Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Vonis Pembunuh Mak Mentil Lebih Ringan dari Tuntutan Jaksa

24 Agustus 2019, 14: 36: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

Dedyk Asmawan

TERPIDANA: Dedyk Asmawan (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Dedyk Asmawan, 26, terdakwa kasus pembunuhan Sukinem alias Mak Mentil, 72, pemulung yang tinggal di kios Pasar Setonobetek, dinyatakan terbukti bersalah. Kemarin, majelis hakim mengganjar pemuda asal Kauman, Pagu ini hukuman 12 tahun penjara.

“Terdakwa terbukti melanggar pasal 365 ayat 3 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan hingga menyebabkan kematian seseorang,” kata Ketua Majelis Hakim Yuliana Eny Daryati dalam sidang di Ruang Candra, Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri.

Putusan itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Anggi Luberti. Sebelumnya, Dedyk dituntut hukuman 14 tahun penjara. Dia dijerat tiga pasal. Dakwaan primernya, pasal 338 dan 339 KUHP tentang pembunuhan.

Sedangkan untuk dakwaan subsider, pasal 365 ayat 3 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Dalam putusannya, majelis hakim juga mempertimbangkan hal-hal memberatkan maupun meringankan.

Yang memberatkan, menurut Yuliana, perbuatan terdakwa mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Sedangkan yang meringankan, Dedyk bersikap sopan, berterus terang serta mengakui perbuatannya. “Terdakwa juga belum pernah terkena kasus hukum,” jelasnya.

Mendengar vonis hakim, Dedyk pun pasrah dengan hukuman itu. Dia mengatakan, tidak akan melakukan banding. “Saya menerima Yang Mulia,” ucapnya ketika ditanya hakim apakah akan mengajukan banding.

Berdasarkan fakta persidangan, pembunuhan terjadi pada 28 Januari 2019. Malam itu, Dedyk mendatangi kios Mak Mentil di Pasar Setonobetek. Dia mengajak nenek itu berhubungan badan.

Sekitar 15 menit kemudian, Mak Mentil yang kelelahan akhirnya ketiduran. Saat itulah, Dedyk melihat tempat kekasihnya menyimpan perhiasan dan dompet di kain setagen.

Dari situ timbul niat jahatnya. Sekitar pukul 03.00, Dedyk membekap mulut Mak Mentil dengan kain yang dibawanya dari rumah. Karena korban meronta dan berteriak, Dedyk mencekik leher Mak Mentil. Setelah sang kekasih tewas, ia mengambil kalung dan cincinnya. Padahal semasa hidup, Mak Mentil sering memberinya uang.

Sementara itu, Sandro Welly Adrian, penasihat hukum (PH) Dedyk Asmawan, mengaku kecewa dengan JPU Anggi Luberti yang tidak menghadirkan saksi dari pihak toko emas. Sebab di sanalah terdakwa mengaku menjual perhiasan Mak Mentil.

Dari keterangan terdakwa di persidangan, uang hasil pencurian itu digunakan untuk membeli tape recorder dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Menurut Sandro, dari berkas bukti surat-surat kepemilikan perhiasan korban itu bisa dikaji kembali dalam persidangan. “Kita kan tidak tahu, apakah barang bukti surat kepemilikan perhiasan tersebut asli atau tidak. Seharusnya, JPU menghadirkan kesaksian dari pemilik toko perhiasan tersebut,” ungkapnya dengan nada kecewa ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kediri.

Selain Dedyk, kasus ini juga melibatkan Ahmad Setyawan, 25, yang merupakan tetangga Dedyk. Sebelumnya, Setyawan terlebih dahulu divonis oleh majelis hakim yang diketuai Yuliana Eny Daryati. Putusan hukumannya 1 tahun 6 bulan.

Majelis hakim menyatakan terdakwa bersalah dan terbukti melakukan tindak pidana pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan atas pembunuhan Mak Mentil.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia