Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Sehat atau Mati

19 Agustus 2019, 18: 41: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Fauzan Adima

Fauzan Adima (radarkediri.id)

Share this          

Setiap 17 Agustus bangsa Indonesia selalu memperingati hari kemerdekaan republik ini. Kemerdekaan merupakan kunci kemakmuran dan kesejahteraan. Maka kemerdekaan menjadi jembatan emas untuk mewujudkankan kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Tidak ada kemakmuran dan kesejahteraan tanpa kemerdekaan.

Karena itu, 17 Agustus 1945 menjadi momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia. Jika sebelumnya bangsa ini hidup di bawah penjajahan Belanda dan Jepang, sejak itu bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, bebas, dan mandiri.

Itu sebagaimana tercantum dalam amanat Pembukaan UUD 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Karena itulah, kemerdekaan wajib disyukuri sebagai anugerah dan nikmat dari Allah SWT.

Setelah merdeka, langkah berikutnya untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat adalah dengan pendidikan dan kesehatan. Tidak mungkin rakyat akan makmur dan sejahtera kalau tubuhnya sakit-sakitan atau terganggu kesehatannya. Dengan kata lain, kita harus merdeka dari penyakit. Merdeka dalam arti bebas dari penyakit dengan mau menjaga kesehatan, agar tidak jatuh sakit.

Mengatasi masalah kesehatan masih menjadi sebuah tantangan serius di Indonesia. Kini setidaknya masih ada triple burden atau tiga masalah kesehatan penting terkait pemberantasan penyakit infeksi, bertambahnya kasus penyakit tidak menular, dan kemunculan kembali jenis penyakit yang seharusnya telah berhasil diatasi. Bahkan beban BPJS Kesehatan untuk menanggulangi biaya pengobatan semakin tahun semakin meningkat. Kalau seperti demikian dapatkah kita katakan bahwa Indonesia sudah merdeka dari penyakit? Pasti belum. Lantas kapan Indonesia akan merdeka dari penyakit?

Berbagai upaya dan program pemerintah dalam mengisi kemerdekaan bidang kesehatan sudah tak terhitung banyaknya. Akan tetapi tingkat keberhasilannya masih menjadi tantangan besar. Seberapa banyak pun program kesehatan yang ada, tanpa peran serta aktif dari masyarakat akan sulit tercapai.

Saat ini negara juga sudah punya sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebagai wujud memerdekakan rakyat dari pembiayaan kesehatan. Akan tetapi, seberapa lama biaya pengobatan tersebut mampu ditanggung oleh negara jika jumlah penderita penyakit semakin hari semakin banyak dan biaya pengobatan juga semakin mahal?

Maka, salah satu cara untuk memerdekakan diri dari penyakit adalah dengan menerapkan PHBS alias Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Sebagai gerakan bersama untuk hidup sehat, ini merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan. Pemerintah telah mencanangkan pula Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Perubahan pola hidup masyarakat yang semakin modernlah yang menjadi salah satu dasar pencanangan gerakan itu. Dulu, penyakit menular seperti diare, tuberkulosa hingga demam berdarah menjadi kasus kesehatan yang banyak ditemui. Namun, kini, telah terjadi perubahan yang ditandai dengan banyaknya kasus penyakit tidak menular seperti diabetes (kencing manis), kanker, dan jantung koroner.

Germas adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk memasyarakatkan budaya hidup sehat serta meninggalkan kebiasaan dan perilaku masyarakat yang kurang sehat. Aksi Germas ini juga diikuti dengan memasyarakatkan perilaku hidup bersih sehat dan dukungan untuk program infrastruktur dengan basis masyarakat.

Program ini memiliki beberapa fokus seperti membangun akses untuk memenuhi kebutuhan air minum, instalasi kesehatan masyarakat, serta pembangunan pemukiman yang layak huni. Ketiganya merupakan infrastruktur dasar yang menjadi fondasi dari gerakan masyarakat hidup sehat.

Kalau dulu di masa-masa perjuangan pekik “Merdeka atau Mati” menjadi penyemangat rakyat untuk bebas dari penjajah, maka sudah saatnya sekarang sebagai penyemangat untuk bebas dari penyakit kita pekikkan “Sehat atau Mati…!” (dr Fauzan Adima MKes, kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia