Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Krisis Air, Rawan BAB Sembarangan

Rejoso dan Berbek Terbanyak

27 Agustus 2019, 10: 44: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

BAB

RIANG: Anak-anak asyik mandi di sungai Kuncir, Ngetos, kemarin sore. Selama musim kemarau seperti sekarang, air sungai rawan tercemar akibat pola BAB sembarangan. (Andika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Krisis air di musim kemarau seperti sekarang dikhawatirkan akan meningkatkan perilaku masyarakat buang air besar (BAB) sembarangan. Kondisi tersebut, terutama didapati di daerah dataran tinggi.

          Kasi Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dinkes Nganjuk I Ketut Wijayadi mengatakan, berdasar pengalaman sebelumnya, masyarakat cenderung BAB sembarangan di musim kemarau. “Terutama yang berada di dataran tinggi,” ujarnya.

Seperti diketahui, wilayah dataran tinggi yang rawan krisis air saat kemarau antara lain Kecamatan Ngetos, Sawahan, Lengkong, dan Ngluyu. Meski demikian, bukan berarti perilaku BAB sembarangan terjadi pada semua daerah di sana.

Menurut Ikrom, hal tersebut dilakukan sebagian masyarakat. “Paling di beberapa desa yang belum bebas BAB sembarangan maksimal hanya 10 persennya saja,” klaim pria yang akrab di sapa Ikrom tersebut.

Oleh karena itu, dinkes rutin memeriksa kualitas air di beberapa daerah tersebut secara berkala. Pemeriksaan dilakukan di tiap kecamatan yang kondisi airnya rawan tercemar.

Lebih jauh Ikrom menjelaskan, pemeriksaan sanitasi ini tidak hanya dilakukan tahun ini. Melainkan sejak 2017 silam. Dari ratusan desa di Nganjuk, setidaknya ada 200 desa yang sudah melek pentingnya sanitasi. “Mereka menganggarkan sanitasi di tempatnya masing-masing,” beber Ikrom.

Untuk diketahui, dari 20 kecamatan di Nganjuk ada dua kecamatan yang warganya masih BAB sembarangan. Yaitu, Rejoso dan Berbek. Terkait data ini, Ikrom menuturkan, hal itu lantaran luasan kedua wilayah tersebut.

Karenanya, butuh usaha lebih giat lagi untuk melakukan pengawasan dan monitoring. Selain itu, di kedua kecamatan ini juga banyak dilewati sungai besar. Seperti sungai Kuncir yang melawati wilayah Berbek.

Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, dari 24 desa yang ada di Kecamatan Rejoso, baru enam desa yang telah bebas BAB sembarangan. Sedangkan di Kecamatan Berbek, ada 8 dari 19 desa. “Kedua wilayah tersebut dilewati sungai besar. Di mana masih ada warga yang BAB sembarangan di sungai,” tandas Ikrom.

Keberadaan sungai besar di sana membuat warga terbiasa BAB di sungai. Untuk mengubahnya diperlukan pembinaan dan pendampingan secara masif. Termasuk untuk menyadarkan masyarakat setempat.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia