Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

17 Napi Diusulkan Dapat Remisi

20 Agustus 2019, 17: 40: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

narapidana lapas

PESAKITAN: Narapidana Lapas Kelas IIA Kediri memasuki gerbang dalam usai mengikuti persidangan. Sebagian dari mereka akan mendapat remisi bebas hari ini. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Tujuh belas narapidana (napi) Lapas Kelas IIA Kediri bisa bebas pada 17 Agustus. Dengan catatan usulan pihak lapas agar mereka mendapat remisi Kemerdekaan RI disetujui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM). Bila persetujuan tersebut turun, belasan napi itu akan menghirup udara bebas setelah upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan RI di Stadion Brawijaya, 17 Agustus 2019.

Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan (Kasi Binadik) Putu Suwarsa mengatakan, pihak lapas telah mengusulkan 17 warga binaan pemasyarakatan (WBP) agar mendapat remisi umum (RU) II. Namun, belum seluruhnya disetujui oleh Kemenkum HAM. “Masih belum turun suratnya. Sementara yang sudah disetujui ada empat narapidana,” terang Putu.

Biasanya, jelas Putu, kepastian soal remisi itu akan diberikan malam hari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan. Kemudian, pada pagi harinya, akan diumumkan. Yaitu bertepatan dengan upacara bendera di Stadion Brawijaya.

Sementara itu, selain mengusulkan 17 napi mendapat remisi langsung bebas, pihak lapas juga mengusulkan ratusan napi lainnya. Namun, mereka diusulkan mendapatkan RU I, yaitu pengurangan hukuman. Total yang diusulkan mendapat RU I tersebut adalah 476 napi.

“(Pengurangannya) mulai satu hingga enam bulan masa hukuman,” terangnya.

Dari total 848 penghuni Lapas Kelas IIA Kediri, 355 napi tak memenuhi syarat untuk mendapatkan remisi. Kemudian, juga ada 22 WBP yang memang waktunya bebas sebelum 17 Agustus. Juga, ada 89 orang yang hingga kemarin belum menjalani masa tahanan selama enam bulan.

Selain itu, ada WBP yang sudah divonis oleh majelis hakim namun mendapatkan pidana kurang dari enam bulan. Sehingga mereka tidak diberikan remisi umum. Ada pula 42 orang WBP yang tidak memperoleh remisi karena menolak menjadi justice collaborator (JC). “(Hal itu) juga sudah diatur dalam PP Nomor 99 Tahun 2012 yang mengatur tentang remisi dan pembebasan bersyarat,” terang Putu.

Khusus seorang WBP yang berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB) tak mendapatkan remisi. Sebab, napi yang jadwalnya bebas pada April 2022 tersebut merupakan terpidana kasus terorisme.

Selain itu juga ada WBP yang tidak mendapatkan remisi. Mereka adalah terpidana koruptor atau narkotika yang mempersulit dalam pengungkapan kasus. Yang bersangkutan juga dinilai melanggar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2012.

Untuk diketahui, dari 848 penghuni Lapas Kediri, terdapat 606 WBP yang terlibat dalam pidana umum dan 242 WBP pidana khusus. Mereka yang terjerat pidana khusus itu terdiri dari 217 terjerat kasus narkoba, 22 terjerat kasus korupsi, satu WBP terorisme, dan dua orang WBP yang terjerat illegal logging.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia