Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Kemarau, Jagung Gagal Panen

19 Agustus 2019, 18: 50: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

kemarau

KERING: Seorang petani jagung di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung berada di tengah tanaman jagungnya yang gagal panen akibat kekurangan air. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Sebagian petani mulai merasakan dampak dari musim kemarau ini. Mereka bahkan harus menerima kenyataan gagal memanen tanaman pertaniannya. Tanaman tersebut mengering karena kekurangan air.

Salah satu wilayah yang terdampak seperti itu ada di lahan pertanian Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung. Di tempat ini petani menanam jagung. Sayang, karena kurangnya ketersediaan air membuat tanaman budidaya itu tak mampu tumbuh optimal. Batang dan daunnya mengering. Tongkol buah yang muncul pun tak berisi bulir jagung. Akibatnya, mereka pun gagal panen.

Padahal, di desa ini tanaman jagung menjadi andalan di musim kemarau seperti sekarang ini. Menggantikan cabai yang sudah mengalami panen raya di akhir musim hujan dua bulan lalu.

“Memang hanya jagung yang bisa diandalkan saat musim kemarau,” kata Puji Santoso, petani asal desa tersebut saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Puji menerangkan, ketika musim kemarau seperti ini, lahan pertanian di desanya tak bisa ditanami sayuran. Penyebabnya adalah ketersediaan air yang sangat terbatas. Kondisi topografi di daerah pegunungan seperti Kebonrejo membuat air irigasi di sana sulit didapatkan petani.

Sebenarnya masih ada sumber air yang bisa diandalkan. Tapi, menurut Puji, sumber air itu untuk kebutuhan air bersih keperluan rumah tangga. Sedangkan untuk pertanian petani hanya mengandalkan air tadah hujan dan juga memanfaatkan embung desa. “Tapi embung hanya digunakan di daerah pertanian wilayah atas saja. Itu untuk cadangan kalau kemarau panjang,” paparnya.

Selain mengandalkan embung, alternatif lain adalah suplai air dari PDAM. Hanya saja, fasilitas tersebut jarang digunakan petani. Hal itu karena biaya untuk membeli air di PDAM tak murah. “Satu bulan bisa habis sekitar Rp 1 juta,” ungkapnya.

Para petani sebenarnya sudah melakukan upaya alternatif. Yaitu rotasi tanaman dari sayuran ke palawija. Tahun ini rotasi dilakukan awal Juni. Saat itu, desa yang menjadi sentra cabai merah di Kabupaten Kediri ini untuk pengairan lahan. Sayang, hasilnya tak sesuai harapan. Tanaman jagung hampir seluruhnya mengalami kekeringan. Membuat para petani terpaksa panen dini atau justru tak panen sama sekali.

“Banyak yang dijual tebon (batang jagung, Red) untuk pakan ternak,” katanya.

Kini, petani di Kebonrejo hanya bisa pasrah. Mereka menunggu musim hujan yang diperkirakan baru turun Oktober. Para petani memilih membiarkan lahannya menganggur selama 1-2 bulan ke depan. “Setelah itu mulai tanam cabai lagi,” lanjutnya.

Sementara itu, dari data potensi kekeringan yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, Kebonrejo menjadi salah satu desa yang berpotensi kekeringan. Salah satu dari sembilan desa dengan potensi sama. Namun, desa-desa itu punya karakter kekeringan berbeda-beda. Ada yang kehabisan sumber air bersih atau kurangnya saluran irigasi. Pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri menegaskan telah memproses program bantuan antisipasi krisis air bersih di sembilan desa tersebut.

Menurut Randy, desa-desa tersebut berada di empat kecamatan yang tersebar di timur maupun barat sungai. Potensi paling banyak justru berada di wilayah timur sungai. Yakni di Kecamatan Kepung, Kandangan, dan Puncu. Sedangkan yang di barat sungai berada di Kecamatan Semen.

Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Anang Widodo menegaskan, wilayah Desa Kebonrejo memang daerah yang sulit mendapat air. Hal itu karena tidak adanya sumber air langsung di desa tersebut. “Karakternya memang kering dan wilayah tadah hujan,” ujar Anang.

Bahkan ia menyampaikan, saat kondisi tidak kemarau ekstrem seperti ini pun petani sudah kesulitan air. Meski telah ada embung desa, namun embung tersebut untuk antisipasi cabai di daerah atas. “Untuk di bawahnya belum ada tambahan air,” tambahnya.

Sementara di bagian bawah, Anang menyebut bahwa Pemkab telah membantu dengan pompa dan sumur pantek. Termasuk imbauan untuk rotasi tanaman. Seperti solusi yang ditawarkan kepada petani. Anang menegaskan bahwa petani bisa mengatur rotasi tanaman, instalasi perpipaan jika ada sumber air, juga membuat sumur solar cell,

“Dan bantuan benih untuk mengurangi losses petani, terakhir dengan penawaran asuransi (asuransi pertanian, red) untuk petani,” jelasnya.

Terakhir, Anang menekankan, daerah kering seperti wilayah Desa Kebonrejo lebih baik diberokan (tidak ditanami atau dibiarkan) dahulu. Selama kondisi bero, bisa dilakukan olah tanah untuk meningkatkan kesuburan tanah. “Daripada memaksakan diri yang pada akhirnya biaya produksinya semakin tinggi,” pesan Anang.

Menurutnya, proses olah tanah dengan bahan organik akan lebih bermanfaat, di mana pada musim tanam depan bisa meningkatkan produksi dan pada akhirnya diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia