Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
PERSEDIKAB

Muslim Habibi, Mantan Pemain yang Kini Pelatih Persedikab Kediri

Bangkit setelah Berbagi dengan Tim Tarkam

15 Agustus 2019, 17: 55: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

muslim habibi persedikab

KEMBALI BERAKSI: Muslim Habibi bersiap untuk melatih tim Persedikab Kediri. Dia telah mendapat lisensi kepelatihan Februari lalu. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

 Cedera kaki parah pada 2017 memaksa Muslim Habibi gantung sepatu dini. Sempat terpuruk, ia pun berusaha bangkit. Kembali ke lapangan hijau sebagai pelatih sepakbola.

ANDHIKA ATTAR, Kabupaten, JP Radar Kediri

Wajah Muslim Habibi terlihat tegang. Dari pinggir lapangan Canda Bhirawa, Pare, ia mengamati pertandingan dengan seksama. Persedikab Kediri, tim yang dibesutnya, sedang berlaga melawan Persikoba Batu, Jumat (9/8) lalu.

Sesekali Habibi meneriaki pemainnya. Memberikan komando dengan mimik serius. Gerak tangannya seakan tak ingin kalah. Dengan gesit, memberikan tanda agar pemainnya tak melupakan transisi bermain. Antara menyerang dengan bertahan.

Kecintaannya terhadap sepak bola tak perlu dipertanyakan lagi. Baik saat masih bermain dahulu, maupun sekarang sebagai pelatih. “Sejak kecil saya sudah suka sepak bola,” aku pria kelahiran 1995 tersebut.

Bahkan Habibi kecil sampai dibawakan dua pasang seragam sekolah oleh orang tuanya. Pasalnya setiap jam istirahat, dia pasti bermain sepak bola. Hingga keringatnya pun mengucur deras. Beruntung orang tuanya pengertian. Ia pun dibawakan seragam untuk ganti.

Namun kecintaan sempat pupus. Hilang tak berbekas di hatinya. Bahkan bisa dikatakan ia sudah antipati dengan sepak bola. Jangankan untuk bermain, melihat tayangan pertandingan di layar kaca pun sudah eneg.

Masa-masa itu terjadi tiga tahun lalu. Saat Habibi masih menjadi penggawa tim sepak bola asal Madura. Tackling keras yang dilakukan pemain PSBK Blitar membuat tulang kering kedua kakinya patah.

“Waktu itu saya benar-benar tidak mau lagi berurusan dengan sepak bola. Melihat pertandingan Liga Champions Eropa saja tidak mau,” ungkap pria asli Kediri tersebut.

Pertengahan hingga akhir tahun 2017 menjadi saat paling berat dalam karir sepak bola dan kehidupannya. Dihantui depresi berat, Habibi pun mati-matian mengembalikan dunianya seperti sedia kala. Nasihat dari orang tuanya menjadi salah satu percikan semangatnya kembali.

Habibi pun sedikit demi sedikit keluar dari belenggu yang menaunginya. Hingga suatu ketika di awal tahun lalu, dia mencoba kembali ke lapangan hijau. Namun bukan untuk bertanding. Akibat cedera itu, ia memutuskan mengakhiri karirnya sebagai pemain sepak bola.

Habibi sendiri mencoba membagikan pengalaman yang didapatkannya selama menjadi pemain sepak bola kepada para remaja di Desa Doko, Kecamatan Ngasem. Tanpa dibayar alias gratis. Bisa dikatakan tim amatir Desa Doko itulah yang menjadi awal karirnya sebagai pelatih. Meski sejatinya Habibi belum memiliki latar belakang atau keilmuan dalam kepelatihan.

Di sinilah semesta mulai menunjukkan cara kerjanya. Dari tim tarkam tersebut, Habibi pun ditunjukkan jalan menjadi seorang pelatih. Gayung bersambut, hatinya terbuka dengan kesempatan baru itu. Pada April tahun lalu, ia mulai mengambil lisensi D sebagai pelatih. Kemudian, Oktober 2018 melanjutkan mengambil lisensi C-AFC. “Februari kemarin baru turun lisensinya. Benar-benar baru saya dalam dunia kepelatihan ini,” ungkap fans Setan Merah tersebut.

Meski begitu, beberapa manajemen mempercayakan timnya untuk dibesutnya. Antara klub Triple’s, Tim Porprov Kabupaten Kediri, hingga akhirnya kini menjadi pelatih kepala Persedikab Kediri. “Saya sampai sekarang masih tidak percaya dipasrahi memegang klub dengan sejarah panjang seperti Persedikab ini,” ungkap pria 24 tahun tersebut.

Menjadi pelatih di usianya tersebut seringkali membuat kakinya ‘gatal’. Habibi gemas ingin masuk ke lapangan untuk ikut bertanding. Maklum, beberapa klub pernah dibelanya. Bahkan ia mendapat kesempatan uji coba di Persija Jakarta.

Kerinduannya mengolah si kulit bundar itu akhirnya disalurkan saat latihan. Tak jarang Habibi ikut bermain dengan anak asuhnya. Melepaskan rindu sembari menjalin kedekatan dengan pemain-pemainnya. Jarak umur Habibi dengan anak asuhnya pun tak terpaut jauh. Bahkan, Yayan Ardi, salah satu pemain senior di skuad Bledug Kelud, justru delapan tahun lebih tua darinya.

Dengan kondisi tersebut, Habibi tak merasa canggung. Ia dan para pemainnya berusaha profesional ketika di lapangan. Dia tak mewajibkan pemainnya memanggil dengan sebutan “coach”. Bahkan, Yayan yang lebih tua darinya memanggilnya cukup dengan nama saja.

“Tidak ada masalah bagi saya. Tidak pernah saya meminta dipanggil coach atau sejenisnya. Yang penting kita semua saling menghormati dan tahu porsinya masing-masing,” tuturnya bijak.

Di usia yang masih muda, Habibi telah banyak merasakan naik–turunnya kehidupan. Banyak pengalaman dan pelajaran yang dapat dipetik untuk menjadi lebih baik. Seperti apa yang selalu dipercayainya. Tidak ada orang sukses jika terus mengingat keterpurukan.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia