Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

- Umplungan -

22 Agustus 2019, 16: 52: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

- Umplungan -

Share this          

Berita Terkait

Tong kosong nyaring bunyinya. Terong gosong nikmat rasanya. Itu hasil uthak-athik gathuk Dulgembul jika sedang keluar kota. Ya harap maklum, di luar tlatah Kadhiri ini, ndak mudah nemu sego tumpang yang enaknya sak ndonya. Maka, terong gosong pun menjadi huenakk rasanya.

Perut kelaparan kadang memang memunculkan ide-ide cerdas seperti itu. Sebab, sensor SOS dalam tubuh dan pikiran menjadi bekerja. Uthak-athik gathuk atas paribasan Dulgembul itu muncul akibat perpaduan dua masalah. Pertama, karena keluwen. Kedua, karena geregetan sama Matumuk, kawannya, yang ke mana-mana demenan-nya umuuukk thok. Apalagi jika sudah ketemu sama kawan satunya lagi, Matgacor. Dua-duanya sak shio. Cocok iwak endog. Tumbu ketemu tutup.

Jangankan tiga-empat jam, mbok mulai buka sampai tutup warung Mbok Dadap, dua orang itu betah saja duduk di sana sambil omong ngalor-ngidul ndak jelas jluntrung-nya. Yang ndak betah ya Mbok Dadap. Lha wong berjam-jam duduk di sana, seringkali pesennya cuma secangkir kopi. Nyego tumpang saja ndak. Padahal, sego tumpang Mbok Dadap terkenal enaknya sak ndonya. “Sakitnya tuh di sinii…!,” bisik si Mbok sambil nggeget-nggeget gigi dan memukul-mukul dadanya.

Bagi pengunjung-pengunjung baru warung Mbok Dadap, Matumuk sama Matgacor sering dianggap orang yang tau banyak hal. Bagaimana tidak, semua masalah bisa dikomentari. Bukan cuma pulitik –bahan yang paling renyah buat umuk atau nggacor—tapi juga sembarang kalir. Mulai dari perang dagang Amerika versus Tiongkok di tingkat global sampai lombok larang yang bikin bingung emak-emak penyuka masakan pedas di tingkat lokal.

“Wong pinter lo kuwi…,” kata Matndlahom kepada Dulsowak yang sama-sama terpesona jika Matumuk dan Matgacor sudah bicara. Begitu juga bila membaca status-status mereka berdua. “Waaaw…!” “Woooww…!” “Waaaw…!” “Woooww…!” Begitu saja ucapan yang keluar dari mulut Ndlahom dan Sowak yang segera menjadi follower Umuk dan Gacor.

 Tapi, bagi Dulgembul yang sudah hafal kelakuan keduanya, lebih baik nyisih jika bertemu. Pilih duduk di pojok lain sambil tham-them sego tumpang lauk peyek dan trasi dele. “Timbangane kuping panas,” ucapnya. Lha wong kalau sudah genap seminggu menyimak, obrolan Matumuk dan Matgacor itu seperti kaset yang diputar ulang. Muter-muter gituuuu saja. Apalagi kalau sudah berbulan-bulan bahkan tahunan. “Mending dengar Via Vallen, bisa joget-joget,” katanya lagi.

Itu Dulgembul lho yang komentar. Lain lagi Kang Noyo yang rada-rada mambu sekolahan. Dia tahu betul yang dibicarakan Matumuk dan Matgacor kelasnya cuma judul-judul berita saja. Dan, itu bisa dikulak gratis lewat layar HP berapa pun banyaknya. Isinya? Itu masalahnya. Hampir ndak ada. Ibarat aliran sungai yang terlihat deras karena banyak riak airnya. Tapi, begitu njegur, dalamnya cuma sedengkul.

Melimpahnya informasi di genggaman tangan memang cenderung membuat orang ingin tahu semuanya. Secepat-cepatnya. Itu yang lantas juga membuat orang malas untuk menggali informasi sedalam-dalamnya. Kalau membaca ya cukup judul-judulnya saja. Kalaupun terpaksa, cukup satu-dua alinea pertama. Sebab, informasi-informasi lain sudah mengantre untuk dibaca pula.

Gitu itu, komentarnya sudah bisa panjang lebar. Bahkan, seolah lebih tau daripada yang menuliskan informasinya. Juga, paling benar. Sehingga, pantas dinobatkan sebagai bagian dari yang ‘maha benar netijen dengan segala koment-nya’. 

Yang ngeri kalau Matumuk dan Matgacor sudah ketemu Yu Lamis. Halah…omongan yang isinya sak senti bisa jadi tambah berkilo-kilo panjangnya.

“Ngene lo, Yu. Kasus itu pasti terjadi karena bla..bla..bla.. Sebab, tidak mungkin kalau bla..bla..bla.. Jadi, kita di sini juga harus antisipasi. Jika tidak, pasti akan bla..bla..bla..”

Dasar Yu Lamis, analisis yang ndak jelas gitu sudah bisa jadi bahan buat rasan-rasan waktu belanja bareng tetangga di bakul ethek. “Begini lo, Jeng.. Kita juga harus melakukan bla..bla..bla..jika tidak ingin seperti itu. Masak sampeyan rela kalau bla..bla..bla..”

Parahnya, rasan-rasannya ndak cuma pas tatap muka. Tapi, juga lewat dinding-dinding dunia maya. Nyetatus. Yang, kualitasnya kaleng-kaleng. Alias umplungan. Yang kalau ditendang sana-sini suaranya sangat berisik. Yang jangankan menghibur, apalagi membikin ketawa, bisa-bisa malah menimbulkan luka dan menyalakan bara.

Status umplungan seperti itu, rasanya, tidak mungkin lahir dari mereka yang suka baca. Bukan hanya judulnya. Tapi juga isinya. Sedalam-dalamnya. Makanya, benarlah jika Mas Abu sampai bilang, “Stop Omong Ngalor-Ngidul! Banyak Baca, agar Pikiran Tidak Tumpul…! (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia