Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Kolaborasi untuk Hadang Kemarau Panjang

24 Agustus 2019, 14: 16: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

cabai kemarau

GANTI TANAMAN: Tubi, petani asal Desa Sumberejo, Ngasem membersihkan sisa tanaman cabai yang sudah kering. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Langkah preventif dilakukan pemerintah untuk mengatasi permasalahan sektor pertanian di Kabupaten Kediri. Terutama ketika memasuki musim kemarau seperti sekarang ini. Selain memberi bantuan kepada kelompok tani (poktan) dinas pertanian dan perkebunan (dispertabun) juga melakukan edukasi berupa sekolah lapang.

Menurut Plt Kepala Dispertabun Anang Widodo, sejauh ini dispertabun melalui penyuluh pertanian lapang (PPL) telah memberi edukasi kepada petani terkait budidaya musim kemarau. “Salah satunya sosialisasi tentang prakiraan musim hujan dan hari hujan,” kata Anang.

Sosialisasi yang dilakukan juga sekaligus melakukan edukasi terkait pola tanam yang sesuai. Seperti yang telah dilakukan para petani selama ini. Juga penyuluhan tentang penggunaan varietas padi umur pendek. Penentuan varietas ini menurutnya penting karena berkaitan dengan hasil budidaya yang diharapkan bisa lebih optimal di musim kemarau.

Tak hanya itu, tingkat porositas tanah yang tinggi juga memicu hilangnya air lebih cepat. Dispertabun selalu menekankan petani agar memasukkan bahan organik selama perawatan tanaman.

“Pemanfaatan bahan organik diharapkan bisa meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air,” jelas Anang. Termasuk penekanan pada petani padi agar menerapkan budidaya dengan metode system of rice intensification (SRI) yang lebih menghemat air ketika kemarau seperti ini.

Disinggung terkait sekolah lapang yang telah diberikan kepada kelompok tani, ia menegaskan bahwa setiap tahun selalu ada. Namun lokasinya berbeda dan materi menyesuaikan kebutuhan.

Sejauh ini sekolah lapang bermanfaat bagi petani di sejumlah daerah. Meskipun secara umum petani sudah mampu memperkirakan jenis tanaman apa yang cocok dia tanam. Apalagi juga ada bantuan berupa benih dan alat mesin pertanian (alsintan) yang semakin mempermudah petani dalam tindak budidaya.

“Solusi tersebut atas kesepakatan kementerian, dinas dari provinsi dan kabupaten sebagai upaya menghadapi kekeringan ini. Namun semua tetap melihat kondisi spesifik wilayah masing-masing,” papar Anang.

Tubi, petani dari Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, mengaku terbantu dengan bantuan pemerintah. “Ya Alhamdulillah pemerintah masih peduli, terutama untuk yang aktif di kelompok tani,” kata Tubi.

Bantuan yang pernah didapatkannya adalah berupa benih padi, jagung, dan tanaman lain. Termasuk alsintan berupa diesel untuk mencukupi irigasi di lahan yang memang sulit mendapat air. Di lahan miliknya, kini air irigasi sulit didapatkan kecuali dengan cara memanfaatkan air tanah. Cara tersebut tentu saja dengan menggunakan mesin pompa air.

“Juga diberi pembelajaran cara budidaya tanaman. Menurut saya sangat bermanfaat,” imbuh petani yang akan menanam kacang tanah di lahan miliknya tersebut.

Sinergitas antara pemerintah dan petani menurutnya menjadi hal penting dalam menangani masalah pertanian selama ini. Sebab, Tubi menyebut, apabila petani mengalami kegagalan saat budidaya, otomatis akan berdampak pada pemerintah dan masyarakat luas. “Kalau petani tidak berhasil pasti pemerintah juga pusing,” pungkasnya.  

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia