Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Melongok Kampung Sol Sepatu di Kedungsari, Kecamatan Tarokan

Belajarnya dari Tetangga

30 Agustus 2019, 17: 54: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

kampung sol sepatu kediri

LINTAS GENERASI : Para pekerja servis sol sepatu dari Dusun Sumberwungu, Desa Kedungsari, Tarokan, berkumpul di salah satu rumah rekannya usai berkeliling. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Jangan kaget bila bertemu tukang servis sol sepatu di area Kediri dan banyak yang mengaku berasal dari Dusun Sumberwungu, Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan. Sebab, di dusun itu mayoritas warganya  bekerja sebagai tukang servis sol sepatu.

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Kulit para lelaki itu legam terbakar matahari. Menandakan sering terpapar matahari. Kelelahan terlihat dari wajah-wajah puluhan lelaki itu. Dengan pakaian bersahaja, mereka baru saja pulang dari menjelajahi kampung-kampung. Mengendarai kendaraan roda dua. Baik bermotor maupun bukan. Debu-debu berterbangan setelah bergesekan dengan roda-roda kendaraan mereka.

sol sepatu tarokan

SEMANGAT: Para tukang sol sepatu akan berangkat kerja. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Puluhan lelaki itu adalah warga Dusun Sumberwungu, Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan. Setiap hari mereka menjelajahi kampung ke kampung untuk menjemput rezeki. Berangkat dari desa paling ujung barat di Kediri hingga ke bagian timur. Bahkan hingga menyasar ke kota dan kabupaten lain. “Ada yang sampai ke Madiun dan Nganjuk, demi menghidupi keluarga mereka di sini (di Desa Kedungsari, Red),” ujar Kepala Desa (Kades) Kedungsari Paniran.

Dari Tarokan hingga ke Madiun, Nganjuk, semuanya membawa ‘misi’ sama. Yakni sebagai penyambung dan ‘pemersatu’ antara sepatu dan sol yang sudah dalam kondisi rusak. Ya, para pria ini memiliki pekerjaan yang sama, sebagai tukang sol sepatu.

Di desa tersebut, tidak hanya satu dua saja lelaki yang bekerja sebagai tukan sol sepatu. Jumlahnya mencapai ratusan orang. Bahkan, ada yang tiga generasi turun-temurun bekerja sebagai tukang sol sepatu. “Ada yang dari kakeknya, ke anaknya, hingga ke cucunya, Mas,” terang sang kades.

Tapi, siapa yang mengawali kerja sebagai tukan sol sepatu belum ada yang bisa menjawab. Beberapa dari pengrajin yang berada di Dusun Sumberwungu mengaku dilatih oleh tiga orang yang sama. “Dulu sih saya belajarnya dari Suradi, Tukiran,” terang salah satu tukang sol sepatu bernama Suparno.

Semuanya awalnya ingin ikut bekerja. Suparno mengingat-ingat bahwa ia berlatih membuat sol sepatu sekitar awal 1980-an. Hingga saat ini, ia masih giat bekerja sebagai pengrajin sol sepatu. Bahkan, dua anak lelakinya juga mengikuti jejaknya.

Anak pertamanya, jalurnya berkeliling di sekitar Nganjuk. Sedangkan anak keduanya berkeliling di sekitar Tarokan hingga ke Mojoroto. Suparno sendiri, memiliki jalur kerja di sekitar Madiun.

“Kalau saya, seminggu sekali pulang ke rumah. Saya dan enam orang lain dari Kedungsari punya kontrakan di Madiun. Dan berputar di sekitar Madiun pada Sabtu hingga Kamis,” terangnya.

Kotak tempat sepatu dan alat jahitnya ia tinggalkan di Madiun. Sehari-hari ia berangkat menggunakan sepeda motor. Sama seperti enam tetangganya yang ikut bekerja di jalur Madiun- Caruban.

Ada pula yang menggunakan metode berangkat dan pulang pada hari yang sama. Seperti Suyanto, 51, tetangga Suparno. Ia sering memacu sepeda motornya ke daerah Nganjuk pada pagi hari untuk bekerja dan sorenya sudah bisa menikmati waktu santainya di rumah. “Kadang ya sampai ke Madiun juga, atau ke sekitar Tarokan saja,” terangnya.

Dari sekitar sebelas orang yang saat itu sudah berada di rumah untuk bersantai, yang paling sering membuat suasana cair adalah Suparto, 54. Adik kandung Suparno ini memang disebut-sebut sebagai “kepala suku” dari para warga yang bekerja sebagai tukang sol sepatu.

Meskipun ada kepala suku, mereka belum membentuk paguyuban atau sejenisnya.  Tapi mereka rutin berkumpul. Baik hanya sekadar ngopi ataupun ngobrol akrab. “Rencananya juga kedepannya akan dikoordinasikan agar lebih mudah saat dikumpulkan. Atau sekadar silaturahmi dalam kelompok,” ujar Kepala Dusun (Kasun) Sumberwungu Suparno.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia