Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Pemdes Siapkan Anggaran Khusus Kembangan Kesenian

19 Agustus 2019, 18: 20: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

anugerah desa puncu

ATRAKTIF: Para seniman bantengan menunjukkan kepiawaiannya menari bantengan ketika menyambut tim juri Anugerah Desa di halaman kantor Desa Gadungan, Kecamatan Puncu. (Mahfud - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Banyaknya potensi kesenian tradisional di Desa Gadungan, Kecamatan Puncu benar-benar diperhatikan pemerintah desa (pemdes). Totalnya ada 17 kelompok yang sudah terdata di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri. Itu baru separo dari kesenian tradisional yang sebenarnya ada di desa.

“Sebagian besar kesenian bantengan,” jelas Sekretaris Desa Herry Cahyono saat presentasi di depan tim penilai Anugerah Desa, kemarin pagi.

Karena itu, desa memberikan fasilitas berupa kegiatan untuk menampung penampilan para seniman tersebut. Termasuk mengadakan festival bantengan yang mampu menyedot perhatian masyarakat yang kebetulan digelar kemarin.

Tak hanya itu, terang Herry, desa juga menyiapkan anggaran khusus terhadap pengembangan kesenian. Totalnya sektiar Rp 10 juta. Bantuan pembinaan dan pemberian kostum juga jadi bentuk perhatian pemerintah.

Tingginya potensi inilah yang mendorong pemerintah desa mengajukan diri mengikuti Anugerah Desa kategori pelestarian kesenian tradisional. Desa yang sudah dua kali meraih predikat terbaik itu pun siap bersaing dengan desa-desa lain di kategori sama.

Jika Desa Gadungan memilih pelestarian kesenian tradisional, berbeda dengan dua desa lain di Kecamatan Plosoklaten. Seperti di Desa Pranggang yang memilih program inovasi pengelolaan lingkungan di Sumber Sumbersongo. Di sana menjadi tempat pemeliharaan ikan konsumsi dalam keramba.

“Program ini sudah berjalan selama lebih dari tiga tahun,” terang Kepala Desa Pranggang Mashari. Lokasi yang sebelumnya hanya mangkrak itu pun dimanfaatkan untuk mengembangkan ikan konsumsi.

Jika sebelumnya, anggota yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) ini hanya berjumlah 4 unit, dalam waktu dua tahun telah bertambah menjadi 30 unit. Keuntungan pun berlipat.

Tak hanya itu, lokasi ini juga diproyeksikan akan menjadi tempat wisata andalan desa. “Saat ini masih terus diusahakan dengan menambah sejumlah fasilitas,” terangnya.

Sementara Desa Gondang mengandalkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Rondo Kuning Gondang untuk masuk program pemberdayaan perempuan. Kepala Desa Nuris Tianto sudah cukup lama konsentrasi mengembangkan tanaman organik. Hingga akhirnya diserahkan ke KWT untuk menjalankan. “Sekarang kami telah sewa lahan khusus untuk pengembangan labu madu,” terangnya.

Selain itu, sejumlah tanaman organik juga digarap khusus oleh KWT. Tak hanya di pekarangan, tetapi juga di beberapa titik untuk pusatnya. Yang menarik, ada tanaman organik khusus yang hendak dijadikan branding desa. Yaitu tanaman Sawi Pagoda. “Sudah banyak yang pesan,” terangnya.

Harapannya, dengan program yang berjalan ini, akan bisa membuat menambah penghasilan bagi para ibu-ibu.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia