Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Politik

BPCB: Sarankan Pemugaran Candi Klotok dan Bentuk Jupel

Aset Potensial Wisata Sejarah Kota Kediri

20 Agustus 2019, 18: 15: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

cagar budaya

WISATA SEJARAH: Wajah Candi Klotok setelah ekskavasi beberapa waktu lalu. Candi ini berpotensi sebagai cagar budaya dan jujukan wisata di Kota Kediri. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri - Penemuan Candi Klotok akan menjadi senjata baru bagi Pemkot Kediri di sektor pariwisata. Candi tersebut bisa menjadi destinasi wisata yang potensial. Selain rencana pengembangan city tour jelajah kawasan sejarah.

Karena itulah pemkot berupaya menggali kekayaan peninggalan purbakala yang ada di kawasan tersebut. Salah satu fokusnya adalah penggalian informasi terkait peninggalan sejarah Candi Klotok. Bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, pemkot menegaskan bahwa kawasan yang ada di wilayah Wisata Gua Selomangleng tersebut memiliki potensi yang luar biasa.

“Kawasan sejarah di lereng Gunung Klotok ini luar biasa. Salah satunya Candi Klotok yang bisa menjadi paket wisata sejarah di samping Gua Selomangleng dan Museum Airlangga yang sudah ada,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Nur Muhyar.

Menurut Muhyar, keberadaan Candi Klotok yang diekskavasi dua tahun ini menambah kekayaan peninggalan purbakala di Kota Kediri. Terutama di kawasan barat sungai yang selama ini juga dirancang dalam tata ruang sebagai kawasan wisata.

Ia menyebut, daerah tersebut memang perlu mendapat perhatian lebih. Sebab nilai sejarah yang ada sangatlah tinggi. Bahkan tak hanya Candi Klotok saja yang bisa dikembangkan. Peninggalan lain yang ada di sekitarnya juga memiliki potensi serupa. Seperti Gua Selobale, Gua Padedean, struktur candi lain di sekitar Candi Klotok, dan juga dugaan bekas petirtaan kuno yang ada di wilayah Lebak Tumpang.

Lebih lanjut, Muhyar menyebut bahwa keberadaan salah satu bukti sejarah yang ada di Kota Kediri itu bisa menjadikan sarana edukasi bagi masyarakat. Terutama pengetahuan tentang fungsi dari candi hingga arsitek yang digunakan. “Bisa menjadi media pembelajaran dan menambah wawasan masyarakat tentang sejarah Kota Kediri selama ini,” paparnya.

Sementara, terkait pengembangan Candi Klotok yang baru selesai diekskavasi, Arkeolog Bidang Perawatan dan Penyelamatan BPCB Jatim Nonuk Kristiana menyampaikan bahwa pemugaran Candi Klotok sangat diperlukan. Hal itu untuk melindungi bagian-bagian candi agar tetap kukuh. Meskipun pemugaran tersebut tak bisa sepenuhnya dilakukan untuk membuat candi dalam keadaan utuh seperti pertama dibuat.

“Kalau kita berbicara masalah pemugaran maka kita tidak bisa melakukan secara sempurna. Tidak bisa memugar secara utuh,” jelasnya.

Pemugaran tersebut nantinya sebatas fisik yang ada saat ini. Misalkan badan candi hanya terbatas di ketinggian tertentu, berarti hanya ketinggian tersebut yang bisa dilakukan pemugaran. “Selebihnya tidak bisa diperbaiki (dipugar, Red),” imbuhnya.

Pihak BPCB sebelumnya mendorong Pemkot Kediri untuk membentuk juru pelihara (jupel) Candi Klotok. Menyusul telah selesainya proses ekskavasi. Temuan bangunan bersejarah tersebut harus benar-benar dijaga dan dirawat setelah diekskavasi tahun ini.

Nonuk mengungkapkan, pemeliharaan itu sangat penting. Apalagi setelah terlihat potensi data arkeologis candi ke permukaan tanah. “Maka kelanjutannya, yang utama adalah PR pemerintah kota untuk melakukan pemeliharaan,” terangnya.

Pemeliharaan tersebut baik untuk lingkungan maupun pemeliharaan struktur candi. Termasuk keharusan membentuk juru pelihara. “Karena kalau sudah seperti ini ya mendesak. Keberadaan juru pelihara itu harus ada untuk menjaga benda purbakala beserta lingkungannya,” ungkap Nonuk.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia