Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Temukan Mangkok Abu Jenasah Era Majapahit

Kuatkan Dugaan Ngronggot Bekas Kampung Kuno

16 Agustus 2019, 14: 26: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

benda purbakala

JEJAK SEJARAH: Tim disparporabud mengecek temuan benda kuno di sepanjang aliran sungai Brantas, Desa Kelutan Papar yang diserahkan warga tiga hari lalu. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGRONGGOT, JP Radar Nganjuk - Belasan benda bersejarah kembali ditemukan di tepi sungai Brantas, Kecamatan Ngronggot. Yang terbaru, dinas pariwisata, pemuda, olahraga dan kebudayaan (disparporabud) mendapatkan mangkuk untuk menyimpan abu jenazah dari warga setempat.

              Kasi Sejarah, Seni, Tradisi, dan Kepurbakalaan Disparporabud Amin Fuadi mengatakan, semua temuan benda kuno ini adalah peninggalan era Majapahit. “Beberapa temuan ada yang baru, bentuknya masih bagus,” ujar Amin sembari menyebut benda kuno itu berada di sepanjang aliran sungai Brantas di Desa Kelutan, Ngronggot.

          Setidaknya ada 12 benda yang telah ditemukan warga. Jumlah itu terdiri dari perangkat lelayon pada masa Majapahit. Mayoritas tempat menyimpan abu jenazah dengan berbagai bentuk. Ada pula keramik Tiongkok yang berbentuk mangkuk. “Mangkuk ini biasa untuk tempat minum di abad ke-14,” lanjut Amin.

Ada pula jun atau tempayan tempat air yang berukuran kecil dan besar. Warga di aliran Brantas juga menemukan peralatan menggoreng dari tanah liat dan sabit.

Amin menuturkan, temuan benda-benda tersebut memperkuat dugaan yang pernah disampaikan oleh Arkeolog Puslit Arkenas beberapa waktu lalu. Mereka menyebut sepanjang bantaran Brantas mulai Desa Trayang sampai Desa Juwet, Ngronggot merupakan perkampungan kuno yang cukup padat dan besar. “Ditambah temuan bangunan Patirtan yang juga di Ngronggot, ini semakin jelas kalau di Ngronggot ini bekas kampung kuno,” terang Amin.

Amin menambahkan, belasan benda-benda tersebut sebenarnya sudah lama ditemukan oleh warga. Tetapi, mereka takut dan enggan mengeluarkannya. Namun, setelah dilakukan pendekatan melalui perangkat desa, warga desa mulai sadar dan mau memberikannya kepada disparporabud.

          “Sebagian temuan ada yang sudah satu tahun lalu, mereka baru melaporkan ke kami tiga hari lalu,” imbuh Amin sembari menyebut disparporabud juga memberi imbal jasa kepada warga yang telah menemukan benda kuno tersebut.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia