Jumat, 20 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Modus Gandakan Uang, Warga Semarang Ngaku Bos GG

19 Agustus 2019, 18: 30: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

menggandakan uang

TERDAKWA: Suswanto keluar dari ruang Candra setelah menjalani persidangan kasus penipuan di Pengadilan Negeri Kota Kediri. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Perbuatan Suswanto, 35, warga Semarang, benar-benar tak terpuji. Mengaku bos PT Gudang Garam (GG), dia menipu Dewi Pujiati, 32, warga Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren. Modusnya, bisa menggandakan uang.

          Apesnya, aksi Suswanto akhirnya terkuak. Dia tertangkap massa saat membawa kabur uang korbannya. Polisi kemudian memprosesnya secara hukum. Hingga kemarin (15/8), pria yang pernah bekerja sebagai sopir bus itu disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jujun menghadirkan Dewi selaku saksi korban. Di hadapan majelis hakim yang diketuai Sulistyo Muhammad Dwi Putro, perempuan pemilik warung kopi di Blabak tersebut membeberkan kasus penipuan yang menimpa dirinya.

Itu setelah majelis hakim meminta keterangan. “Bagaimana terdakwa (Suswanto) kenal dengan saudara?” tanya Sulistyo.

Dewi pun mengatakan, mengenal pria itu karena sering ngopi di warungnya. Penampilannya rapi. Bersepatu dengan celana dan kemeja formal dan berdasi. “Dia mengaku sebagai bos perusahaan Gudang Garam,” kata ibu satu anak ini.

Pada 24 Mei 2019 sekitar pukul 15.00, Dewi mengungkapkan, Suswanto meyakinkan dirinya bisa menggandakan uang. Demi membuktikannya, Suswanto meminta agar disediakan tas plastik untuk media penggandaan uang.

Setelah itu, dia menyuruh Dewi mengambil kerikil. Katanya, batu kecil itu sebagai perantaranya. Ketika ambil kerikil, tanpa sepengetahuan Dewi, Suswanto memasukkan uang Rp 2 ribu di dalam plastik. Jumlahnya sebanyak 11 lembar.

Kemudian, dia menyuruh Dewi memasukkan kerikilnya ke dalam plastik. Sejenak setelah itu, Suswanto pura-pura melakukan ritual. Selanjutnya bungkusan plastik dibuka. Dewi sontak kaget melihat di dalamnya ada lembaran uang asli.

Dia pun percaya terdakwa mampu menggandakan uang.

“Saat itu, saya langsung terkejut dan percaya karena setelah dibuka uang bertambah banyak,” ungkap pemilik warkop itu.

Mengetahui korbannya yakin, Suswanto melanjutkan aksinya. Dia lalu meminta uang pada Dewi agar bisa digandakan lebih banyak. Dewi langsung menyerahkan uang Rp 1,45 juta. Dua cincinnya ikut diberikan.

Setelah itu, Suswanto kembali menyuruh Dewi mengambil kerikil. Saat itulah Suswanto memasukkan uang dalam sakunya. Lalu menggantinya dengan lembaran kertas. Dewi lantas disuruh menunggu. “Katanya uang saya masih melayang di angkasa dan akan jatuh di salah satu bank. Kemudian dia (Suswanto) pamit untuk mengambil uang tersebut di bank. Tapi sampai 30 menit tidak kembali,” bebernya. Ketika itulah Dewi baru menyadari telah tertipu.

Makanya, dia pun lapor ke polisi. Warga yang mengetahui kejadian ini turut mencari Suswanto. Berbekal nomor polisi (nopol) motor yang diingat Dewi, massa akhirnya menemukan penipu itu masih berada di sekitar Blabak. Mereka langsung menangkapnya. Lalu diserahkan ke polisi.

Selain Dewi, JPU juga menghadirkan saksi Hendri Hariono dari Polsek Pesantren. Ia mengungkapkan, sebelum polisi melakukan penangkapan, warga sekitar sudah mengamankan terdakwa terlebih dahulu.

“Saat itu, kami dihubungi Bhabinkamtibmas karena terjadi tindak pidana penipuan,” ungkapnya.

Akibat perbuatannya, terdakwa dikenakan pasal 378 KUHP tentang Penipuan. Setelah sidang selesai, hakim mengetuk palunya dan menyatakan, persidangan dilanjutkan minggu depan dengan agenda tuntutan.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia