Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Petani di Kediri: Siasati Kemarau dengan Tanam Melon

20 Agustus 2019, 18: 25: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

kekeringan kediri

KERING: Petani di Kelurahan Bujel, Mojoroto memanfaatkan air menggunakan diesel di musim kemarau. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Pemerintah menyarankan petani melakukan langkah strategis dalam menghadapi musim kemarau. Yaitu melakukan rotasi tanaman dan mengikuti asuransi pertanian. Dua hal itu dinilai bisa menjadi cara untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen di musim kemarau. Terutama di lahan-lahan yang selama ini berstatus tadah hujan.

Saran itu meluncur dari Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Anang Widodo. Menurutnya, kegagalan panen memang menjadi momok setiap musim kemarau. Terutama petani-petani yang lahannya hanya mengandalkan air hujan untuk irigasi. Karena itu pihak dispertabun sudah menyarankan agar petani di lahan rawat kekeringan melakukan dua hal utama. Rotasi tanaman dan ikut asuransi pertanian.

“Melalui sekolah lapang petani telah diberikan pengetahuan terkait iklim dan pengaturan pola tanam,” sebut Anang.

Sekolah lapang tersebut dipandu oleh petugas penyuluh lapang (PPL) yang telah tersebar di seluruh kecamatan. Anang menyebut bahwa sekolah lapang ditujukan bagi para petani agar bisa mempersiapkan diri. Terutama untuk memperkirakan cuaca dan melakukan pola tanam.

“Prediksi ini dibedakan menjadi dua. Yaitu daerah dengan irigasi baik dan kurang baik,” terangnya.

Anang kemudian memberi contoh daerah yang irigasinya kurang baik. Yaitu di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung. Karakteristik lahan di desa ini mengandalkan tadah hujan saja. Ketika kemarau seperti sekarang ini petani bisa melakukan dua hal. Bisa melakukan rotasi komoditas dengan menanam jagung. Atau membiarkan tanah selama satu musim tanam. 

Pembiaran tanah itu, yang diistilahkan dengan bero, juga berfungsi ganda. Bisa mengurangi biaya produksi karena petani tak melakukan penanaman. Juga bisa untuk menyuburkan tanah yang akan menguntungkan di musim tanam berikutnya.

Cara itu tentu saja tak perlu dilakukan di daerah-daerah dengan sistem irigasi yang lebih baik. Yang tidak termasuk daerah tadah hujan. Wilayah seperti ini seperti di daerah bawah seperti wilayah Kecamatan Grogol dan Banyakan. Kedua kecamatan itu berdekatan dengan sungai. Para petani di dua wilayah itupun tak perlu melakukan rotasi tanaman padi dengan yang lain.

Berbeda dengan daerah yang sistem irigasinya kurang baik. Seperti di daerah lereng Gunung Kelud dan Wilis. Nah, di lokasi itu Anang menyarankan petani melakukan rotasi. Bisa dengan jagung, kacang tanah, atau tanaman palawija lain saat musim kemarau. “Karena tanaman tersebut tidak membutuhkan banyak air,” dalihnya.

Lalu, soal asuransi? Menurut Anang, asuransi penting bagi petani yang lahan pertaniannya rawan terjadi puso atau gagal panen. Baik yang dilanda kekeringan atau justru kebanjiran. Karena dengan asuransi itu petani bisa mendapatkan perlindungan selama proses budidaya.

“Biaya asuransi hanya Rp 36 ribu per hektare. Dengan klaim mencapai Rp 6 juta per hektare apabila terjadi gagal panen,” jelasnya.

Saat ini, pemerintah memang mengantisipasi kegagalan panen dengan mengikutkan petani pada asuransi. Hanya, asuransi itu ditujukan pada mereka yang mendaftarkan lahan budidayanya ke dispertabun. Bila ingin mendapatkan ganti rugi saat gagal panen, petani tersebut harus lebih dulu mendaftar fasilitas asuransi pertanian yang telah menjadi program pemerintah sejak 2013 tersebut.

“Dengan asuransi ini, harapannya apabila puso (gagal panen, Red) atau terdampak bencana alam paling tidak biaya produksi  bisa tertutupi dan tidak merugikan petani,” pesannya.

Sementara itu, nasib petani di Kota Kediri juga tak berbeda jauh dengan di wilayah kabupaten. Sejumlah petani harus melakukan rotasi tanaman. Yaitu dengan menanam buah-buahan. Seperti melon atau semangka. Seperti yang disampaikan Jauhar, petani asal Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Menurutnya, menanam melon saat ini jauh lebih menguntungkan.

“Lebih tanah saat ditanam musim panas (kemarau, Red),” ujar petani yang memiliki lahan di Kelurahan Pojok ini.

Meski demikian, petani di sana telah bersiap-siap dengan mengantisipasi ancaman kekurangan air di Kelurahan Pojok. Caranya dengan sistem buka tutup kran.

Selain untuk kebutuhan sehari-hari, juga untuk kebutuhan pertanian, petani yang dari wilayah atas harus menutup saluran untuk kebutuhan budidayanya. Sementara petani di wilayah bawah disarankan untuk memakai diesel dalam memenuhi kebutuhan air irigasi mereka.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia