Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Winarko dan Binti, Pasutri Difabel Produksi Aneka Kerajinan Sikat

Mampu Rekrut Karyawan

14 Agustus 2019, 18: 15: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

difabel kediri

PANTANG MENYERAH: Winarko dan Binti mengolah bahan untuk membuat kerajinan sikat di rumahnya, Desa Bangkok, Kecamatan Gurah, kemarin. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Keterbatasan fisik tak merintangi Winarko dan Binti Isrowiyah berwirausaha. Mereka mengembangkan kerajinan aneka sikat. Pemasarannya sampai ke luar daerah. Bahkan mampu merekrut tenaga kerja dari penyandang disabilitas.

DWIYAN SETYA NUGRAHA, JP Radar Kediri

Terik matahari siang itu (13/8) tak menyurutkan semangat pasangan suami istri (pasutri) penyandang disabilitas ini. Mereka tinggal di RT 03/RW 03 Desa Bangkok, Kecamatan Gurah.

Sesosok pria terlihat duduk di kursi tamu dekat pintu sambil memotong kayu yang sudah diukurnya. Kepada wartawan koran ini, ia mengenalkan diri bernama Winarko. “Saya dibantu istri membuat kerajinan ini,” ucap pria yang biasa dipanggil Narko tersebut.

Di ruangan berukuran 6 x 3 meter, Narko yang tinggal bersama sang istri, Binti Isrowiyah, sedikit terbantukan. “Dalam keterbatasan fisik seperti ini, saya agak susah jika mau mengambil alat-alat produksi,” ungkapnya sambil memotong beberapa kayu.

Meskipun memiliki keterbatasan fisik, namun Narko tetap kuat dalam setiap gerakannya untuk memapah kayu. Bahkan mampu memotong kayu untuk bahan pembuat kerajinan sikat itu. Kebanyakan pelanggannya menyukai sikat dengan bulu tebal. “Makanya kami buat agak kuat-kuat di bagian tongkat sikatnya. Ini agar bersih ketika sekali disikat,” terangnya.

Sehari-hari Narko bekerja dibantu istrinya yang juga mengalami keterbatasan fisik. Meski begitu, hasil kerajinan yang dikerjakannya tak terpengaruh dengan kekurangan itu. Bahkan dalam satu bulan, pasutri ini bisa menghasilkan sampai 800 sikat dalam segala bentuk.

“Alat (sikat) ini, sudah ada agen yang mengambil tiap minggu. Ada juga beberapa sales dari luar kota yang mengambil barang dari kami,” urainya.

Waktu itu, Narko pernah bekerja dalam bidang yang sama sebagai buruh kerajinan pembuat sikat. Namun, beberapa tahun kemudian ia dikarunia anak dan membuatnya tak fokus. “Setelah kami dikarunia anak, akhirnya kami nekat buka usaha sendiri meski tak ada modal saat itu,” akunya pada Jawa Pos Radar Kediri.

Awalnya Narko kesulitan mendistribusikan barang-barangnya melalui direct selling. “Semula kami door to door menggunakan motor yang kami modifikasi roda empat,” paparnya.

Tak berhenti di situ, hambatan-hambatan dalam mengiringi distribusi produknya pun terus berlanjut. Saat itu, Narko sempat diragukan kualitas barang produksinya. Namun berkat kegigihannya dalam meyakinkan konsumen akhirnya membuahkan hasil.

Salah satu agen terpikat dengan hasil produksi barang yang dikerjakannya. “Saat itu memang barang saya dihargai murah, namun saya tetap terima karena mereka (agen) sanggup untuk mengambil tiap hari,” terang bapak dua putra ini.

Yang unik, dalam pembuatan kerajinannya Narko sama sekali tidak memiliki alat canggih. Bahkan untuk memotong kayu pun harus memahat. “Sebenarnya bahaya dalam kondisi fisik seperti ini, tapi bagaimana lagi memang terbatas keadaannya,” paparnya.

Dalam aktivitasnya itu, Narko dibantu empat karyawan. Yang menarik, ia lebih memprioritaskan karyawan yang memiliki keterbatasan fisik seperti dirinya. “Kami memprioritaskan karyawan yang memiliki fisik yang sama seperti saya. Kami ingin membuktikan bahwa disabilitas bukan sampah masyarakat, namun juga bisa produktif,” tegasnya.

Dalam satu hari, Winarko dan Binti mampu membuat puluhan kerajinan aneka sikat. Bahkan, ia mampu mendistribusikan barangnya hingga ke luar daerah. Di antaranya seperti ke Surakarta, Jawa Tengah. Omzet yang ia dapatkan berkisar Rp 1,5 juta per bulan.

“Alhamdulillah, saya juga bisa menggaji karyawan meski dengan omzet kecil,” aku Winarko.

Dalam menjalankan aktivitas kerjanya, Narko menggunakan alat bantu tongkat kruk. Kini ia berharap mendapatkan perhatian pemerintah untuk mendampingi dan mengembangkan usaha kerajinannya. “Dulu pernah mendapatkan kaki palsu, namun buat saya tak nyaman saat bekerja,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia