Minggu, 15 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Tak Tahan Sedih, Ibu Korban Mutilasi di Kediri Histeris

14 Agustus 2019, 18: 26: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

mutilasi

TERISAK: Hamidah menangis histeris setelah mengikuti persidangan kasus pembunuhan anaknya, Budi Hartanto, di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

  KABUPATEN, JP Radar Kediri – Sempat tertunda, sidang perdana kasus mutilasi Budi Hartanto, 28, guru tari asal Tamanan, Mojoroto akhirnya digelar, kemarin (13/8). Agendanya pembacaan dakwaan. Dua terdakwanya, Azis Prakoso, 23, warga Jalan Merak, Desa/Kecamatan Ringinrejo, dan Aris Sugianto, 34, warga Desa Mangunan, Udanawu, Blitar tampak tenang.

Berbeda dengan kondisi Hamidah, 47, ibu Budi, yang turut menghadiri persidangan di ruang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri tersebut. Semula dia terlihat tenang selama jaksa penuntut umum (JPU) membacakan dakwaannya.

Tetapi saat sidang selesai, ibu tiga anak ini tak mampu membendung kesedihannya. Tubuhnya lunglai. Beberapa anggota keluarganya harus membantu memapahnya berjalan lantaran Hamidah tampak lemas. Begitu berada di luar sidang, dia spontan menangis histeris.

pembunuhan budi

TERDAKWA: Azis Prakoso dan Aris Sugianto mendengar dakwaan JPU dalam sidang perdana mereka di ruang Cakra PN, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

“Anakku dipateni karo lading landep (anakku dibunuh dengan pisau tajam),” ujar Hamidah terisak. Dia pun segera ditenangkan oleh kerabat keluarganya.

Heri Santoso, penasihat hukum (PH) keluarga Budi, turut memberi dukungan moril. Dia menghadiri persidangan mendampingi Hamidah. “Dari dakwaan yang dibacakan, dapat diketahui bahwa pembacokan (dilakukan saat korban) dalam kondisi hidup,” terang Heri.

Menurutnya, terdakwa Aziz dan Aris harus dihukum setimpal dengan mengenakan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Sanksi pidana maksimalnya adalah hukuman mati.

Selama persidangan, Aziz dan Aris didampingi empat penasihat hukum. Yaitu, Taufiq Dwi Kusuma, Khoirul Lutfi Ashari, Moh. Karim Amrulloh, dan Wawang Satriya Kusuma. Sedangkan tim JPU terdiri atas M. Iskandar dan Zanuar Irkham. Secara bergantian mereka membacakan surat dakwaan.

Seperti diberitakan, pembunuhan Budi terjadi pada 2 April 2019. Sebelum kejadian, dia sempat cekcok dengan Aris. Aziz berusaha melerai. Namun, situasi justru tak terkendali. Budi disebut mengayunkan bendo (senjata tajam sejenis pisau besar) kepada Aziz. Hingga terjadi saling rebut.

“Aziz berhasil merebut dan menguasai bendo itu. Lalu, membacok ke arah Budi sebanyak dua kali,” terang Iskandar.

Meski telah dibacok, Budi masih bisa berteriak. Maka Aris membekap mulutnya dengan kain. Pembacokan dilakukan Aris dan Aziz bergantian hingga kepala Budi terlepas dari badannya.

Kepala Budi dimasukkan tas kresek lalu dimasukkan kardus. Sedangkan tubuh guru honorer SDN Banjarmlati 2 ini dimasukkan koper.  Untuk menghilangkan jejak, kepala dan tubuh Budi dibuang di lokasi terpisah.

Aris juga membakar pakain Budi di rumahnya di Desa Udanawu. Uang Budi Rp 600 ribu dibagi rata berdua. Setelah menghilangkan bukti, Aris dan Aziz memisahkan diri.

Dalam dakwaannya, JPU menerapkan pasal berlapis. Pertama, pasal 338 KUHP jo pasal 55 ayat (1) KUHP. Kedua, pasal 351 ayat (3) KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, dan ketiga, pasal 365 ayat 4 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Setelah JPU membacakan dakwaan, majelis hakim yang diketuai M. Fahmi Hary Nugroho memberi kesempatan Aris dan Aziz menanggapi. “Kami akan mengajukan eksepsi Yang Mulia,” terang PH Taufik.

Namun karena belum siap, hakim menunda sidang. Selanjutnya, dijadwalkan Kamis (22/8).

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia