Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Desa Bringin, Badas, Semakin Terkenal sebagai Kampung Madu

Sering Terusir, Jual Langsung Lebih Untung

27 Agustus 2019, 18: 19: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

peternak madu

MANIS: Zaenal (bertopi) berbincang dengan salah seorang peternak yang juga memiliki outlet madu, Nurhadi. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Desa ini lekat dengan sebutan Kampung Madu. Puluhan warganya bekerja sebagai peternak lebah madu. Mereka kemudian membuka outlet di desa tersebut. Jadilah Desa Bringin dipenuhi para penjual madu berbagai jenis.

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Jika memasuki Desa Bringin di Kecamatan Badas kita akan melewati rumah-rumah yang dilengkapi etalase kaca di bagian depannya. Kemudian, di rumah-rumah itu juga tertempel spanduk bertuliskan ‘Sedia Madu’ dalam aneka ukuran dan warna. Pemandangan seperti itu akan mudah kita temui sepanjang jalan.

Desa ini berlokasi satu kilometer dari Pare, ke arah utara. Memang terkenal sebagai kampung madu. Maklum puluhan warganya merupakan peternak lebah madu. Pekerjaan yang sudah mereka tekuni sejak puluhan tahun silam.

“Mulai 1985 sudah banyak warga yang jadi peternak lebah madu,” terang Zaenal Abidin, kepala Dusun Purworejo, Desa Bringin.

Kini, desa ini kian lekat dengan sebutan kampung madu. Karena warga-warga itu tak sekadar beternak. Tapi sekaligus menjualnya di outlet-outlet depan rumah.

“Saya sudah menjalani usaha madu ini mulai tahun 2000,” ucap laki-laki berkacamata itu saat ditemui di rumahnya. Zaenal kemudian memperlihatkan bermacam-macam madu yang ada di etalase kacanya.

Di ruang tamunya, Zaenal menceritakan bahwa di desanya memang banyak peternak madu. Tapi kebanyakan masih menjadi penjual madu dalam bentuk yang belum diolah atau dikemas. Belum berani untuk mengemas kemudian menjualnya sendiri.

“Untuk warga yang berani membuka otlet sendiri masih sekitar 15 warga,” terang lelaki yang juga sebagai pengepul madu dari para peternak ini.

Sebelum menjadi pengepul madu, Zaenal lebih dahulu menjadi seorang peternak. Menurutnya, menjadi peternak harus memiliki ketelatenan. Juga perlu kesabaran. Sebab, sebagai peternak mereka sering berpindah-pindah lokasi. Mencari tempat yang saat itu pohon-pohon dan tumbuhannya sedang berbunga. Bahkan, kotak-kotak tempat sarang lebah seringkali harus dibawa-bawa hingga luar kota.

“Saya mengepul madu terbaik dari berapa tempat, terutama warga desa ini,” tutur Zaenal.

Menurutnya, hasil penjualan madu sangat menguntungkan. Sebagai perangkat desa ia bahkan mendorong peternak lebah madu agar berani membuka kios/toko. Salah satu cara menggerakan mereka itu adalah dengan menggelar pameran. Pada pemeran madu tersebut, warga dapat menjual secara langsung madu hasil panen mereka.

“Setelah diadakanya pameran tersebut, peternak mulai tergerak untuk memproduksi madu hasil buatannya,” ungkap Zaenal.

Seperti namanya yang merupakan kampung madu, diharapkanya dengan banyaknya warga yang memproduksi madunya sendiri. Hal tersebut bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan agar mengunjungi Desa Bringin.

Salah satu warga yang tergerak membuka outlet penjualan madu adalah Nurhadi. Sebelumnya, dia menjadi peternak madu selama 16 tahun.

“Baru satu tahun ini saya menjual produksi madu,” terang Nurhadi.

Pada 2004, Nurhadi memulai usaha ternak lebah madu. Ketika pertama kali menjadi peterenak, ia hanya memiliki 30 peti. “Saat itu masih belajar, jadi tidak berani banyak-banyak,” terang pemilik peternakan Cahaya Madu tersebut.

Berbeda dengan Zaenal, Nurhadi menjual madu yang merupakan hasil dari ternak lebah madu miliknya. Saat ini, kotak lebah miliknya tengah berada di Ngawi dan Nganjuk. Di dua lokasi itu kini tengah musim bunga.

Sebelum menjual sendiri, Nurhadi sebelumnya hanya menjual madu tersebut di Malang. Apa bila hasil madunya tidak sesuai dengan pesanan, ia juga mengambil madu dari peternak lainnya.

Selama menjadi peternak lebah madu, yang paling menyulitkan adalah mencari tempat. “Pernah sudah meletakkan kotak, oleh warga tiba-tiba disuruh pindah,” kenang Nurhadi.

Memang, diusir oleh warga menjadi hal yang sering mereka terima. Mereka mengusir karena takut lebah-lebah tersebut akan merusak tanaman. Selain itu mereka takut dengan sengatan lebah.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia