Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Supardi dan Upayanya Mempertahankan Grup Kesenian Ludruk Prajamukti.

Tergerak Wasiat Perangkat Harus Bisa Ludrukan

20 Agustus 2019, 17: 57: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

ludruk kunjang

EKSIS: Supardi, Toha, Suwari, dan Supono, usai berlatih ludruk di Balai Desa Kuwik, Kecamatan Kunjang. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Di sela-sela kepadatan tugasnya sebagai perangkat desa, Supardi punya pekerjaan yang mulia. Berusaha mempertahankan kelangsungan kesenian tradisional ludruk di desanya. Banyak tantangan yang dia dapatkan.

 

Siang itu, jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Alunan suara gamelan terdengar dari Balai Pertemuan Desa Kuwik, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri. Iramanya rancak. Dimainkan oleh niyaga (penabuh gamelan) grup kesenian ludruk Prajamukti. Gending yang sekaligus menjadi pembuka pagelaran ludruk.

Minggu Inspiratif Radar Kediri

Minggu Inspiratif Radar Kediri (radarkediri.id)

Dari balik backdrop yang digunakan sebagai latar belakang panggung pementasan ludruk tersebut, muncul empat lelaki pelakon ludruk. Mereka bertindak sebagai pelawak yang saat itu memerankan lakon sejarah Desa Kuwik. Keempatnya adalah Muhammad Toha, Supono, Suwari, dan Supardi.

Memang, aktivitas berkesenian ludruk sering digunakan di balai pertemuan seluas 10 x 20 meter ini. Bahkan, boleh disebut menjadi lokasi latihan rutin. “Kami rutin latihan ludruk di sini (balai desa, Red) sebagai upaya uri-uri budaya Jawa,” kata Supardi, pembina grup ludruk Prajamukti.

Menurut Supardi, ludruk yang didirikan pada 1974 ini sudah mengalami pergantian nama sebanyak tiga kali. Grup ludruk ini awalnya didirikan oleh almarhum Syafi’i Kartosoewirjo dengan nama Prajamukti. Kemudian pada 1979 berganti nama menjadi Setia Muda. Kemudian, pada 1982 berganti nama lagi menjadi Karyajaya. Akhirnya, pada 2017 kembali berganti nama seperti semula, menjadi Prajamukti.

“Karena pada saat itu mendiang menginginkan regenerasi pemain baru dengan cara berganti nama,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Supardi mengungkapkan, saat ini dirinya menginginkan mempertahankan kearifan lokal dengan memasukkan sejarah Desa Kuwik dalam cerita lakon ludruk tersebut. Selain itu, pihaknya juga ingin seluruh masyarakatnya sadar untuk tetap uri-uri kesenian ludruk sebagai ciri khas Desa Kuwik.

“Saya berharap, brand satu-satunya desa yang masih mempertahankan ludruk di Kediri raya tetap melekat pada Desa Kuwik,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai kepala Urusan Perencanaan Desa Kuwik ini.

Yang menarik, kelompok ludruk Prajamukti ini masih eksis sampai saat ini karena salah satu wasiat yang disampaikan sang pendiri, mendiang Syafi’ Kartosoewirjo. Sosok itu juga pernah menjabat sebagai kepala Desa Kuwik selama tiga periode.

“Saat itu, mendiang menginginkan seluruh perangkat desa wajib bisa memainkan ludruk ini,” kenangnya.

Karena itulah setiap ada pemilihan kades, syarat agar uri-uri kesenian ini selalu ada. Seperti, para calon kades harus memiliki visi misi yang terkait dengan kelangsungan hidup kesenian ludruk tersebut.  

Perangkat Desa Wajib Jadi Pemeran

Untuk menumbuhkan minat warga agar ikut uri-uri kesenian tradisional ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh pemantik agar masyarakat bisa tergerak mempertahankan kearifan lokal. Terbukti, salah satunya upaya yang dilakukan oleh perangkat desa Kuwik, Kecamatan Kunjang ini berbuah hasil.

“Kami mewajibkan seluruh perangkat desa harus bisa main ludruk. Itu sudah menjadi harga mati wasiat dari pendiri ludruk ini (grup ludruk Prajamukti). Lambat laun warga juga banyak yang ikut," ungkap Supardi.

Sebelum meninggal, sang legenda pendiri ludruk ini memang menuliskan wasiat. Isinya ya seperti itu, yang berisi mewajibkan perangkat desanya harus bisa bermain ludruk. Kebetulan, sang pendiri adalah kepala desa yang memerintah hingga tiga periode.

“Saat itu memang Desa Kuwik sudah menjadi pelopor dan gudangnya pemain ludruk. Dan saat ini kami hanya ingin menyampaikan amanah itu kepada masyarakat dengan cara uri-uri ludruk yang sudah menjadi warisan luhur nenek moyang kami,” terangnya.  

Upaya itu sekaligus sebagai senjata menghadapi kemajuan zaman yang semuanya serba online seperti sekarang ini. Karena itu, selain menjalankan roda pemerintahan desa, para perangkat tersebut wajib latihan ludruk  setiap minggu.

 “Ini sebagai salah satu ikhtiar kami untuk uri-uri kesenian ludruk peninggalan nenek moyang kami. Perangkat desanya saja main ludruk, (karena itu) warga saya pun juga harus ikut uri-uri,”  harapnya.

Dalam catatan sejarah, grup kawakan ludruk Prajamukti ini pernah mengukir sejarah manis pada masanya. Tercatat, sejak 1974, kelompok ludruk yang saat ini mencoba diteruskan oleh generasi ketiga ini sudah pernah melalang buana hingga seantero Nusantara. “Kami sudah pernah mengisi keliling di Jawa Timur, bahkan pernah diundang untuk mengisi pentas ludruk di TMII Jakarta,” urainya.

Kini, para pegiat ludruk Prajamukti ini pun mencoba mengejawantahkan dalam bentuk yang lebih dinamis. “Saat ini kami mencoba memadukan cerita yang lebih mengangkat kearifan lokal desa dengan cerita yang lebih modern agar tidak ditinggalkan,” harapnya.

Yang menarik, mereka yang saat ini mencoba untuk melanjutkan uri-uri kesenian ludruk itu adalah generasi ketiga dari para pendirinya. “Jadi semua pemain yang tersisa ini kebanyakan adalah penerus dari orang tuanya dulu,” ucapnya.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia