Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Pembunuhan Budi: Penasihat Hukum Aris-Aziz Batal Ajukan Eksepsi

23 Agustus 2019, 15: 34: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

pembunuhan budi

BATAL KEBERATAN: Aziz dan Aris, dua terdakwa kasus pembunuhan Budi Hartanto berjalan menuju ruang sidang. Mereka batal mengajukan eksepsi dalam sidang kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Sidang kedua kasus pembunuhan Budi Hartanto berlangsung singkat kemarin (22/8). Dimulai pukul 14.00 WIB, sidang di Ruang Cakra itu sudah ditutup 15 menit kemudian. Sidang berlangsung singkat karena penasihat hukum (PH) dua terdakwa ternyata tak jadi mengajukan eksepsi.

“Kami batal mengajukan eksepsi yang mulia,” ucap Taufik Dwi Kusuma, PH dua terdakwa kasus tersebut, setelah majelis hakim mempersilakan membacakan nota keberatan mereka.

Mendengar jawaban itu majelis hakim kemudian berpaling kepada jaksa penuntut umum (JPU). Yaitu agar sidang diteruskan dengan pemeriksaan saksi-saksi. Ternyata, dua JPU, Moch. Iskandar dan Tommy Marawanto, juga belum siap menghadirkan saksi. Sebab, mereka mengira PH tetap membacakan nota eksepsinya kemarin.

Ketua Majelis Hakim M. Fahmi akhirnya memutuskan menutup sidang. Dan menyebutkan sidang akan kembali digelar Kamis (29/8) minggu depan. Namun, sebelum menutup, Fahmi sempat menanyakan jumlah saksi yang akan dihadirkan jaksa.

Menurut JPU, untuk sidang pemeriksaan saksi yang pertama, mereka akan menghadirkan tiga orang. Namun mereka belum membeberkan siapa saja saksi kasus pembunuhan yang menyeret Aris Sugianto, 23, dan Aziz Prakoso, 34, sebagai terdakwa itu.

Sementara itu, ditemui usai sidang, keputusan membatalkan pembacaan eksepsi merupakan strategi penasihat hukum. Menurut Taufik, mereka ingin melihat reaksi dari pihak penasehat hukum keluarga korban. “Melihat situasi dan perkembangan. Kami membuat strategi baru dengan mencaput pernyataan pada sidang pertama,” terang Taufik setelah persidangan.

Untuk sidang selanjutnya, Taufik mengaku akan mengevaluasi saksi-saksi yang didatangkan oleh JPU. Meskipun masih lama, pihak kuasa hukum Aziz dan Aris juga telah menyiapkan saksi yang meringankan. “Meskipun sulit kami tetap mengusahakan (mendatangkan saksi meringankan),” imbuhnya.

Kasus pembunuhan Budi Hartanto merupakan salah satu kasus yang menyita perhatian besar dari masyarakat. Sebab, pembunuhan tenaga honorer di salah satu SD negeri di Kota Kediri tersebut disertai dengan tindakan mutilasi oleh dua pelakunya. Kejadian yang berlangsung April lalu itu dipicu masalah hubungan sesama jenis. Versi terdakwa, usai berhubungan badan dengan Aris, salah seorang terdakwa, korban marah-marah karena tak diberi uang seperti yang dijanjikan. Kemarahan itu memicu pertengkaran yang menyeret Aziz yang saat itu juga berada di lokasi, di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo. Hingga akhirnya berujung pada tewasnya korban.

Setelah korban meninggal, dua terdakwa berencana membuang mayat tersebut. Dengan lebih dulu memasukkan ke koper agar mudah dibawa. Namun, koper tersebut tak cukup memuat seluruh tubuh korban. Akhirnya, keduanya memotong bagian kepala. Kemudian memasukkan ke kresek hitam dan membuangnya di daerah Kras.  Sedangkan bagian tubuh tetap dimasukkan di koper. Kemudian dibuang di wilayah Udanawu, Kabupaten Blitar.

Kasus ini terbongkar hanya beberapa hari setelah penemuan tubuh di Udanawu. Yang tertangkap pertama kali adalah terdakwa Aziz, warga Desa Ringinrejo, Kecamatan Ringinrejo. Kemudian dari pengakuannya diketahui satu pelaku lagi adalah Aris, warga Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Dalam sidang pertama, di dakwaan yang dibacakan, JPU memasang tiga pasal. Pasal primer adalah pasal 338 KUHP, susider pasal 351 ayat (3) KUHP jo pasal 55 Ayat (1) ke 1 KUHP. Dan lebih subsider  pasal 365 ayat 4 KUHP jo pasal 55 ayat (1) KUHP.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia