Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

TPA Joho Urung Dibangun

Dana Terserap untuk Pilpres, Proyek Ditunda

28 Agustus 2019, 13: 17: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

Sampah

MENGGUNUNG: Sejumlah pemulung memilah sampah di TPA Kedungdowo, Kota Nganjuk. Tempat pembuangan akhir yang nyaris overload itu akan tetap dimanfaatkan menyusul tertundanya pembangunan TPA Joho tahun ini. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) Joho tertunda setahun. Proyek dari pusat yang rencananya terealisasi tahun ini, baru akan dibangun tahun depan. Alasannya, dana proyek yang sudah masuk perencanaan nasional itu dialihkan untuk hajatan pemilihan presiden (pilpres).

Kasi Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Nganjuk Sumadi menuturkan, kepastian penundaan itu setelah pihaknya mengecek ke Kementerian Lingkungan Hidup. “Mereka menginformsikan 2019 tidak ada pembangunan TPA,” ujar Sumadi.

Lebih jauh Sumadi mengatakan, tahapan realisasi proyek TPA sebenarnya tidak ada masalah. Di antaranya, tim dari pemerintah pusat sudah melakukan inspeksi di lokasi pembangunan TPA Joho.

Tidak hanya itu, tim dari pusat juga sudah menyiapkan sejumlah alokasi yang dibutuhkan. Karenanya, meski tahun ini tertunda, dia berharap tahun depan proyek pembangunan TPA dengan sistem sanitary landfill itu bisa terlaksana.

          Untuk diketahui, luas lahan untuk pembangunan TPA Joho mencapai 10,1 hektare. Jumlah lahan tersebut sudah sesuai dengan detail engineering design (DED) proyek TPA.

          Sebenarnya, jelas Sumadi, kebutuhan lahan untuk pembangunan TPA mencapai 12 hektare. Tetapi, pemkab tidak bisa lagi membeli lahan di sana. Sebab, di sekitar area itu tidak ada lagi tanah yang dijual. “Akhirnya dialokasikan seluas 10,1 hektare,” terangnya.

Sementara itu, terkait tertundanya pembangunan TPA Joho, dinas LH tidak memiliki pilihan lain dalam pengolahan sampah. Yaitu, mereka harus terus mengoperasikan TPA Kedungdowo.

Meski, diakui Sumadi jika TPA yang berlokasi di dekat tol itu sudah hampir penuh. “Overload sih tidak. Tapi memang diperlukan improvisasi untuk pengelolaan sampah,” imbuh Sumadi.

Agar volume sampah tetap bisa tertampung di sana, Sumadi harus melakukan inovasi. Salah satunya, dengan mengaktifkan zona yang dulunya sempat vakum atau tidak digunakan.

Dia mencontohkan zona sampah di sisi selatan yang selama dua tahun terakhir tidak diaktifkan. Ke depan, lokasi tersebut akan kembali jadi tempat untuk penampungan sampah dari berbagai wilayah di Nganjuk.

Selebihnya, dinas LH mengambil opsi untuk memaksimalkan fungsi tempat pembuangan sampah terpadu (TPST). Sebelum sampah dibawa ke TPA, petugas harus memaksimalkan reduce, reuse, and recycle (3R) di sana. “Sehinggga volume sampah yang masuk ke TPA Kedungdowo menjadi dapat berkurang,” harapnya.

Untuk diketahui, sampah yang masuk ke TPA Kedungdowo sekitar 37 ton hingga 47 ton per hari. Tanpa optimalisasi TPST, umur ekonomis TPA Kedungdowo untuk bisa menampung sampah dari seluruh Nganjuk dipastikan akan semakin pendek.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia