Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Alysia Meidina, Mahasiswa ITS asal Kediri Penerima Beasiswa ke Kanada

Terpilih setelah Menulis Esai Persoalan UMKM

29 Agustus 2019, 17: 57: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

alysia meidina

PENGALAMAN EMAS: Alysia mendapat beasiswa ke Kanada berkat kepeduliannya pada persoalan UMKM. (ALYSIA MEIDINA for radarkediri.id)

Share this          

Salah satu mimpi Alysia Meidina Savitri akhirnya terwujud. Belajar ke luar negeri dengan beasiswa. Meski hanya sebentar, mahasiswi asal Bujel, Mojoroto itu tidak ingin membuang kesempatan pertamanya menimba ilmu di Kanada.

ANWAR BAHAR BASALAMAH

April menjadi bulan yang menggemberikan bagi Alysa Medina Savitri. Di bulan itu, Alis - sapaannya - mendapat beasiswa untuk berkuliah ke Kanada. Selama satu semester mahasiswi jurusan Manajemen Bisnis Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu berkesempatan belajar di Memorial University of Newfoundland.

“Ada empat anak yang lolos (dari ITS). Saya salah satunya,” kata Alis kepada koran ini, kemarin.

Perjuangan Alis untuk mendapat beasiswa ke negara Amerika Utara itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebelum diumumkan lolos, dia harus mengikuti seleksi yang digelar oleh pemerintah Kanada bekerjasama dengan ITS. Kerjasama itu merupakan bagian dari program beasiswa Canada-ASEAN Scholarships and Educational Exchanges for Development (SEED).

Tugas pertama yang dilalui adalah membuat esai dalam bahasa Inggris. Kata Alis, ada 16 topik yang diberikan. Dari belasan tema, remaja kelahiran Kediri, 23 Mei 1998 ini tertarik dengan wirausaha. “Terutama UMKM (usaha mikro kecil menengah, Red),” ungkapnya.

Dalam esai yang dikirim pada Februari 2019 itu, Alis menuliskan persoalan yang dihadapi UMKM di Indonesia. Kebetulan, dia beberapa kali mendapat tugas dari kampusnya untuk pengembangan UMKM di Surabaya. “Saya menyoroti marketing dan accounting-nya. Menurut saya itu kelemahan dari UMKM,” kata anak pasangan Agus Endro Suryanto dan Yuly Asiyah ini.

Setelah menulis esai, Alis tidak langsung lolos. Dia masih melakukan tahap interview dari kampus. Sebelum itu, setiap calon penerima beasiswa juga mengumpulkan syarat pendukung. Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah nilai Test of English as a Foreign Language (TOEFL). Saat itu, nilai TOEFL-nya 560.

Begitu diumumkan peserta yang lolos di bulan keempat, Alis senang bukan kepalang. Mimpinya untuk belajar di luar negeri akhirnya terwujud. Dia akan terbang pada Sabtu besok lusa (31/8). Apalagi di Kanada nanti, alumnus SMAN 2 Kediri ini akan mengambil kuliah selama satu semester. “Jadi sebenarnya tinggal melanjutkan kuliah yang di ITS,” kata mahasiswi semester tujuh ini.

Setelah pengumuman tersebut, Alis baru memilih kampus yang dituju pada 16 Agustus lalu. Pilihannya jatuh pada Memorial University of Newfoundland. Sementara ada empat mata kuliah (matkul) yang diambil. Yakni marketing and sustainability, service marketing, digital marketing, dan modelling implementation business process. “Saya belum mendapatkannya di kampus,” kata Alis mengenai alasannya memilih empat matkul tersebut.

Dari empat matkul itu, total ada 12 SKS yang ditempuh. Masing-masing satu matkul ada 3 SKS. Sesuai jadwal yang diberikan dari kampus, Alis akan melakukan pertemuan di kelas sebanyak 2 kali dalam sepekan untuk satu matkul.

Dia mengatakan, SKS di matkul tersebut sudah terintegrasi dengan kuliahnya di ITS. Karena itu, begitu pulang ke Surabaya nanti, mahasiswi asal Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini tidak perlu mengambil SKS lagi di kampusnya. “Sebenarnya masih ada dua matkul yang belum diambil,” ungkapnya.

Di Memorial University, kata Alis, dirinya akan banyak belajar tentang pengembangan UMKM. Yang menjadi fokusnya nanti adalah bagaimana UMKM di Indonesia bisa memberikan pelayanan jasa dan menjual produknya secara digital.

Selain belajar tentang teori, Alis juga akan melakukan praktik. Makanya, setelah kembali ke Indonesia, dia ingin menerapkan ilmunya ke UMKM di Surabaya atau Kediri.”Saya kurang tahu apakah setelah kuliah nanti ada project atau tidak. Tapi yang pasti, ilmunya harus diterapkan,” ungkap anak sulung empat bersaudara ini.

Saat ini segala persiapan sudah dilakukan. Karena wilayah Kanada berdekatan dengan kutub utara, suhu di negara tersebut sangat dingin. Bahkan, cenderung ekstrem. Apalagi Alis terhitung mulai kuliah pada awal September sampai pertengahan Desember. Di bulan tersebut, Kanada memasuki musim dingin.

Alis mengaku, sudah menyiapkan jaket tebal untuk menangkal musim dingin di sana. Namun yang pasti, semangatnya untuk belajar di negeri orang bakal mengalahkan dinginnya udara di negara dengan ibu kota Ottawa itu. 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia