." Saya tidak ingin merepotkan orang lain termasuk keluarga,” urai pria yang dulu gemar sepak bola ini.

Apalagi dia hanya tinggal bersama ibu dan keponakannya. Yayan mulai terima keadaan. Pelan-pelan bangkit dan mandiri. "Hal yang paling tidak enak bagi difabel itu adalah merepotkan orang lain. Kalau bisa ya harus melakukan sendiri dan mandiri," tutur mantan guru olahraga ini.

Kini Yayan disibukkan dengan aktivitas sablon. Kegiatan yang didapat dari belajar bersama teman sesama difabel. "Awalnya dari nol. Desain saja tidak bisa. Alat juga tidak punya," paparnya.

Namun dengan tekad yang kuat. Yayan mulai merintis usaha. Hingga kini sejumlah pesanan sudah diterima. Mulai sablon kaus, kantong plastik, tas, termasuk desain dan cetak stiker.

Bahkan, dengan motor modif yang dimilikinya, Yayan sudah bisa belanja sendiri. Mengunjungi kawan-kawan lamannya. "Melatih mental saat menjadi difabel seperti ini," ungkapnya.

Semangat dan tekad yang kuat Yayan yang juga sekretaris Perkumpulan Disabilitas Kabupaten Kediri (PDKK) ini tentu saja menjadi contoh bahwa siapapun bisa melakukan sesuatu. Meski dengan keterbatasan, mereka tak mau merepotkan orang lain. Bisa mandiri dan patut menjadi inspirasi bagi kita yang masih bisa beraktivitas normal seperti ini.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia